Kajian Tematik Naskah Keagamaan Nusantara

Kegiatan Kajian tematik yang berfokus kepada bencana alam ini merupakan kegiatan yang penting untuk dilaksanakan di masing-masing pulau dan wilayah yang rentan bencana, seperti Maluku, Sulawesi, Bali, dan Sumatera. Selama ini, sudut kearifan lokal yang berbasis teks naskah belum menjadi perhatian pemerintah maupun lembaga-lembaga tertentu.

Berdasarkan alasan ini, Puslitbang LKKMO sesuai dengan tugas dan fungsinya mencoba mengambil peran dalam mengatasi kekosongan kajian dalam bidang ini. Sejak tahun 2017 peneliti Puslitbang LKKMO yang ditugaskan oleh Kepala Pusat melakukan penelitian di dua lokasi; Aceh dan Jawa Tengah. Sejumlah kearifan lokal terungkap untuk dua wilayah ini yang membedakan antara satu sama lainnya.

Pada tahun 2018 pelaksanaan penelitian difokuskan kepada empat lokasi, yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, dan Nusa Tenggara Barat. Ke empat lokasi ini, berdasarkan hasil kajian terdahulu rentan terhadap bencana alam dan menyimpan sejumlah naskah kuno. Temuan lapangan mengungkapkan masing-masing keunikan di daerah masing-masing, sebagaimana dielaborasi di bawah ini.

Temuan Lapangan

Kegiatan pada tahun ini telah menghasilkan beragam temuan terkait dengan bencana alam berdasarkan naskah kuno di empat daerah dimaksud. Hasil penelitian wilayah Sumatera Barat tentang naskah Syair Nagari Taloe Tarendam. Naskah berbahasa Latin, menggambarkan tentang peran penting ulama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Ulama sebagai tempat mengadu, konsultasi tentang segala persoalan kehidupan, termasuk soal bencana alam.

Baca juga :  Urgensi Pendidikan dan Usia Jemaah Calon Haji

Ketika bencana alam terjadi, masyarakat diajarkan keutamaan tentang kesabaran, dan juga dididik untuk melakukan suatu kebaikan, disiplin, sikap-sikap sosial kemanusiaan yang diisi dengan nilai-nilai agama. Ditekankan bahwa gempa adalah takdir, tapi tidak selalu harus berserah diri, ada penanganannya yaitu sholat lima waktu dan bersedekah. Sebaliknya bila masyarakat meninggalkan agama, maka gempa itu akan terjadi kembali.

Naskah bencana alam dari Nusa Tenggara Barat menjelaskan bahwa Lombok banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar, hal ini mempengaruhi cara pandang mereka terhadap letusan gunung merapi berdampak pada terjadinya gempa lalu tanah longsor dan akhirnya terjadi banjir.

Gunung Rinjani sebelum meletus sangat tinggi sehingga disebut sebagai pasak bumi. Pulaunya kecil, tapi gunungnya tinggi dan besar. Pada abad ke-13 sudah ada orang Prancis melakukan riset di sana, dan menemukan bahwa letusan terjadi setelah Majapahit.

Ada 6 naskah yang diteliti, yaitu: Naskah Pelinduran, Naskah Cilinaya, Takepan Doyan Nada, Takepan Suwung, Babad Lombok dan Naskah Dewi Anjani. Keenam naskah tersebut mengandung ajaran-ajaran tentang cara mengatasi gempa, ramalan gempa, dan pelajaran akan pentingnya menepati sebuah janji serta kesediaan untuk menghargai kearifan lokal dengan melaksanakan hal-hal positif.

Dalam manuskrip bencana alam Banten diungkapkan bahwa salah satu letusan gunung merapi yang dahsyat adalah letusan gunung Krakatau yang terjadi 27 Agustus1883, tsunami dengan gelombang yang tinggi. Bencana alam dalam manuskrip berisikan tentang letusan Kakatau yang hebat.

Baca juga :  Kesiapan Kelembagaan di Daerah dalam Pelayanan Sertifikasi Halal

Isi naskah tentang catatan gempa. Ada naskah ramalan gerhana: apa yang terjadi bila ada gerhana di bulan-bulan tertentu, misalnya bila terjadi dibulan Muharam tanda banyak fitnah, orang miskin. Berikutnya ada juga naskah kedutan: ulama sudah secara rigid menjelaskan arti makna kedutan misalnya kedutan di alis kiri artinya akan melihat kekasih.

Ada juga ditemukan tradisi lisan pada masyarakat Banten terkait bencana alam, misalnya sebelum terjadi bencana alam ada tanda-tanda dari hewan, masyarakat merasa cemas, dan tradisi tolak bala/ upacara ruwatan juga dikenal di sana.

Untuk memahami fenomena alam di Jawa Barat, tampaknya orang-orang terdahulu lebih cenderung menggunakan pendekatan pendekatan kultural dibanding pendekatan scientific. Hal ini tampak dari pernyataan dan jawaban mereka terhadap terjadinya bencana alam. Ada anggapan kalau musibah itu sudah merupakan sebuah takdir, tanah nenek moyang harus dipertahankan, meskipun itu merupakan daerah yang rawan bencana.

Karena bencana itu takdir, maka tidak perlu dihindari, pendekatan kultural masih dominan, sehingga shelter seringkali tidak berfungsi. Naskah Cara karuhun sunda memitigasi bencana merupakan ramalan gempa. Dalam naskah tersebut diajarkan sikap patuh pada amanat leluhur, harmoni alam, tidak mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan sehingga bencana alam dapat dicegah, dan perlu melihat topography hutan.

Naskah kedua adalah warugan lemah. Naskah ini memberi pengetahuan bagaimana memilih lokasi tanah yang baik, cocok untuk ditempati. Misalnya untuk membangun candi, ada cara memilih tanah yang bagus, tanah digali satu meter dan diisi air, jika cepat kering, berarti banyak pasir, kalau lama berarti ada banyak batu, tanah kuat, cocok untuk tempat bangunan
candi.

Baca juga :  Kafe Halal: Identitas Agama dan Gaya Hidup Anak Muda di Era 4.0

Ada juga naskah bunga rampai milik Cirebon yang mengandung narasi-narasi mitigasi bencana. Masyarakat di pesisir pantai selatan tidak banyak memilih jadi nelayan. Pesisir utara lebih banyak karena di sana lebih damai. Ada semacam insting masyarakat dulu yang menyatakan bahwa wilayah pesisir selatan lebih rawan bencana sehingga mereka lebih banyak
memilih menjadi petani.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi:

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.