Ketika Langit dan Bumi Menangis

Said bin Jubair bertutur: Seorang laki-laki datang menemui Ibnu Abbas—salah seorang sahabat utama Rasulullah saw. Laki-laki itu bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, apa maksud dari firman Allah yang berbunyi:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh” (QS. Ad-Dukhân [44]: 29)?
Betulkah langit dan bumi akan menangisi kepergian (wafatnya) seseorang?”

Ibnu Abbas kemudian menjawab, “Ya, langit dan bumi akan menangisi kepergian seseorang. Karena tidak ada satu pun makhluk-Nya kecuali mempunyai satu pintu di langit, yang dari pintu itu tempat turun rezekinya dan tempat naik (diterima) amal kebaikannya.

Apabila seorang mukmin meninggal dunia maka pintu langit—tempat turun rezeki dan tempat naik amal salehnya itu—ditutup. Pada saat itulah langit menangis (karena merasa kehilangan seseorang yang amal salehnya biasa naik dari salah satu pintunya).

Demikian juga dengan bumi. Ketika tempatnya di bumi—yang biasa dipakai shalat dan berzikir oleh hamba saleh tersebut—merasa kehilangan dengan wafatnya hamba tadi, maka saat itulah bumi menangis.

Sementara Fir’aun dan kaumnya, karena tidak ada kebaikan yang dilakukannya di bumi, dan tidak ada amal saleh yang naik ke langit, maka langit dan bumi pun tidak menangisi kepergiannya.”
(Tafsîr Ibn Katsîr, Imam Ibnu Katsir (w. 774 H), 7/254; Tafsir ath-Thabari, Imam ath-Thabari (w. 310 H), 22/36).

Sufyan ats-Tsauri mengatakan bahwa Imam Mujahid bertutur, “Tidak ada seorang mukmin pun yang meninggal dunia kecuali langit dan bumi akan menangisinya selama empat puluh pagi (hari).”
“Apakah bumi menangis?” tanyaku (Sufyan ats-Tsauri) kepada Imam Mujâhid.
“Apakah Anda heran? Bagaimana bumi tidak menangisi kepergian seseorang yang biasa memakmurkannya dengan jalan rukuk dan sujud? Bagaimana langit tidak menangisi kepergian seseorang yang selalu mendengar suaranya laksana suara lebah ketika hamba tersebut mengagungkan dan menyucikan-Nya?” jawab Imam Mujâhid. 
(Tafsîr Ibn Katsîr, 7/234).

Demikian, wafatnya seorang mukmin yang saleh bukan hanya membuat manusia menangis, bahkan langit dan bumi pun turut menangisi kepergiannya. Apalagi jika ia seorang mukmin saleh plus berilmu (‘âlim).

Dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya secara sekaligus satu kali cabutan, akan tetapi dengan jalan diwafatkannya para ulama. Sehingga ketika tidak ada para ulama, orang-orang mengambil panutan dari orang-orang bodoh. Lalu orang-orang bodoh tersebut ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa didasari ilmu yang benar. Sehingga mereka pun sesat dan menyesatkan (orang-orang)” (HR. Bukhari Muslim).

Selamat jalan guru dan panutan kita bersama, ulama dan waliyullah mulia, KH. Maimoen Zubair (Mbak Moen). Kepergian Pak Kyai bukan hanya membuat kami sedih dan menangis, namun langit dan bumi pun bersedih dan menangis ….

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.