Apik dan Mendidik

Keistimewaan Kota Mekah: Memang Haji Adalah Jihad

Alhamdulillah berkat rahmat Allah Swt., kami, jamaah Maktour, sampai juga di Mekah, pada Senin, 5 Agustus 2019, pukul 01.00 pagi WSA. Mekah adalah kota kelahiran Nabi Muhammad saw., dan kota munculnya nur Islam yang pertama di alam dunia. Nur itu kemudian tersebar ke seluruh dunia. Tentunya, semua jamaah sangat senang berada di kota Mekah ini karena di sini mereka dapat melakukan berbagai kegiatan ibadah di Masjidil Haram. Ketika mereka pertama datang di Mekah ini, ibadah yang paling pertama yang harus mereka lakukan adalah rangkaian ibadah umrah.

Ibadah haji dan umrah adalah ibadah yang didambakan oleh setiap mukmin yang ada di seluruh dunia Islam. Mereka berkeyakinan, berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw. bahwa rukun Islam yang ditunaikan. Rasanya, kalau belum melaksanakan ibadah haji dan umrah belum sempurna hidupnya. Padahal ibadah haji dan umrah adalah ibadah yang sangat berat.

Ibadah haji dan umrah adalah ibadah yang berat, yang disebutkan oleh Nabi sebagai sebuah jihad. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah, sebagai berikut:

Dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwa sesungguhnya dia telah mendengar Rasulullah bersabda: “Haji adalah jihad, dan umrah adalah tathawwu’ (sunat)”. HR Ibn Majah.

Beratnya ibadah haji dapat dilihat dari beratnya syarat untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Syaratnya adalah istithaa’ah yaitu mampu. Syarat istithaaah ini syarat wajibnya haji. Siapa yang sudah memiliki syarat ini, wajib melaksanakan haji dan umrah. Syarat istihaaah ini telah digambarkan oleh Allah di dalam QS. Ali Imran [3]: 97, dan di dalam berbagai hadis Rasulullah saw.

Syarat istithaa’ah itu diuraikan oleh ulama menjadi 3 kemampuan, yaitu istithaa’ah badaniyyah (kemampuan jasmaniah, kesehatan fisik dan rohani), istithaa’ah maliyyah (kemampuan harta untuk membiayai perjalanan haji), dan istithaa’ah amniyyah (kemampuan keamanan dalam perjalanan haji). Orang-orang yang memenuhi syarat ini yang dapat melaksanakan ibadah haji dan umrah. Dari sinilah, maka haji disebut sebagai jihad.

Tiga syarat istithaa’ah (kemampuan) yang disebutkan itu terwujud nyata diperlukan dalam seluruh rangkaian ibadah haji dan umrah. Setiap mukmin yang melakukan semua prosesi ibadah haji maupun umrah sangat membutuhkan tiga kemampuan itu. Rasulullah pada masanya telah menggambarkan bahwa ibadah haji itu adalah ibadah yang sangat berat dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain di dalam Islam.

Sebahagian persyaratan itu kami merasakannya pada saat kami melaksaakan rangkaian ibadah umrah pada malam hari tadi. Sekitar pukul 02.00 kami memulai prosesi umrah, yang dimulai dengan melaksanakan thawaf, sa’i dan cukup, setelah kami berihram terlebih dahulu di Masjid Zulhulaifah, yang terkenal dengan Bi’ir Ali.

Ketika kami melakukan thawaf, kami merasakannya berat, karena dilaksanakan di tengah-tengah kerumuman jamaah yang luar biasa padatnya melaksanakan thawaf, baik tawaf wajib bagi mereka yang melaksanakan haji tamattu’ maupun thawaf sunat. Manusia begitu padatnya melaksanakan thawaf itu, yang dilaksanakan dengan kondisi kesehatan yang prima dan fit. Masing-masing yang melakukan thawaf berjuang dan berjihad untuk mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali putaran, yang setiap putarannya dilakukan dengan perjuangan yang luar biasa. Demikian pula halnya ketika kami melakukan sa’i di Mas’aa, juga dibutuhkan perjuangan yang berat, meski perjuangan berada di bawah tingkat perjuangan yang dilakukan ketika tawaf.

Meskipun dua ibadah ini berat, tetapi kami akhirnya mampu menyelesaikan rangkaian ibadah umrah ini dalam waktu 3,5 jam. Ini waktu yang tidak sedikit. Kami telah berjuang selama 3,5 jam untuk menyelesaikan ibadah umrah. Seberat apa pun ibadah ini digambarkan, tetapi setiap orang yang melaksanakannya merasa senang dan bahagia karena semua itu dilakukan dengan ikhlas dan penuh harap akan ridha Allah Swt.

Niat yang diikrarkan oleh setiap orang yang akan melakukan ibadah menjadi faktor yang sangat penting dalam sebuah ibadah. Seluruh ulama menyatakan bahwa niat itu menjadi rukun sebuah ibadah, termasuk niat umrah dengan lafal لبيك اللهم عمرة yang diucapkan setiap calon jamaah umrah di Miqat.

Apa makna niat bagi pelaku ibadah? Niat yang telah kita nyatakan dengan lidah dan dikuatkan di dalam hati karena Allah itu memberikan kekuatan bagi seluruh organ di dalam tubuh manusia untuk mempersiapkan diri menerima permasalahan apa yang dihadapi di dalam melaksanakan sebuah ibadah. Niat itu mengisyaratkan atau memerintahkan kepada seluruh anggota, baik terlihat maupun tidak terlihat untuk siap menghadapi tantangan dalam melaksanakan ibadah. Seberat apa pun ibadah itu, dengan niat yang ikhlas karena Allah, maka ibadah yang berat menjadi ringan, ibadah yang sulit menjadi mudah. Inilah kekuatan yang memberikan dorongan dan ketahaman diri dan jiwa bagi setiap orang yang melakukan sebuah ibadah.

Semoga ada manfaatnya. Dari Makkah al-Mukarramah-Hotel Intercontinental Darut Tauhid, Selasa siang, tanggal 5 Agustus 2019.

 

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *