Kenangan Gus Dur Menziarahi Gaza

Tidak banyak orang Indonesia yang memahami kecintaan Gus Dur terhadap Palestina. Narasi yang sering muncul adalah Gus Dur sebagai antek Israel dan kawan karib Shimon Peres. Pelbagai tuduhan dan serangan dialamatkan kepada Gus Dur, disertai kebencian yang meluap-luap terhadap Israel dan, selebihnya, warga Yahudi.

Namun, sebuah kisah tentang kunjungan Gus Dur ke kawasan Gaza, Palestina, pada 20 Desember 2003, menjernihkan pandangan ini. Betapa sebenarnya, Gus Dur melewati jalan berliku, untuk mengusahakan perdamaian antar kedua negara: Israel dan Palestina. Bagi Gus Dur, juru damai haruslah dipercaya oleh kedua belah pihak. Tidak mungkin menginisiasi perdamaian jika tidak diakui oleh kedua pihak yang berkonflik.

Gus Dur mengimpikan perdamaian antara Israel-Palestina, yang dapat memakmurkan warga kedua negara. Terlebih, warga Palestina yang sudah lama menderita oleh konflik, serta serangan bertubi dari pihak Israel.

“Perjuangan diplomasi yang dilakukan bangsa Palestina adalah perjuangan hidup dan mati yang tidak dapat diukur hanya dengan luasnya wilayah ataupun banyaknya penduduk. Jika telah mencapai kemerdekaan sebagai negara nanti, maka Palestina yang terdiri dari dua bagian itu yaitu wilayah Gaza seluas 500 kilometer persegi dan kawasan Tepi Barat sungai Yordania yang jauh lebih luas. Kedua wilayah itu merupakan entitas pertumbuhan tersendiri,” tulis Gus Dur dalam esai ‘Arti Sebuah Kunjungan’ yang dipublikasikan di Duta Masyarakat.

Gus Dur mengenang Gaza sebagai kota yang lusuh karena gempuran konflik. Di sisi lain, Gaza tetap menyimpan bara api semangat orang-orang Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan.

“Kota yang sepatutnya menjadi ibu kota kecamatan di negeri kita itu, keadaannya memang sangat memprihatinkan. Lalu lintasnya tidak teratur, toko-tokonya hanya terpusat pada sebuah kawasan memanjang dan hanya ada satu hotel lima tingkat.”

Dalam kunjungannya ke Gaza itu, Gus Dur bersama rombongan yang datang dari Jerusalem, sekitar lima puluh orang, terdiri dari para senator, anggota parlemen Amerika Serikat, para pemimpin agama dari seluruh dunia, dan wartawan dari beberapa media. Ia awalnya berpidato dalam bahasa Inggris, kemudian mengulangi dalam bahasa Arab untuk merespons dan memberi semangat pemuda-pemuda Palestina yang antusias.

Di hadapan penduduk Gaza dan rombongan dari Jerusalem, Gus Dur menyatakan dukungannya atas kemerdekaan Palestina. Namun, Gus Dur sangat prihatin jika posisi dan kekuatan politik Palestina yang sangat lemah di hadapan Israel. Gus Dur teringat bagaimana strategi politik Bung Hatta ketika menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 di Belanda, untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia. Bung Hatta, menurut Gus Dur, memiliki keberanian politik untuk memperjuangkan kemerdekaan, hal yang tidak dimiliki oleh para pemimpin Palestina.

Pada sambutannya ketika berkunjung ke Gaza, Gus Dur mendorong warga setempat untuk memperjuangkan dua hal: (1) kemerdekaan bagi berdirinya sebuah negara Palestina, dan (2) keadilan bagi seluruh rakyatnya. Dua hal yang mutlak berjalan beriringan sebagai mimpi warga Palestina.

Bagi Gus Dur, Gaza merupakan inspirasi dari perjuangan warga Palestina.

Gaza adalah sumber perlawanan terhadap penjajahan, dan akan sangat menarik jika perlawanan itu tidak hanya mengambil bentuk fisik saja, akan tetapi juga menggunakan pendekatan kultural. Hal ini terbukti selama lebih setengah abad, bahwa orang-orang Gaza sangat gigih melawan tentara-tentara Israel. Energi perlawanan inilah yang menjadi inspirasi untuk meniadakan penjajahan.

Gus Dur secara elegan menyampaikan kritiknya terhadap strategi perjuangan para pemimpin Palestina. “Palestina tidak memiliki kepemimpinan yang tangguh dan para pemimpin mereka saling bertengkar dalam perbedaan strategi dan garis perjuangan. Inilah yang harus mereka koreksi untuk diperbaiki dalam waktu dekat ini.”

“Bagaimana pun juga, harus ada strategi perjuangan bagi sebuah bangsa, supaya segala macam energi dan kemampuan yang dimiliki bangsa itu dapat tersalur keluar menjadi alat perjuangan yang ampuh menghadapi lawan,” jelas Gus Dur. Strategi yang tepat, menurut Gus Dur, yakni perundingan yang lama dan berkepanjangan dengan Israel, untuk memperjuangkan kemerdekaan sebagai negara dan keadilan.

Gus Dur mengkritik dua belah pihak. Mendorong agar para pemimpin Palestina bersatu dan memiliki keberanian politik dalam diplomasi kemerdekaan. Di sisi lain, meminta Israel menghentikan cara-cara keji berupa serangan militer yang merugikan warga, mengakibatkan darah tercecer. Gus Dur menegaskan bahwa diplomasi perdamaian merupakan cara satu-satunya untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Nyatanya, perhatian Gus Dur terhadap kedua negara konflik itu, masih terus menyala hingga penghujung hidupnya. Pada penghujung Desember 2008, Gus Dur mengecam serangan Israel ke kawasan Gaza. Kala itu, tentara Israel secara membabi-buta menggembur milisi dan pejuang kemerdekaan di kawasan Gaza, yang selama ini menjadi area konsentrasi perlawanan rakyat Palestina. Gus Dur menuntut agar Israel menghentikan serangan seraya mundur dari wilayah Palestina, khususnya kawasan Gaza.

Selain itu, Gus Dur juga mendorong pihak-pihak pemerintah di Palestina, mulai dari PLO (Palestine Liberation Organization), Otoritas Palestina, dan Fatah di bawah komando Presiden Mahmoud Abbas untuk tidak membiarkan serangan ini. Apalagi, mengecilkan serangan Israel hanya sebagai urusan Hamas. Di sisi lain, Gus Dur juga berharap agar Hamas tidak menggunakan cara-cara kekerasan sebagai jalan keluar atas konflik Israel-Palestina. Dengan demikian, kelompok konservatif di Israel tidak menjadikannya sebagai dalih serangan frontal.

Bagi Gus Dur, cara terbaik untuk menghentikan serangan dan membangun inisiasi perdamaian adalah kembali pada perjuangan diplomatik dan perundingan.

Cara-cara kekerasan hanya akan menjadikan warga Palestina sebagai martir dan korban dari serangan tentara Israel (Okezone, 29/12/2008). Serangan kaum konservatif Israel pada akhir 2008 itu, menewaskan lebih dari 300 orang dan merenggut korban 700 luka-luka. Jelas sekali, serangan ini merupakan pelanggaran hak asasi manusia, yang menjadikan relasi Israel-Palestina menjadi semakin runyam.

Gus Dur bersuara lantang di tengah situasi konflik ini, dengan memberikan alternatif solusi bagi perdamaian Israel-Palestina. Sikap Gus Dur terhadap Israel-Palestina jelas dan terang benderang: mendukung diplomasi kemanusiaan. Tidak ada tempat bagi kekerasan maupun serangan militer untuk mencapai perdamaian. Namun, pelbagai upaya diplomatik dan manuver politik Gus Dur, sering disalahpahami.

Dalam wawancara dengan Haaretz—sebuah media terpercaya dari Isrel—Gus Dur mengungkapkan bahwa persepsi negatif tentang relasinya dengan tokoh-tokoh Israel merupakan sebuah kekeliruan. Micha Odenheimer, wartawan Haaretz bertanya kepada Gus Dur mengapa dirinya mau berkawan dengan Israel, yang dianggap oleh elite-elite Islam sebagai sesuatu yang aneh, peristiwa yang tidak biasa.

“Itu merupakan akibat dari propaganda Arab. Kita seharusnya membedakan antara Arab dan Islam. Beberapa orang di Indonesia menyebut saya berdiri untuk kepentingan Barat. Tapi faktanya saya berjuang pada seluruh waktu untuk menolak ide ini, dan menunjukkan bahwa ini merupakan pandangan segelintir elite.”

Haaretz (07/07/2004) menyebut Gus Dur sebagai ‘A friend of Israel in the Islamic World’. Sebutan ini bukan tanpa makna. Gus Dur memang canggih memainkan diplomasi politik untuk menginisiasi perdamaian antara Israel dan Palestina.

Dalam wawancara dengan Haaretz, Gus Dur menegaskan bahwa dirinya sering bilang bahwa China dan Uni Soviet mengakui ateisme sebagai bagian dari konstitusi, namun nyatanya Indonesia memiliki relasi jangka panjang dengan dua negara itu. Dengan demikian, Gus Dur menjelaskan, jika Israel memiliki reputasi sebagai negara yang mengakui Tuhan dan agama, maka tidak alasan untuk menolak Israel.

Gus Dur memang berkawan dengan para pemimpin politik dan agama dari Israel, namun kecintaannya terhadap Palestina menjadi semangatnya untuk terus mendukung kemerdekaan negara itu. Untuk menginisasi perdamaian, prinsip Gus Dur, haruslah dipercaya kedua belah pihak. Di tengah konflik Israel-Palestina yang masih membara, Indonesia berpeluang menjadi juru damai itu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *