Kepedulian Agama Islam Terhadap Kesehatan Manusia

Kesehatan adalah nikmat yang amat penting bagi manusia, namun jarang manusia yang menyadarinya. Maka, tidak heran jika di berbagai kesempatan, termasuk dalam majelis-majelis ilmu para kiai maupun para dai selalu mengucapkan syukur di setiap awal acara sebagai wujud syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan.

Karena dengan kondisi yang sehat banyak hal yang mudah untuk dilakukan. Sayangnya, manusia sering kali suka mengabaikan nikmat tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ

Artinya: “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Seseorang terkadang memiliki banyak waktu luang, namun tidak memiliki tubuh yang sehat. Terkadang pula seseorang memiliki tubuh yang sehat, namun waktu luang tidak dimilikinya sebab sibuk dengan mata pencahariannya.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari bi Syarh Shahih Bukhari, menjelaskan jika seseorang memiliki kedua nikmat, yaitu kesehatan dan waktu luang, namun rasa malas tetap dia ikuti maka dialah orang yang tertipu. Karena setelah waktu luang akan datang kesibukan, dan setelah sehat akan datang waktu sakit yang tidak menyenangkan.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa jika manusia mendapatkan kedua nikmat tersebut dalam hidupnya, hendaknya dia bersyukur dengan cara taat kepada Allah SWT. Menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba sebelum dicabut darinya kedua nikmat tersebut.

Allah Swt. sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga kesehatan dengan berbagai cara, salah satunya seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 88 yang menjelaskan agar manusia memakan makanan yang halal lagi baik (halalan thayyiban):

Baca juga :  Khitan Perempuan; Syariat atau Tradisi?

وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ٨٨

Artinya: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah berikan rezeki kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Redaksi “Halalan Thayyiban” pada ayat itu maksudnya adalah mendapatkan makanan dengan cara yang benar, dari pekerjaan yang halal bukan dari pekerjaan yang haram. Dan juga makanan yang baik bagi kesehatan, bukan makanan-makanan yang dapat merusak kesehatan.

Selain makanan yang halalan thayyiban, upaya menjaga kesehatan yang diperintahkan oleh Allah dengan menjaga kebersihan tubuh. Hal ini sebagaimana firman Allah  dalam  surat At Taubah ayat 108:

لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ١٠٨

Artinya: Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (Mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri (bersuci). Baik membersihkan diri dari berbagai macam dosa maupun dari berbagai kotoran yang melekat pada tubuh dan sekitar. Karena orang yang menjaga kebersihan, ia akan memiliki jasmani dan rohani yang sehat.

Baca juga :  Yuk Kenali Ragam dan Karakteristik Disabilitas  

Pola Hidup Sehat Ala Nabi

Betapa pedulinya Islam terhadap kesehatan tubuh umat manusia, Nabi Muhammad pun menyinggung dalam banyak sabdanya. Dalam berbagai sabdanya, beliau sering menjelaskan tentang anjuran dan cara menjaga kesehatan. Dalam Shahih Bukhari saja tidak kurang dari 80 hadis yang membicarakan masalah ini. Belum lagi yang tersebar luas dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad, dan sebagainya.

Walaupun pada masa Nabi Muhammad dunia kesehatan belum secanggih saat ini, namun ia memiliki banyak pengetahuan tentang bagaimana menjaga kesehatan dengan baik. Di antaranya seperti yang dijelaskan oleh Ja’far Khadem Yamani dalam bukunya yang berjudul Jejak Sejarah Kedokteran Islam, bahwa, untuk menjaga kesehatan, Nabi melakukan lima hal berikut ini:

Pertama, selalu memakan makanan yang halal dan baik. Dan salah satu kegemaran beliau adalah madu, dan biasa meminum madu dengan air untuk membersihkan pencernaan.

Kedua, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas).

Ketiga, makan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Hikmahnya agar tidak tersedak, tergigit, dan kerja organ lebih ringan.

Baca juga :  Begini Tips Ampuh Mengelola Marah

Keempat, cepat tidur dan cepat bangun. Nabi biasa tidur lebih awal setelah Isya, untuk kemudian bangun pada pertengahan malam kedua. Beliau bangun, mengambil wudhu, bersiwak, lalu mendirikan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah.

Kelima, istikamah melakukan puasa sunah. Di luar bulan Ramadan, banyak puasa sunah yang kita ketahui seperti puasa Senin dan Kamis, puasa Dawud, puasa Ayyamul bidh, puasa 6 hari Syawal dan lain sebagainya. Puasa dapat menjadi perisai dari berbagai macam penyakit jasmani dan rohani.

Penjelasan di atas adalah beberapa langkah Nabi Muhammad dalam kehidupannya yang dalam penelitian dapat menjaga kesehatan tubuh baik jasmani maupun rohani. Berangkat dari teladan dalam sabda-sabda Nabi inilah yang menunjukkan betapa pedulinya Islam pada kesehatan.

Oleh karena itu, ingatlah sehat sebelum sakit. Dan jagalah kesehatan dengan niat taat dan beribadah kepada Allah, serta bentuk syukur terhadap nikmat-Nya yang agung yang telah diberikan kepada kita semua.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *