Kapan Lebaran Idulfitri 2021?

Jawaban pasti atas pertanyaan di atas baru akan kita ketahui setelah pelaksanaan sidang isbat 1 Syawal 1442 H oleh Kementerian Agama pada Selasa (11/5) sore. Namun berdasarkan data-data mengenai keadaan hilal pada akhir Ramadan ini, kita bisa memprediksi kapan 1 Syawal 1442 H atau kapan lebaran Idulfitri 2021.

Penentu bergantinya bulan dalam kalender Hijriah adalah hilal. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah 189 menyatakan bahwa hilal adalah petunjuk waktu bagi manusia. Mengenai ayat ini, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya kemudian mengutip hadis Nabi yang menjelaskan tentang petunjuk waktu tersebut.

Rasulullah saw. bersabda:

جَعَلَ اللَّهُ الْأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ لِلنَّاسِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنَّ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا

“Allah menjadikan hilal sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia, maka berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya. Apabila awan menutupi kalian, sempurnakanlah bilangan menjadi tiga puluh hari.”

Berdasarkan hadis di atas, durasi satu bulan yang digunakan sebagai pedoman ibadah umat Islam berkisar antara 29 hari atau 30 hari. Hadis itu juga menyatakan bahwa bergantinya satu bulan ke bulan berikutnya, khususnya awal Ramadan dan Syawal, ditentukan melalui ketampakan hilal.

Tampak atau tidaknya hilal sebagai penentu masuknya bulan tersebut ditentukan melalui kegiatan rukyatul hilal yang dilakukan pada sore hari setiap tanggal 29 bulan Hijriyah.

Baca juga :  Mendekat pada Alam melalui Hilal

Apabila pada selepas magrib hilal terlihat, maka besoknya sudah masuk bulan baru, namun apabila tidak terlihat maka bulan tersebut harus digenapkan menjadi 30 hari. Untuk penentuan awal Syawal kali ini, rukyatul hilal akan dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2021 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1442.

Posisi Hilal pada 29 Ramadan 1442 H

Data hilal dari hisab kontemporer menunjukkan bahwa saat Matahari terbenam pada 11 Mei 2021 belum terjadi ijtima’. Ijtima’ akhir bulan Ramadan sebagai tanda kembalinya fase bulan sebenarnya baru terjadi pada tanggal 12 Mei 2021 pukul 01.59 WIB sehingga umur hilal di seluruh wilayah Indonesia pada 11 Mei 2021 berkisar antara -10 jam 32 menit di Papua hingga -7 jam 13 menit di Sabang.

Belum terjadinya ijtima’ menjadikan hilal telah terbenam lebih dahulu daripada Matahari. Karena hilal sudah terbenam lebih dahulu, maka saat Matahari terbenam pada 11 Mei 2021 di seluruh wilayah Indonesia posisi hilal berada di bawah ufuk.

Daerah dengan posisi hilal paling tinggi adalah Pelabuhan Ratu yaitu -4.37˚ dan paling rendah -5.61˚ di Jayapura.

Kemungkinan untuk Dilihat 

Meskipun rukyatul hilal untuk awal Syawal 1442 H baru akan dilaksanakan sore hari tanggal 11 Mei 2021, namun jatuhnya awal Syawal ini bisa diprediksi melalui posisi hilal dengan mengacu pada suatu kriteria tertentu. Salah satu kriteria kemungkinan terlihatnya hilal yang berkembang di Indonesia adalah kriteria imkanurrukyat.

Kriteria ini merupakan hasil rapat bersama menteri-menteri agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) yang digunakan untuk acuan dalam membuat penanggalan hijriah untuk keempat negara tersebut.

Baca juga :  Ini 82 Lokasi Rukyatul Hilal Awal Ramadan 2020

Menurut kriteria imkanurrukyat, hilal mungkin dilihat ketika memiliki tinggi minimal 2 derajat, elongasi minimal 3 derajat dan umur hilal minimal 8 jam pada saat terbenamnya Matahari di tanggal 29 bulan Hijriah.

Jika melihat data posisi hilal di atas, maka pada tanggal 11 Mei 2021 ini hilal belum memenuhi kriteria imkanurrukyat karena posisi hilal berada di bawah ufuk sehingga tidak memungkinkan untuk dilihat.

Oleh karena itu bulan Ramadan tahun ini harus di-istikmal-kan menjadi 30 hari dan awal Syawal akan jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021.

Masyarakat Indonesia insyaallah akan memulai hari raya Idulfitri tahun ini secara bersama-sama. Karena prediksi hasil rukyatul hilal sama dengan keputusan yang telah dikeluarkan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan konsep wujudul hilalnya. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *