Kenangan Terindah Sepajang Hitungan Waktu [Cerpen]

Hujan kembali menjatuhkan dirinya seperti awal bulan september lalu. Awal bulan yang mengajakku berenang dalam lautan kehampaan hingga membuatku tenggelam oleh takdir yang berbanding lurus dengan apa yang aku harapkan.

Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berlama-lama untuk beribadah kepada-Nya, meski tidak diberi kesempatan untuk berlama-lama dengan rekanku karena maut lebih dulu merenggutnya, tepat pada kamis malam, tiga hari sebelum kembali ke pondok di tahun baru karena kecelakaan.

Kalau kalian ingin tahu namanya, maka kalian bisa memanggilnya dengan sebutan Ahmad. Teriak saja tiga kali. Kalau tidak hadir sekarang, mungkin ia akan datang esok hari.

Mengenangmu

“Apa kamu sudah makan, Mad?”

Entah apa yang terjadi dengan Ahmad pagi ini. Dia seperti tidak bernafsu melahap apapun yang ada di hadapannya. Tatapannya juga sendu; datar. Tidak mencerminkan kebahagiaan sama sekali. Awalnya, aku diamkan saja dia seperti ini selama beberapa hari.

Di waktu-waktu pelajaran madrasah juga sama. Ia diam saja di kelas. Saat setoran, satu bait pun dia tidak hafal. Sesekali aku menawarkan untuk lalaran berdua setiap sepulang madrasah. Tapi dia menolak tanpa alasan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak aku inginkan, aku memaklumi apa yang ia lakukan.

“Besok aku pulang ke rumah. Kamu ikut tidak?”

Baca juga :  Keluh Sang Sajadah Merah [Cerpen]

Untuk ke sekian kalinya, tidak ada balasan dari Ahmad. Ia hanya menatapku malas tanpa memberiku semacam kode agar aku tahu apa yang ia maksudkan dari sikapnya itu.

Kejadian ini berulang kali terjadi padanya. Saat aku bertanya pada teman-teman lain, mereka serempak diam dan tidak menjawabnya. Terkadang aku berpikir, sesulit itukah menghargai seorang teman?

Pertemuan terakhir

Tepat saat aku bersalaman dengan orang tuaku, Ahmad tiba-tiba saja berdiri tegap di depanku dan mencegahku untuk kembali ke pondok. Katanya, ia ingin menginap di rumahku selama beberapa hari agar bisa menghindari hukuman karena ia tidak mencapai target hafalan.

Sebelum memastikannya, aku menanyakan hal ini lebih dulu kepada ayah.

“Jangan lama, lama, ya? Nanti ketinggalan materi pelajaran di pondok.”

Apa yang diucapkan ayah barusan sepertinya adalah cara ayah menerima Ahmad di rumah kami. Aku akhirnya memutuskan untuk menunda untuk kembali ke pondok. Lusa mungkin aku sudah berada di pondok. Aku hanya tidak ingin mengecewakan Ahmad yang telah jauh-jauh datang dari pondok hanya untuk bertamu dan menginap di rumahku.

Bukankah salah satu tanda seorang hamba beriman kepada Allah dan hari akhir adalah dengan memuliakan tamunya?

Kedatangan Ahmad membuatku berhasrat untuk memasakkan rendang karena aku tahu bahwa Ahmad suka sekali dengan makanan yang satu ini. Ahmad mungkin akan menghabiskannya di rumahku hari ini juga andai ia tahu kalau aku membuatkan rendang khusus untuk kedatangannya. Untuk hal yang satu ini, mana mungkin Ahmad akan menolaknya?

Baca juga :  Perempuan Bermata Hujan [Cerpen]

***

“Makan dulu rendangnya, Mad. Jika tidak ingin menghabiskannya, setidaknya biarkan lidahmu merasakan bumbunya. Itu sudah cukup membahagiakan buatku. Itu aku sendiri yang membuatnya. Dengan merasakannya, berarti kamu juga telah menghargai perjuanganku.”

Jujur saja, seumur-umur aku berteman dengannya. Baru kali ini aku mengenal apa itu kecewa. Aku tidak marah dengannya karena ia tidak mau mencicipi rendang yang aku buat khusus untuknya. Tidak. Aku tidak sejahat itu. Aku hanya kecewa karena ia tidak menghargai apa yang aku lakukan. Itu saja.

Waktu merangkak begitu cepat. Acara demi acara di pondok telah terlaksana dengan baik tanpa ada hambatan apapun. Bulan depan sudah menginjak bulan ramadhan. Itu artinya, sebentar lagi kami akan menjumpai masa liburan panjang.

Di Hadapan Nisan

“Kamu nggak ingin ziarah, Zen?”

“Mungkin lain kali saja,” jawabku asal.

“Lusa sudah ujian madrasah. Mungkin kalau izin pulang dengan alasan ziarah diperbolehkan.”

Awalnya, aku diam saja mendengarkan penjelasan dari Febri. Namun esoknya, aku merubah pikiranku dan kembali bercakap-cakap dengannya membahas hal ini.

Menginjak siang di hari kamis, tepat ketika kepergiannya, aku dan Febri berziarah ke sana. Malam menyelimuti semesta saat aku menginjakkan kakiku di area pemakaman. Aku ungkapkan jutaan terimakasih padanya setelah sekian lama ia sudi meluangkan waktunya bertatap muka denganku.

Baca juga :  Pertemuan Kala Langit Sedang Biru [Cerpen]

Mulai dari saat aku menawarinya makanan; saat ia tidak mau menghafalkan nadzomnya; saat ia menolak tawaranku untuk lalaran berdua; saat juga acuh menanggapi tawaranku pulang; saat dia dengan tiba-tiba datang ke rumahku; ataupun saat ia enggan mencicipi rendang yang aku buat sendiri. Andai ia tahu, bahwa kehadirannya adalah kenangan terindah sepanjang hitungan waktu setelah ditinggal pergi olehnya.

Setelah membacakan doa, aku mengusap batu nisan yang berdiri tegak di atas kepalanya. Aku bahkan membasuh namanya juga dengan air dan menitipkan setangkai bunga di sampingnya. Agar ia dapat hidup tenang disana, aku tak lagi menyebut namanya, hanya hati yang mewakili apa yang aku rasakan saat ini.

“Semoga kau bahagia di sana, Mad,” gumamku lembut yang diringi air mata.

***

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *