Kesabaran Orang Pesisir

pesisir

Dalam naskah “Suluk Sukarsa” disebutkan tokoh bernama Ki Sukarsa yang sabar. Entah tokoh dalam naskah Jawa itu fiksi atau bukan yang pasti sesuai namanya: “su” berarti bersih dan “karsa”  berarti maksud dan niat, jadinya orang ini suci dalam angan dan tindakan.

Dalam naskah puitis ini Beliau digambarkan telah sampai pada maqam makrifat bahkan “senyap” dalam titik (spot) “fana”. Dalam bahasa sederhana beliau adalah sosok yang sepi pamrih tapi rame gawe: banyak amal tanpa dipamerkan karena malu di hadapan Allah Yang Maha Pencipta. Bayangkan tingkat kewaliannya!

Beliau sadar hidup sebagai pelaut atau orang pantai yang sangat beresiko tinggi. Oleh sebab itu beliau selalu ingin dekat dengan Allah. Beliau selalu perbaiki sifat sabarnya sebab sabar itu seperti perahu yang siap terombang ambing di tengah samudera.

Ki Sukarsa tegakkan shalat karena shalat seperti tiang perahu yang menyangga layarnya. Beliau perbanyak puji-pujian sebagai ungkapan syukur kepada Tuhannya karena rasa syukur berfungsi layaknya layar yang mengembang. Tak lupa beliau kencangkan doanya sebab doa ibarat talinya. Beliau biasakan qunut sebab qunut merupakan dayung untuk melaju dan menstabilkan laju perahu ke dermaga.

Baca juga :  Kasidah Nahjul Burdah Ahmad Syauqi: Bukti Kecintaan Kepada Nabi
Hidup adalah Menjelajah dan Berlabuh

Bagi Ki Sukarsa hidup adalah menjelajah dan berlabuh. Ke mana pun dan sejauh mana pun berjelajah pastinya manusia setiap saat akan berlabuh. Dan sebaik-baiknya berlabuh adalah di dermaga yakni assa’dah (bahagia) karena diridhoi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sikap dan cara pandang hidup Ki Sukarsa adalah cerminan keberagamaan masyarakat pesisir Nusantara. Bahkan kalau dicermati dari sudut pernaskahan,  penulisan Naskah Sukarsa yang menggunakan model “kakawin” layaknya macapat berarti usianya lebih tua dari naskah-naskah prosa lainnya.

Itu artinya ciri Islam yang dianut masyarakat Nusantara adalah sebagaimana yang diamalkan Ki Sukarsa. Yakni penyabar, religius, senang membaca puji-pujian dan shalawat, memakai” nawaitu”, memakai qunut, berdoa dengan mengeraskan suara, dsb. Besar kemungkinannya Ki Sukarsa adalah guru besar dari penganut Ahlussunnah wal jemaah di Nusantara.

Jadi kalau ngaku Ahlussunnah tapi tidak memiliki kesabaran dan relegiusitas sebagaimana Ki Sukarsa maka patut dipertanyakan pengakuannya tersebut.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.