Keistimewaan dan Amalan Hari Jumat Menurut Al-Ghazali

Menurut Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, terdapat keistimewaan dan keutamaan hari Jumat. Dalam bab adab al-jum’ah, Al-Ghazali menuliskan keistimewaan/keutamaan dan amalan sunnah pada hari Jumat yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan ibadah pada hari tersebut.

Keistimewaan Hari Jumat

Pertama, hari Jumat adalah hari raya umat muslim.

Kedua, dalam hari Jumat terdapat satu waktu yang tidak kita ketahui pastinya. Pada waktu ini jika seorang hamba meminta kepada Allah pasti akan terkabul. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda:

”Dalam hari Jumat itu terdapat waktu yang seorang hamba muslim tidak mengetahuinya dan adapun ia dalan keadaan sholat serta memohon sesuatu kepada Allah kecuali pasti Allah akan memberikan sesuatu tersebut.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Ketiga, hari Jumat adalah hari diciptakannya Nabi Adam As. Pada hari itu juga Nabi Adam dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari dalam surga.

Amalan Sunnah Hari Jumat

Pertama, mempersiapkan diri mulai dari malam hari Jumat dengan membersihkan pakaian, memperbanyak membaca tasbih dan istighfar. Karena malam Jumat juga memiliki keutamaan  yang sama seperti halnya hari Jumat.

Kedua, berniat puasa sunnah pada malam hari, tetapi puasa sunnah hari Jumat harus dibarengi dengan puasa pada hari sebelumnya (Kamis) atau sesudahnya (Sabtu). Karena jika seseorang melakukan puasa pada hari Jumat saja tanpa membarenginya dengan puasa pada hari Kamis atau Sabtu, maka hal itu tidak diperintahkan. Sebagaimana hadis Rasulullah:

”Janganlah salah satu dari kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali dengan hari sebelumnya atau sesudahnya.” (H.R Bukhari)

Ketiga, apabila telah terbit fajar shubuh, maka dianjurkan untuk melaksanakan mandi sunnah.

Keempat, memakai pakaian terbaik, serta dianjurkan untuk memakai pakaian yang berwarna putih. Pakaian yang berwarna putih merupakan pakaian yang paling disukai oleh Allah Swt.

Kelima, memakai wangi-wangian, mencukur bulu, memotong kuku, serta bersiwak.

Keenam, berangkat menuju masjid (untuk sholat Jumat) di waktu awal. Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa yang pergi ke masjid pada waktu awal, maka ia seakan-akan berkurban seekor unta. Barang siapa yang pergi ke masjid pada waktu yang kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi. Barang siapa yang pergi ke masjid pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor kambing. Barang siapa yang pergi ke masjid pada waktu keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam. Barang siapa yang pergi ke masjid pada waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Maka ketika imam telah keluar, lembaran (catatan amal) ditutup dan pena-pena diangkat, serta para malaikat berkumpul di sisi minbar mendengarkan dzikir.” (H.R Bukhari & Muslim)

Ketujuh, ketika telah memasuki masjid, jangan duduk terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat tahiyyatul masjid. Yang paling baik hendaknya melaksanakan sholat tahiyyatul masjid dengan empat rakaat, yang mana pada setiap rakaat membaca surat Al-Ikhlas sebanyak lima puluh (50) kali.

Dalam suatu hadits disebutkan bahwasannya orang yang melakukan hal tersebut ia tidak akan meninggal kecuali ia mengetahui atau diberitahui tempatnya di surga.

Imam Ghazali juga berkata himbauan agar tidak meninggalkan sholat tahiyyatul masjid walaupun saat itu khatib sedang berkhutbah. Dan termasuk dalam kesunnahan adalah membaca surah al-An’am, al-Kahfi, Tthoha, dan Tasin di empat rakaat sholat tahiyyatul masjid.

Apabila tidak mampu, maka cukup membaca surah Yasin, ad-Dukhan, as-Sajadah, al-Mulk. Dan jangan sampai pula kita meninggalkan membaca surat-surat tadi pada malam Jumat, karena surat-surat tersebut memiliki banyak sekali keutamaan. Tetapi, apabila tidak mampu untuk membaca surat-surat tersebut, maka cukup dengan memperbanyak membaca surat al-Ikhlas.

Kedelapan, memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Kesembilan, ketika imam sholat telah keluar, maka hendaknya berhenti berbicara serta menjawab adzan, kemudian mendengarkan khutbah. Apabila ingin memperingatkan seseorang yang sedang berbicara hendaknya dengan menggunakan isyarat, tidak menggunakan ucapan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa yang berkata pada temannya ‘diamlah’ sedangkan pada waktu itu imam sedang berkhutbah, maka sia-sia. Barang siapa yang sia-sia maka tidak ada Jumat baginya.” (H.R Bukhari & Muslim)

Kesepuluh, apabila telah selesai sholat Jumat, hendaknya tidak merubah posisi duduk dan tidak berbicara terlebih dahulu, akan tetapi membaca surat al-Fatihah 7 kali, surat al-Ikhlas 7 kali, surat al-Falaq 7 kali, dan surat an-Nass 7 kali. Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka ia akan mendapat penjagaan dari Allah sampai hari Jumat berikutnya serta terlindungi dari godaan setan. Setelah itu membaca doa:

اللهم ياغني ياحميد، يامبديء يامعيد، يارحيم ياودود، أغنني بحلالك عن حرامك، وبطاعتك عن معصيتك، وبفضلك عمن سواك

“Ya Allah yang maha kaya lagi maha terpuji, wahai dzat yang memulai, wahai dzat yang mengembalikan, wahai Dzat yang maha pengasih. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu, buakn yang haram. Cukupkanlah aku dengan taat kepada-Mu bukan maksiat kepada-Mu. Dan cukupkanlah aku oleh kemurahammn-Mu, bukan selain-Mu.”

Kesebelas, kemudian apabila telah selesai, disunnahkan sholat dua rakaat, atau empat rakaat, atau enam rakaat (cara melaksanakannya dua rakat dua rakaat). Masing-masing jumlah rakaat tersebut mempunyai periwayatan sendiri dari Rasulullan dengan hal/kondisi yang berbeda.

Keduabelas, menetap di masjid sampai Maghrib, atau minimal sampai Ashar. Pada waktu ini kita dianjurkan untuk selalu berdoa, bersholawat, serta memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk taqarrub kepada Allah.

Imam Al-Ghazali menganjurkan demikian supaya kita bisa mendapatkan sa’atun mubhamah (waktu yang tidak diketahui pastinya) yang di mana waktu tersebut apabila kita berdoa maka doa kita akan dikabulkan.

Ketigabelas, memperbanyak berdoa pada waktu-waktu mustajab, seperti ketika terbit, tergelincir, dan juga terbenamnya matahari, ketika khatib naik ke atas mimbar, dan ketika manusia-manusia hendak melaksanakan sholat.

Keempatbelas, bersedekah di hari Jumat walaupun hanya sedikit.

Demikian keistimewaan dan amalan sunnah pada hari Jumat. Wallahu a’lam.

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *