Kala Muslim Jawa Agendakan Slametan  di Belanda

Kata slametan mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, terlebih suku Jawa. Slametan sendiri merupakan bentuk budaya yang sudah mengakar di Jawa, mulai dari zaman dulu hingga sekarang. Namun, dalam fokus tulisan ini akan membahas tentang slametan komunitas Muslim yang ada di Belanda. Di mulai dari masyarakat Jawa yang melakukan imigrasi ke Belanda melalui Suriname. Tercatat kurang lebih 50.000 dari 299.700 keturunan Suriname yang tinggal di Belanda beragama Islam.

Terdapat sebuah kajian yang ditulis oleh Ichwan dalam jurnal Sharqiyyat yang berfokus tentang komunitas Muslim Suriname di Belanda. Ia membaginya menjadi tiga kelompok, Muslim Kejawen, Muslim Moderat, dan Muslim Reformis yang juga berimplikasi terhadap ritual slametan.

Kajian yang dilakukan secara partisifatif oleh peneliti guna menemukan data yang valid. Peneliti juga menghadiri beberapa acara slametan komunitas Muslim Jawa Suriname di Belanda, yaitu Sida Mulya dan Al-Jami’atul Hasanah. Wawancara juga dilakukan kepada Pak Naf’an Sulhan seorang pimpinan PPME (Persatuan Pemuda Muslim Eropa) yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam Belanda juga dengan komunitas Al-Jami’atul Hasanah.

Slametan Suran Komunitas Muslim Kejawen (Sida Mulya)

Ritual slametan sering kali dilakukan di kalangan komunitas Muslim Kejawen, baik slametan perseorangan maupun slametan organisasi.  Slametan perseorangan meliputi seluruh siklus hidup manusia, mulai kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian. Sedangkan slametan organisasi meliputi slametan berkaitan dengan datangnya bulan-bulan penting dalam Islam.

Baca juga :  Kajian Perkembangan Folklor Religi di Nusantara

Dengan wawancara yang dilakukan dengan informan bahwa komunitas Muslim Kejawen di Belanda masih meyakini terhadap manfaat dari seluruh slametan. Selain melakukan berbagai slametan, masyarakat Muslim Kejawen di Belanda juga selalu menyediakan sesajen. Hal ini dipengaruhi keyakinan mereka tentang para arwah dan makhluk halus lainnya. Termasuk slametan komunal lain yang disebut dengan “Bersih Desa” dipercaya dapat membersihkan wilayah mereka dari kekuatan supranatural yang tidak baik.

Proses ritual slametan suran yang mana pembacaannya menggunakan bahasa Arab. Petugas melakukan pembacaan doa dengan memulai salam berbahasa Arab. Kemudian dilanjutkan dengan dialek Jawa yang tanpa memandang kebenaran dalam tajwidnya dalam membaca huruf Arabnya.

Diawali dengan surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas. Dalam prosesnya ketika pemimpin doa mengajak untuk membaca surat al-Fatihah bersama, mereka menyahutinya hanya dengan meneriakkan kata “al-Fatihah” tanpa diikuti dengan membaca ketujuh ayatnya.

Slametan Oleh Komunitas Al-Jami’atul Hasanah “Aqiqahan”

Komunitas ini mempunyai karakter dari kelompok Reformis Moderat yang mana berupaya untuk mempertemukan ajaran Islam dan unsur tradisi Jawa. Seperti isu arah kiblat, mereka telah memperbarui pemahaman dan mengalihkan arah salat ke Timur. Begitu juga dengan ritual slametan yang dilakukan, mereka tetap menjalankan slametan akan tetapi dimodifikasi selaras dengan ajaran Islam.

Baca juga :  Strategi Penyusunan Kurikulum Darurat di Tengah Pandemi Covid-19

Parsudi Suparlan menyebutkan bahwa ketika masih di Suriname kelompok Reformis Moderat ini masih mempraktikkan penyiapan sesajen dan pembakaran kemenyan meskipun dengan pemaknaan yang berbeda (Suparlan, 1976). Akan tetapi, ketika mereka gabung bersama organisasi Al-Jami’atul Hasanah saat pindah ke Belanda mereka tidak lagi menyiapkan sesajen dan membakar kemenyan.

Pengakuan dari Pak Reksokarijo, seorang pengurus Al-Jami’atul Hasanah, mengakui bahwa kelompok ini masih melakukan ritual slametan, terutama dalam siklus kehidupan seseorang. Akan tetapi prosesi yang dilakukan berbeda dengan ritual slametan komunitas Muslim Kejawen. Baginya yang paling penting adalah niat yang ada dalam hatinya dan diucapkan dalam lisan.

Ritual slametan komunitas Al-Jami’atul Hasanah tidak lagi berniat untuk memberikan sajian kepada arwah dan makhluk supranatural lainnya. Karena menurut mereka jiwa-jiwa itu sudah tidak lagi mampu melakukannya. Dengan alasan itu mereka mengganti penyebutan ritual slametan dengan penyebutan lain seperti kajatan, tahlilan dan aqiqahan. Meskipun kadang-kadang masih ada yang menyebutnya dengan slametan.

Dalam prosesi ritual aqiqahan, yang mana peneliti juga mengikuti prosesinya, komunitas ini melakukannya dengan sederhana. Prosesi yang di lakukan yaitu pembukaan oleh seorang pemimpin komunitas, kemudian di lanjutkan dengan ungkapan terimakasih kepada seluruh undangan yang hadir, serta menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya ritual tersebut.

Bacaan dalam ritual aqiqahan adalah kalimah toyyibah “la ilaha illa Allah”. Kemudian dilanjut dengan membaca surah yasin  yang dipimpin oleh salah seorang anggota. Sebagaimana dalam ritual slametan yang lain, ritual aqiqahan ini diakhiri dengan doa bahasa Arab oleh petugas yang lain. Yang menjadi ciri khas aqiqahan yaitu pengguntingan rambut si bayi dan pemberian nama untuknya.

Baca juga :  Pandangan Pemeluk Kepercayaan terhadap Keputusan MK Tahun 2016

Di akhir tulisan, bahwa dalam pelaksanaan ritual slametan komunitas Muslim Jawa Suriname di Belanda tidak banyak mengalami perubahan. Beberapa perubahan yang terjadi hanya dipengaruhi oleh letak geografis dan tidak mempengaruhi esensi dari berbagai ritual yang dilakukan.[mnw]

 

*) Tulisan ini adalah rangkuman dari penelitian Moh Khusen yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2021.

Gambar ilustrasi: Umat Islam Indonesia dalam sebuah acara di Masjid Al Hikmah milik komunitas Indonesia di Den Haag (BBC)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.