Apik dan Mendidik

Ketika Agama Diseret Paksa oleh Pemeluknya

Sebuah lagu populer karya John Lennon Imagine diciptakan pada tahun 1971,“Imagine there’s no countries……nothing too kill or die for, no religion too, imagine all the people, living life in peace”. (Bayangkanlah tak ada negara……tak ada alasan untuk membunuh dan terbunuh, juga tak ada agama, bayangkan semua orang, menjalani hidup dalam damai).

Itu hanya seklumit lirik lagu Imagine. Poin lagu tersebut mengajak kita untuk berpikir tentang perdamaian, kesatuan, dan kemanusiaan. Seandainya hidup tanpa agama dan negara (bayangkan) tidak ada alasan untuk membunuh dan terbunuh. Living life in peace (menjalani hidup dalam damai). Ia pun berkata, and the world will live as one (dan dunia akan bersatu).

Pada lagu Imagine, John Lennon merindukan perdamaian dan kesatuan. Walaupun, beberapa perbincangan menyiratkan, lagu Imagine, kontroversial, seakan mengajak para pendengarnya menjadi atheis. Tetapi, saya tidak ingin terjebak dalam persoalan itu. Lebih asyik coba kita tilik imagine pada kerangka pesan positif.

Diakui atau tidak, cukup banyak kekerasan, pembunuhan, dan diskriminasi terjadi atas nama agama. Namun, kalau kita cari presentasenya, berapa persen hal tersebut terjadi di era modern seperti sekarang dibandingkan dengan pesan damai dan sikap damai yang diajarkan oleh agama kepada dunia? Saya berani pastikan, kedamaian lebih dominan.

Saya yakin, tidak hanya Lennon yang berpikiran seperti itu, banyak di antara kita pun berpikiran sama seperti si Lennon (berandai-andai). Wajar! kepenatan kita dalam merespon dunia yang kacau, sering mengandaikan (menyimpulkan) solusi instan, seperti; seandainya tanpa agama, seandainya agama hanya satu di dunia, dan seterusnya.

Kenapa bisa demikian? Karena banyak orang yang memimpikan perdamaian terwujud. Tapi sepertinya perdamaian hampir mustahil diwujudkan. Paling mungkin yang kita lakukan adalah meminimalisir konflik untuk selalu merawat suasana damai.

Kalau kita kaji lebih dalam, seruan kedamaian selaras dengan ajaran agama, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

Agama itu rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Tuhan menghadirkan agama ke dunia untuk manusia, maksudnya untuk kedamaian seluruh manusia—adanya perbedaan adalah keniscayaan.

Namun, seringkali perbedaan tidak disikapi dengan bijak, agama diseret sebagai dalih pembenaran. Tuhan menghadiahkan agama kepada manusia tidak untuk merusak, tapi untuk menjaga martabat kemanusiaan. Susah membayangkan Tuhan menurunkan agama untuk diri-Nya sendiri, supaya dengan agama manusia membela Tuhan. Apalagi pembelaan dilakukan dengan cara-cara yang dibenci Tuhan: merusak, bom bunuh diri, dan melakukan tindakan tidak bermoral.

Benar-benar bertolak belakang ketika memperjuangkan kebenaran dengan cara-cara tersebut. Perlu diingat, dunia saat ini semakin berkembang dan terbuka, bahkan semakin plural. Artinya, manusia tidak bisa menutup diri dari pandangan dunia yang meluas, kita harus mencari formula yang tepat untuk menemukan cara atau mekanisme menyikapi beraneka ragam perbedaan.

Dalam hal ini, Islam mengajarkan pentingnya mengedepankan sikap toleransi, kerukunan, dan persaudaraan. Tidak mendahulukan kekerasan dan tidak diskriminasi (QS. Al-Baqarah [2]: 148).

Masih hangat di ingatan kita kejadian penembakan dan bom bunuh diri di New Zealand dan Sri Lanka, keduanya terjadi di tempat suci; masjid dan gereja, tempat penuh kedamaian. Gereja dan masjid adalah simbol agung bagi setiap pemeluk agama, di situlah mereka berkomunikasi dengan Tuhan, memasrahkan diri, berdoa, dan beribadah kepada Tuhannya.

Tidak pantas tindakan biadab itu dilakukan di tempat suci, apalagi mengatasnamakan agama sebagai legitimasi. Jikapun alasannya adalah masuk surga, dalam konsep agama surga bisa digapai melalui jalan kemanfaatan di dunia, bukan meniadakan dunia, apalagi menebar kebencian di dunia. Ada keterkaitan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan manusia.

Fenomena tersebut bukan kali pertama agama menjadi bemper pembunuhan dan kekerasan. Di Indonesia memiliki daftar panjang kekerasan atas nama agama, hampir berturut-turut pada tahun 2000-2001, yang terbesar pada saat 24 Desember 2000 terjadi ledakan serentak di Gereja pada saat malam Natal.

Sulit kiranya untuk tidak mengatakan ada yang salah pada sistem keberagamaan kita atau cara kita dalam beragama. Artinya sistem keberagamaan kita harus dibenahi, kenapa? Karena belum mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan.

Agama tidak mengajarkan kekerasan, teks suci selalu berbasis keramahan terhadap manusia. Namun, ketika agama sudah dipeluk manusia, ekspresi beragama diwujudkan sesuai kehendak penafsiran manusia. Kerancuan sikap beragama itu nampak, ketika agama menampilkan wajahnya yang keras di satu sisi tetapi juga tampil dengan wajah lembut, santun, ramah, dan penuh kasih sayang di sisi lain.

Dalam tradisi agama, perbedaan penafsiran teks-teks suci merupakan suatu realitas dan itu terjadi pada semua agama. Ada yang memahaminya secara tekstual, ada juga yang memahaminya secara kontekstual. Penafsiran teks-teks suci tersebut menghasilkan berbagai ekspresi wajah agama, meminjam istilah Stephen Sulaiman Scwartz,  Islam memiliki dua wajah, moderatisme dan radikalisme/fundamentalisme.

Scwartz menggambarkan, wajah moderatisme adalah kesejajaran, kesabaran, santun, toleran, dan inklusif, siap hidup berdampingan dengan para penganut kehidupan yang berbeda.

Sebaliknya wajah radikalisme, ada wajah separatisme, supremasi, sewenang-wenang, agresif, mudah marah, intoleran, dan eksklusif. Wajah radikalisme ini yang harus diantisipasi pergerakannya. Bagi kebanyakan peneliti, radikalisme adalah pintu masuk seseorang menjadi galak dalam ekspresi beragamanya, mudah mengkafirkan, mudah membid’ahkan, dan enteng menyelahkan.

Gerakan radikalisme tidak hanya terjadi dalam Islam, mengutip catatan Karen Armstrong, radikalisme terjadi di semua agama, seperti: Hindu radikal mempertahankan sistem kasta dan menentang muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab di Tanah Suci mereka; Moral Majority yang dipimpin Jerry Falwell dan Christian Right, menganggap Uni Soviet sebagai kerajaan setan, mencapai kekuatan hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an dan masih banyak lagi.

Benar atau tidaknya agama sebagai sumber kekerasan, teror, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, tragedi kemanusiaan yang terjadi telah menyeret pada “pembenaran” ada pengaruh nilai-nilai agama. Karena meraka berdalih membela agama Tuhan. Padahal, jika kita telaah lebih jauh, tindakan tersebut merupakan diseretnya agama secara paksa memasuki area konflik kepentingan pemeluknya.

Namun, di sisi lain kehidupan damai di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, adalah peran agama yang selalu menebarkan kasih sayang. Artinya, kesalahan bukan pada agamanya, melainkan pada orang yang memahami agama terlalu saklek. Selaras seperti yang pernah dikatakan R.A. Kartini, “Agama memang menjauhkan kita dari dosa. Tapi, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan mengatasnamakan agama?”

Karena itu, ajaran Agama harus disampaikan dengan cara-cara benar, sesuai naluri kemanusiaan, bukan naluri kesetanan, agama telah berputar mengelilingi poros kehidupan manusia. Terlalu naif jika kita menutup diri dari pandangan dunia yang semakin meluas, seluruh umat beragama bekembang variatif, simbol-simbol keagamaan tidak hanya dimiliki oleh satu agama, melainkan semua agama: dengan pandangan tertentu, budaya tertentu, dan karakter tertentu.

Efek penyempitan akan menghilangkan toleransi. Hilangnya toleransi tidak hanya urusan agama belaka, juga menyangkut krisis multidimensi: politik, sosial, hukum, ekonomi, dan budaya. Ini berbahaya!

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *