Kepulangan [Cerpen]

Begitu banyak cerita yang perlu diungkap ke kamu. Namun kita terhalang jarak yang membuatku candu. Diskusi antara aku dan kamu hanya berbatas via mobile phone. Kamu lebih suka berbicara isu-isu nasional di negeri ini maupun internasional.

Lalu aku dengan senang hati menanggapi itu dan kamu sangat sumringah. Kamu mulai bercerita banyak dari yang penting sampai kurang penting. Asal kamu tahu, aku larut dalam diskusi itu dan sesegera mungkin kubuka website agar aku tak tertinggal olehmu.

“Malam ini kita diskusi apa?” tanyamu untuk memulainya.

Kita pun panjang lebar mendiskusikan hal-hal terkait hak veto anggota tetap dewan keamanan pbb walaupun hanya via mobile phone. Hal seperti itulah yang kita lakukan tiap harinya. Bertatap muka dengan layar, tersenyum dengan sendirinya lalu bergumam, “Selucu ini ya kita.” Kerap kali perdebatan argumen terjadi di antara kita.

Argumen-argumennya selalu mampu mematahkan pendapatku. Di balik itu semua, aku belajar banyak darinya tentang isu yang berkembang dan cara mematahkan argumen seseorang tanpa menyakiti.

“Aku sudah ngantuk, ingin tidur,” ucapku untuk mengakhiri diskusi malam ini.

“Sebelum tidur, kesimpulan apa yang kamu peroleh dari diskusi kita malam ini?” tanyanya. Ia selalu memberiku kejutan dengan bertanya, sedari apa yang ingin didiskusikan hingga kesimpulan apa yang bisa kita pelajari.

Otomatis hal tersebut membuatku semakin berpikir untuk mencari dan memutar otak agar menemukan jawaban yang tepat. Dengan rangkaian kata demi kata, akhirnya mampu kusampaikan makna dan kesimpulan diskusi malam ini.

Good. Kamu luar biasa hari ini. Semoga pujianku untukmu hari ini tak membuatmu semakin angkuh.”

Aku seorang business analyst di sebuah perusahaan travel. Setiap harinya berhadapan dengan isu-isu mahalnya biaya perjalanan, potensi pasar dan banyak macamnya. Dituntut untuk selalu update, capek memang tapi aku suka.

Lagi lagi, dengan hal tersebut aku belajar bahwa kita harus benar-benar pandai dan teliti dalam menganalisa. Menjadi dewasa memang banyak terpaan. Terlebih lagi, kalau kita mendapati lingkungan yang buruk, harus mawas diri.

Hari ini, pimpinan mengutusku untuk hadir pada pertemuan dengan beberapa perusahaan travel di Mussan Co-Working Space. Semua serba terburu-buru karena infonya terlalu mendadak.

Namun pimpinan selalu berkata, “Tenang, semua akan baik-baik saja tanpa harus terburu-buru.” Kadang suka heran sama pimpinanku satu ini, tidak pernah menyalahkan stafnya dan selalu mengena dengan nasihat-nasihatnya.

Sepulang dari pertemuan, aku disambut langsung oleh pimpinan, hmm baru sampai kantor sudah disambut sama pak Yayan, gumamku dalam hati.

“Dinta, ada paket buatmu di meja resepsionis,” ucapnya.

“Oh iya terima kasih, Pak. Dari siapa kalau boleh tahu, Pak?” tanyaku penasaran.

“Dari orang spesial mungkin. Hehe.” canda si bapak.

Kuhampiri meja resepsionis, siapa sih yang kirim paket, sejauh ini aku belum beli sesuatu apapun. Paketan tertulis untuk Pradinta Kirana, ya itulah namaku. Dan yang menggemaskan ialah nama pengirimnya, ini pengirim iseng sekali sepertinya atau kurang kerjaan.

Ternyata si pengirim ini membuatku tertawa gila karena nama pengirimnya tertulis, lelaki paling imut. What does it mean? Lelaki paling imut. Aku semakin penasaran. Ah nanti saja dicek, aku ingin mengisi perut terlebih dahulu.

“Ciyee, yang dapat paketan dari orang spesial,” goda pak Yayan yang tiba-tiba nimbrung semeja denganku.

Baca juga :  Robohnya Langgar Kami [Cerpen]

“Iih, pak Yayan. Enggak bapak, saya aja tidak tahu isinya apa. Masih belum saya buka sampai sekarang,” tuturku.

“Bagaimana menurutmu pekerjaan hari ini, Din?”

“Sangat melelahkan.”

“Ya sudah, jangan capek-capek yaa. Ini ada nasi kotak buat kamu, dimakan yaa!”. Pak Yayan secara tiba-tiba memberiku nasi kotak, padahal hari ini belum ada agenda rapat anggota. Suka misterius memang orangnya.

Pak Yayan sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri. Yah, aku sendiri anak rantauan. Kadang sosok seperti pak Yayan sangat kubutuhkan saat kesepian melanda. Dua bulan terakhir ini aku tak sempat pulang ke rumah.

Aku dan pak Yayan suka larut dalam perbincangan ketika di luar pekerjaan. Hari ini penuh dengan kejutan mulai dari pekerjaan yang tiada selesai, motivasi dari orang-orang sekitar, hingga paket misterius.

Sesampainya di asrama, kudapati sebuah kiriman paket dan sedikit aneh. Dan lagi, ini kiriman paket misterius. Hal-hal seperti ini membuatku takut, khawatir ini sebuah teror atau mungkin ada orang jahat yang sedang mengintaiku.

Panik namun harus tetap anggun. Ah, tanpa banyak bicara. Kubuka satu persatu bungkus paket tersebut. Akhirnya oh akhirnya, aku masih belum bisa menahan tawa. Masih menggelitik dengan nama pengirim yang tertera di paket tersebut. Bikin lelucon kok aneh-aneh begitu.

Penasaran masih berlanjut, ku cek kiriman paket satunya. Alhasil sama saja, pengirimnya memang suka iseng. Paket satunya tertulis, lelaki paling aduhai. Rasanya aku sudah tidak bisa menahan tawa. Langsung kubuka. Dan, kaget campur haru.

Isinya sebuah perlengkapan untuk ibadah khususnya perempuan. Ada sajadah dan mukenah lalu selembar surat. Perasaan semakin hectic, berasa gila dengan sendirinya. Apa ini dari Aqshal ya? Aku memang pernah mengirim gambar lewat pesan media soal mukenah, tapi itu sudah lama banget.

Notifikasi Line berbunyi, ada pesan dari pak Yayan. “Din, malam ini pak Subakti ngajak ketemu. Kamu kosongkan kegiatanmu malam ini, ya. terima kasih.” Begitulah isi pesannya.

“Enak ya jadi pimpinan, tinggal kirim pesan, nyuruh bawahannya, hmm,” gerutuku. Malam ini memang tidak ada kegiatan ataupun hang out bersama teman-teman. Alangkah baiknya aku ikut ajakan Pak Yayan, sekaligus menghilangkan kegabutan.

Tak lama kemudian muncul pesan Line dari Aqshal mengenai topik diskusi malam ini. Aku tak sempat membalas chatnya, karena harus segera menuju satu tempat untuk menemui tamu.

Hari yang Sulit

Keesokan harinya layar gawai muncul 7 panggilan tak terjawab dari Aqshal. Oh tidak, aku kelupaan. Bergegas kubalas chatnya dan meminta maaf atas segala kelalaian. Aku sangat tahu dia tak pernah marah meskipun aku tak sempat membalas chatnya, namun kali ini berbeda, ia meneleponku berulang kali tetapi kuhiraukan.

Pagi ini sedikit kacau, bangun kesiangan, persoalan dengan Aqshal belum terselesaikan ditambah data yang harus diserahkan ke pimpinan tertinggal di asrama. Adakah yang salah dariku saat ini Tuhan?

“Dinta, ikut ke ruangan saya,” pinta Pak Yayan.

“Oh, nooo.” Bisikku lirih. “Iya Bapak, saya akan ke ruangan Bapak,” jawabku.

Sepanjang perjalanan menuju ruangan Pak Yayan, aku hanya memohon semoga baik-baik saja, semoga tidak terjadi hal-hal yang buruk.

Baca juga :  Magadir [Cerpen]

“Ini laporan macam apa, Dinta.” ucap Pak Yayan sembari melempar ringan laporan yang kubuat.

“Uhm. Maaf pak, ini ada yang perlu direvisi lagi soalnya kita sudah survey dan sudah menemukan pasar baru bahwasanya pembuatan paket travel akan lebih menarik konsumen. Nah ini ada 3 saran dari tim business analyst, paket tersebut bisa berupa jumlah hari, di mana semakin lama atau banyak hari yang dipilih harganya menjadi lebih murah. Paket juga bisa berupa beberapa tujuan yang diambil sekaligus akan mendapat potongan harga. Bisa juga jumlah pemesanan untuk beberapa orang akan mendapatkan harga lebih murah. Kurang lebih seperti itu, Pak,” tuturku berusaha menjelaskan dengan tenang kepada pak Yayan. Paling tidak apa kusampaikan bisa meredam rasa kecewanya.

“Lalu laporan terbarunya bagaimana?” tanyanya.

“Eeee… Itu Pak, mohon maaf, laporannya lupa tidak saya bawa hari ini,” jawabku dengan sedikit ketakutan.

“Din, hari ini kamu capek ya? Nampak sekali dari raut wajahmu. Kamu silahkan ambil jatah cuti dan pulanglah!” seru pak Yayan. aku melongo seolah tak percaya.

“Tapi, Pak. Pekerjaan saya ada yang belum selesai,” aku mencoba menegaskan bahwa ketika aku diberikan keringanan dalam hal tersebut khawatir menjadi bahan omongan di kantor.

“Nggak perlu dipikirkan, kamu berikan teman se-tim mu”.

“Baik, Pak. Terima kasih. Saya akan mengurus surat cuti. Sekali lagi terima kasih,” tubuhku berpaling dan tangan mengepal sekaligus berucap yes dalam hati.

Pertemuan

Ku cek kembali mobile phone ku, dan lagi, 5 panggilan tak terjawab dari Aqshal.

“Shal, syukur kamu mau angkat telponku. Ada apa?” kita memulai obrolan via mobile phone.

Aku dan Aqshal bertemu saat agenda call for papers conference di salah satu universitas ternama di Bandung beberapa tahun yang lalu.

“Kamu sibuk sekali yah? Sampai-sampai tidak ada kabar. Hari ini aku mau ke Bandug….”

“Haaah?? Kamu serius?”

“Gilaaa. Belum selesai ngomong ini, sudah dipotong aja.”

“Kan wajar, ikut senang akunya.”

“Nah. Maka dari itu aku ingin mengabarimu. Kamunya slow response sekali.”

Senang bukan main. Benar, hubungan jarak jauh itu menguras pikiran kalau kita tak pandai menjaga komunikasi. Apalagi kalau sedang rindu-rindunya ingin jumpa, perempuan suka marah-marah tak jelas.

Aku menantinya di stasiun yang mana menjadi sebuah tempat kesenangan tersendiri. Menjadi ruang jeda antara aku dan Aqshal. Ruang dimana ketika kamu merasakan tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, merasa tidak berguna.

Tapi, terima kasih untukmu yang saat ini tidak menyerah. Lalu kamu menjadi manusia dengan pemikiran dan ide-ide yang sarat estetika.

Satu jam aku menunggunya, hmm, membosankan sekali. Stasiun sedang sepi-sepinya dan aku baru ingat bahwa ini hari efektif. Ia sudah nampak dari kejauhan dengan wajah celingukan, sepertinya ia sedang mencari posisiku dimana saat ini.

Entah tiba-tiba aku mempuyai ide untuk menjahilinya. Aku mengikutinya dari belakang karena ia pasti akan mencari hingga tempat terdepan stasiun tersebut. Ahahah, gemas lihatnya, batinku. “Dooorr….” Aku mengagetkannya.

“Suka banget kalau jahil yaa,”

“Hehehe, maaf nggak bermaksud apa-apa. Sekali lagi, ini bentuk kesenanganku,”

“Iya-iya. Dari kemarin, ucapannya sama terus,” ucapnya dengan nada kesal.

Hari ini kita mengelilingi kota yang dibarengi dengan datangnya senja. Berasa seperti cerita-cerita di film bioskop. Hati begitu semenyenangkan ini, dia pulang, dia kembali.

Baca juga :  Keluh Sang Sajadah Merah [Cerpen]

Namun aku belum, pulang untuk orang tuaku. Hari ini akan menjadi cerita panjang untuk mereka. Aku tersenyum dengan sendirinya ketika melihat wajahnya untuk yang ketiga kalinya.

Sekarang kita saling memahami bahwa makna pulang bukan hanya untuk menggugurkan janji atau kewajiban, melainkan penghargaan atas waktu yang diluangkan. Merasakan kenyamanan dan kehangatan yang pernah ditinggalkan, menceritakan semua keluh kesah yang dirasakan ketika di tanah rantau dan menjadi diri sendiri.

Pulang merupakan momen berkumpulnya kembali ke tanah kelahiran yang memberikan banyak kenangan bersama orang-orang tersayang, dimana kita bisa tertawa bebas tanpa beban dan bisa bermain tanpa takut kotor.

“Shal, bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku.

“Hmm, ya baik-baik saja. Aku menyukainya walaupun terkadang dikejar deadline,” jawabnya. “Karena ini pilihan, apapun harus dilakukan dengan sepenuh hati. Banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan dan itu bisa diambil sebagai pembelajaran ke depan.

Mulai dari pencarian data yang valid, hingga wawancara yang kadang interviewee-nya enggan untuk diwawancarai. Seolah semua mengajarkan arti kesabaran dan…dan ingin segera pulang ke rumah,” tambahnya.

Aqshal disibukkan dengan hal-hal yang menyajikan tulisan, pesan audio, gambar hingga video. Yaah.. ia bekerja di salah satu media massa. Aku menikmati hasil penyajian tersebut sebagai informasi sehari-hari.

Walaupun kepandaiannya dalam hal mengarang atau menyusun kata yang tujuan pokoknya adalah untuk memberikan kabar atau informasi kepada masyarakat umum secepat mungkin dan tersiar seluas mungkin tapi ia tetap saja tak pandai merangkai kata yang melankolis.

“Din, baca deh,” ia menyodorkan beberapa lembar kertas yang berisi hasil riset dan jurnal. Aqshal suka sekali kalau menemukan tulisan-tulisan yang berbobot. Sudah pasti, ia mengajakku untuk diskusi. Batinku ingin menolak tapi aku juga ikut tertarik untuk belajar darinya.

“Hasil karya kamu?” tanyaku.

“Bukan. Ada salah satu redaktur di kantorku yang hobi nulis gitu,” ungkapnya. “Bagus loh ini hasilnya. Sudah publish jurnal.” tambahnya.

Mengonstruksi dan menggiring opini pembaca menuju apa yang dimaknai dalam media online tersebut. Kurang lebih itu isi jurnalnya. Apalah aku yang tak paham hal begituan.

Baiklah kucoba mencerna isi dari jurnal tersebut. Lalu kita saling melempar pertanyaan dan tanggapan hingga melupakan waktu. Empat gelas red velvet dan dua piring kentang lahap ke mulut.

“Din, jangan lupa segera pulang.” ujarnya sembari kita keluar dari cafe.

“Minggu depan aku pulang. Pasti kok. Terima kasih sudah mengingatkan.” Rasanya terharu ketika ia berkata seperti itu. Inginnya nangis tapi kok lucu sendiri nantinya.

“Kalau kamu pulang, kabari aku. Aku akan menyusul kesana. Aku ingin sekali melihat, apakah engkau pantas memakai mukenah nya,” bisiknya lirih sambil mempersilahkanku memasuki busway yang sudah berhenti di depan halte. (End)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *