Kemiskinan Itu “Api”

Judul           : Dalam Kobaran Api

Penulis        : Tahar Ben Jelloun

Penerjemah : Nanda Akbar Ariefianto

Penerbit       : Circa, Jogjakarta

Cetak           : 2019

Tebal           : 68 halaman

ISBN           : 978 623 90721 0 0

 

Kemauan mengliping berita-berita mungkin sampai ke ingatan “menjenuhkan” dan ditinggalkan di kardus atau tumpukan berkas. Hari demi hari, semakin bertumpuk tinggi. Kliping itu diam dan kita kedatangan berita-berita baru. Kita mengerti ada “pengulangan” atau rentetan berita membentuk pemastian tokoh dan peristiwa di suatu zaman.

Kliping-kliping itu simpanan ingatan, menunggu terjaga dari “lelap” dan kesibukan merampungi berita-berita baru. Kemauan agak menggetarkan mungkin mengliping cerita. Kliping dengan cara dan resepsi berbeda di “penggembalaan” ingatan atau penerusan makna. Cerita memiliki kaidah ingatan di “kenikmatan” tafsir, berkisar di penemuan-penemuan selalu tak selesai.

Di Indonesia, kejadian 1998 tersimpan berlimpahan dalam album kliping berita. Kita kecapekan membaca lagi dan menanggungkan rumit di ingatan. Pilihan “kembali” mengerti 1998 agak terangsang dengan cerita. Kita membaca novel berjudul Laut Bercerita gubahan Leila S Chudori seperti menempuhi perjalanan ingatan ke masa lalu, saling bertautan ke masa-masa berbeda.

Di tikungan agak menegangkan, kliping cerita jadi khazanah ingatan, kita temukan di novel berjudul Orang-Orang Oetimu gubahan Felix K Nesi. Situasi 1998 ada di situ, terhubung ke masa-masa penentuan Indonesia: 1945 dan 1965. Kliping cerita mengartikan tata cara mengingat meski tetap berkemungkinan mengantar kita ke tumpukan berita-berita dari masa lalu. Konfirmasi berlangsung terhindar dari jemu dan kebuntuan makna.

Kita memiliki ingatan di negeri jauh dengan sajian cerita gubahan Tahar Ben Jellloun. Ia memberi novela berjudul Dalam Kobaran Api. Pengarang asal Maroko dan bermukim di Paris itu sengaja di siasat cerita ketimbang bergantung ke dampak berita-berita. Cerita mengenai kejadian bersejarah di Timur Tengah. Kita menguak lagi babak awal keberlangsungan “revolusi” berjulukan Arab Spring.

Di Indonesia, “revolusi” itu mencemaskan dan menimbulkan sikap-sikap mendua. Orang-orang Indonesia di pelbagai negeri terkena “revolusi” menanggungkan nasib tak tentu. Pemerintah turut di penguatan arti “revolusi” itu sampai ke kebijakan-kebijakan politis di Indonesia.

Tahar Ben Jellloun mengenalkan kita dengan tokoh berusia 30 tahun, pemuda di keluarga miskin. Ia tak mujur. Hari demi hari, pemuda bernama Mohamed seperti menanggungkan petaka-petaka tak berkesudahan. Ia perlahan mengerti “mustahil” mengelak dari daftar petaka bersumber dari rezim “terkutuk”. Pilihan menceritakan tokoh di kubangan kemiskinan “menggampangkan” pemunculan protes, tragis, dan seruan kemanusiaan. “Gampang” mungkin menjadikan pembaca di permainan tebakan, sebelum telanjur mengalami derita tokoh dan menentukan sikap politis di situasi dan latar cerita.

“Dia bukan seorang fatalis, bukan pula pribadi religius”, pengenalan Tahar Ben Jellloun ke pembaca. Sejak alinea pertama, pembaca sudah berdebar dan mengetahui si tokoh bernama Mohamed tak pernah gentar kedatangan segala derita. Mengeluh terasa “haram”. Mengeluh tak mungkin meredakan sengsara. Mengeluh malah lemah dan patah. Mohamed itu berpendidikan, tercatat pintar di sekolah tapi ijazah terbiarkan gara-gara sulit digunakan untuk mencari pekerjaan. Di negeri seribu petaka, ia mustahil mendapat pekerjaan berbekal ijazah.

Situasi keluarga dan nasib sial membenarkan tindakan Mohamed membakar ijazah. Ia pun memilih meneruskan pekerjaan almarhum bapak, berjualan buah dengan gerobak. Ia harus menanggungkan nasib ibu sedang sakit dan adik-adik. Kemiskinan tak boleh sedetik pun diratapi jika ingin terhindar dari lapar.

Mohamed jadi pencari nafkah. Gerobak warisan bapak itu terus bergerak dengan dagangan buah, mendapatkan sedikit demi sedikit untuk membeli obat dikonsumsi ibu, makan bagi keluarga, ongkos sekolah adik-adik, dan terpikir untuk menikah. Pendapatan selalu sulit cukup.

Kita mengingat dulu buku berjudul Harga Sebuah Apel (1996) gubahan TW Power. Buku berketerangan: “Sebuah novel politik pembangunan dunia ketiga”. Novel bercerita pedagang buah dan situasi politik. Novel berselera sosiologis, mengingatkan kita tentang komoditas buah, harga, angan kemakmuran, birokrasi, dan tatanan politik sering menimpakan sial-sial ke kaum miskin. Novel berlatar di Pakistan. Novel itu teringat saat kita membawa Dalam Kobaran Api.

Drama kemiskinan pasti memuat tema kekuasaan dan keadilan. Berlatar di Maroko, pengarang memang “gamblang” mengisahkan kekalahan kaum miskin, sebelum ada tindakan memicu “revolusi”. Tindakan justru menguak dilema-dilema berkaitan kemiskinan, kekuasaan, kemanusiaan, dan religiositas.

Di novela, kita berhak jeda sejenak agar terhindar dari ketegangan semakin memuncak. Mohamed, si penjual buah, sadar sulit menemukan lokasi strategis. Semua tempat sudah dihuni para penjual. Di pelbagai tempat, nasib pedagang ditentukan keangkuhan para polisi dan jeratan kebijakan-kebijakan birokrasi.

Mohamed tentu tak untung. Ia memilih berkeliling. Pilihan tetap berisiko. Setiap hari di setiap tempat ia berjualan, polisi selalu hadir sebagai perintah, kemarahan, penghinaan, dan permintaan. Mohamed dan para pedagang harus bersiasat dan rela memberi setoran jatah-duit jika ingin “selamat”.

Mohamed sudah mendefinisikan bahwa polisi selalu membawa kabar buruk. Polisi “mencipta masalah” bagi kaum miskin. Tahar Ben Jellloun peka mengisahkan kehidupan kaum miskin dan ulah polisi di negara-negara berisi para pejabat bernafsu korupsi dan menghinakan hukum di telapak kaki. Cerita kaum miskin memang sendu tapi berjejalan ungkapan-ungkapan marah dan melawan. Pejabat di birokrasi dan polisi adalah pihak paling ditakuti dan dimusuhi.

Para pembaca di Indonesia mungkin ingin memindahkan latar cerita itu ke Indonesia di masa Orde Baru. Ada hal-hal mirip di album kliping mengenai birokrasi “menjengkelkan” sering berdalih pembangunan nasional tapi memberi kemeranaan ke kaum miskin.

Di hadapan polisi berlagak mengatur dan menjaga ketertiban, Mohamed hampir putus asa. Polisi selalu cerewet mengganggu orang miskin mencari nafkah. Masalah surat dan pungutan itu rutin setiap hari. Mohamed pantang mengeluh dan patuh. Kita simak cara penangguhan kejatuhan nasib melalui pengisahan Tahar Ben Jellloun “menggunakan” ketabahan si tokoh: “Mohamed sudah akan menjawab Tuhan jelas tidak menyukai orang miskin dan bumi ini luas bagi mereka yang berpunya.”

Kita menduga novela berlimpahan propaganda atau sebaran filsafat membela kaum miskin bersentuhan dengan kekuasaan dan agama. Pengarang sengaja mengunakan siasat bercerita tanpa semburan atau pameran metafora: merumitkan cerita atau menebalkan pemaknaan atas cerita.

Sikap Mohamed pun lekas berubah: “Percuma saja, itu hanya akan memperburuk keadaan. Mereka (polisi) bisa saja menangkapku dengan tuduhan ateisme.” Perkara agama atau Tuhan bisa digunakan dalam menghancurkan kaum miskin atau mencari untung dari biografi penderitaan si miskin. Polisi dan birokrasi bertugas “mematikan” kaum miskin tapi mereka sempat mendapat jatah untuk “ini” dan “itu”.

Persekutuan orang-orang miskin sering ditambahi merana polisi memuncak di kejadian Mohamed dituduh pencuri dan dagangan diamburadulkan oleh para polisi. Kita mendengar suara-suara mereka seperti tercatat di cerita gubahan Tahar Ben Jellloun.

Kita mendengar kemarahan dan dendam: “Tingkah laku mereka sudah seperti mafia-mafia dalam film”, “Tuhan hanya berpihak pada yang kaya”, “Tuhan selalu ada untuk siapa pun”, dan lain-lain. Tuhan selalu teringat di sekian kejadian. Di negeri korupsi, Mohamed mengetahui presiden, para pejabat, dan polisi mencari untung berlebihan ketimbang mengurusi negeri menjadi makmur atau mencipta pemerataan-keadilan bersama. Kritik politik pun dilancarkan. Cerita seperti berlangsung di Indonesia dan negara-negara dijuluki Dunia Ketiga.

Pada suatu hari, gerobak Mohamed di sita. Sarana untuk mencari nafkah itu ingin direbut kembali atau ditebus. Duit tentu tak ada. Mohamed mengajak kekasih bernama Zineb untuk melapor atau meminta kedailan ke walikota dan kepala polisi. Setiap hari, usaha menemui para tokoh itu tak berhasil. Para pegawai di kantor walikota dan para polisi malah berusaha menghinakan dan menjatuhkan keinginan Mohamed. Apes memang milik Mohamed.

Semua berubah di pagi saat Mohamed mengenakan baju putih dan menunaikan salat subuh. Ia sudah bersikap, melawan sampai mati. Ia mendatangi lagi balai kota dan kantor polisi. Sama. Para tokoh di situ tak mau menemui untuk mendengar tuntutan-tuntutan Mohamed. Nasib semakin buruk. Di tas, Mohamed sudah membawa bekal sebotol bensin.

Di muka pintu masuk balai kota, Mohamed mengucurkan sebotol bensin ke tubuh. Ia membakar diri. Tahar Ben Jelloun menulis: “Api langsung berkobar”. Pengarang menulis kalimat itu gamblang ke peristiwa. Kalimat pun metafora. “Api” telah membakar rezim. Presiden berlagak marah dan memecat walikota gara-gara tak bersikap demokratis bagi kaum miskin. Tindakan-tindakan mendadak dan sandiwara terjadi di tatapan pers internasional.

Mohamed telah “membakar” negeri. Berkobar dan menghanguskan nasib penguasa. Pembakaran diri memicu “revolusi terjadi di seluruh negeri”. Zineb berduka tapi memerankan diri sebagai pemimpin di demonstrasi-demonstrasi. Mohamed meninggal pada 4 Januari 2011.

Api revolusi terus berkobar, menular ke negeri-negeri tetangga. Nasib penguasa: “Presiden pergi meninggalkan negaranya seperti seorang pencuri. Pesawatnya ditelan langit malam yang bertabur bintang.” Seorang miskin mati menjatuhkan rezim telah puluhan tahun memberi sengsara. Rezim mencari untung itu tersungkur dan hangus.

Kritik pengarang tak melulu mengarah ke polisi dan penguasa. Kejadian tragis menimpa Mohamed pun terincar oleh kaum mata duitan dan ketenaran. Duka milik keluarga Mohamed dipandang sumber laba bagi produser film. Tahar Ben Jelloun terlalu pedas menampar nalar industri film menjadikan derita adalah dagangan. Keluarga Mohamed didatangi produser film membawakan duit dan tawaran menggiurkan atas kematian Mohamed. Pihak keluarga “dilarang” memberi keterangan ke para jurnalis. Segala informasi cuma milik si produser jika pihak keluar sepakat mau mendapat duit berlimpah.

Adik-adik Mohamed melawan si produser mata duitan: “Orang ini ingin membeli kematian kakak kita dan meraup keuntungan darinya! Sangat mengerikan! Benar-benar mengerikan! Kisah Mohamed bukanlah milik siapa pun. Ini adalah kisah seorang pria sederhana, seperti jutaan lainnya, yang setelah dihancurkan, dipermalukan dan ditolak di mana-mana, menjadi nyala api yang membuat dunia ini membara. Tidak akan pernah ada yang bisa mencuri kematiannya.” Kemiskinan itu menghasilkan api. Begitu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.