KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Tashwirul Afkar

KH. Abdul Wahab Hasbullah dilahirkan pada tahun 1888. Ia menerima pendidikan Islam tingkat dasar sampai usia 13 tahun dari ayahnya, KH. Hasbullah, di Pesantren Tambakberas Jombang. Wahab Hasbullah muda kemudian melanjutkan ke Pesantren Langitan di Tuban selama 1 (satu) tahun.

Dari Pesantren ke Pesantren

Selepas belajar di Langitan ia belajar di Pesantren Mojosari Nganjuk selama empat tahun. Di bawah bimbingan Kiai Saleh dan Kiai Zainuddin, Wahab muda memperdalam pengetahuan tentang yurisprudensi Islam. Ia lalu ke Pesantren Tawangsari dekat Surabaya.

Belum puas di pesantren-pesantren itu, Wahab kemudian mondok di Pesantren Kademangan di Bangkalan Madura. Di sana ia belajar kepada kiai paling masyhur di seluruh Jawa dan Madura pada akhir abad XIX dan permulaan abad XX, yaitu Kiai Kholil (Bangkalan).

Abdul Wahab tinggal selama 3 tahun memperdalam Pengetahuan Bahasa Arab, Linguistik, dan Kesusastraan Arab. Kiai Kholil menasihati Abd. Wahab Hasbullah untuk melanjutkan pelajarannya ke Pesantren Tebuireng yang mulai semakin masyhur, karena ketinggian ilmu kecakapan kiainya yang masih tergolong muda kala itu.

Tetapi sebelum ke Pesantren Tebuireng, Abdul Wahab Hasbullah pergi ke Pesantren Branggahan Kediri selama 1 (satu) tahun untuk belajar Tafsir Qur’an, Teologi Islam, dan Tasawuf di bawah bimbingan Kiai Faqihuddin. Setelah itu barulah ia melanjutkan studinya di Pesantren Tebuireng.

Baca juga :  KH Wahab Chasbullah dan Sejarah Ya Lal Wathan
Menjadi Lurah Pesantren Tebuireng 

Karena pengalamannya di berbagai pesantren dan pengetahuannya tentang berbagai cabang ilmu agama Islam yang cukup tinggi (dan kebetulan masih saudara sepupu KH. Hasyim Asy’ari), maka KH. Abdul Wahab Hasbullah ditunjuk sebagai lurah pondok dan anggota baru dalam kelompok musyawarah para ustadz senior, yang setelah belajar di berbagai pesantren (antara 10-20 tahun) dan memiliki pengalaman mengajar, dididik oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk menjadi kiai.

Kegiatan terpenting dalam kelompok musyawarah ini adalah mengikuti seminar-seminar yang membahas berbagai masalah atau soal-soal agama. Baik yang dipertanyakan oleh masyarakat maupun yang dilontarkan oleh kiai sebagai latihan dan bahan pemecahan masalah.

Dari kelompok musyawarah yang dipimpin KH. Hasyim Asy’ari ini, semua anggota kelompok tersebut tanpa kecuali akhirnya menjadi kiai-kiai masyhur di kemudian hari. Di antara teman-teman Abd. Wahab Hasbullah dalam periode itu, misalnya Kiai Manaf Abd. Karim (Pendiri Pesantren Lirboyo, Kediri), Kiai Abbas Bantet (Pemimpin Pesantren Buntet, Cirebon), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Pemimpin Pesantren Sukoharjo di Asembagus, Situbondo).

Belajar di Makkah

KH. Abdul Wahab Hasbullah mengikuti kegiatan kelompok musyawarah, mengajar para santri. Kemudian oleh KH. Hasyim Asy’ari disarankan agar melanjutkan pelajaran ke Makkah.

Baca juga :  KH Wahab Hasbullah, Pionir Pembela NKRI

Abdul Wahab Hasbullah tinggal di Makkah selama 4 (empat) tahun dan berguru kepada banyak ulama seperti: Syekh Mahfudz Termas, Kiai Mukhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Bakir Jogja, Syekh Asyari Bawean, Syaikh Abd. Hamid Kudus, Syekh Said Al-Yamani, Syekh Umar Bayened, dan lain-lain.

Forum Diskusi Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran)

Pada tahun 1914, sepulang belajar dari Makkah beliau memilih kota pelabuhan yang ramai, Surabaya, sebagai tempat kediamannya. Beliau dengan sukses menjalankan sejumlah usaha dan menjadi kaya raya. Ia pun bergaul luas dan mempunyai banyak teman dalam gerakan nasionalis.

Pada tahun itu pula pemuda Abdul Wahab Hasbullah menikah dengan anak gadis (Putri Kiai Musa) di Surabaya, dan menetap di Pondok Kertopaten Surabaya sambil mengajar di pondok tersebut.

Pada saat itu KH. Wahab Hasbullah sudah merasakan perlunya membentuk pergerakan dengan mendidik para kader dalam bentuk ‘Tashwirul Afkar’ (Potret Pemikiran atau Pantulan Gagasan-gagasan). Klub pendahulu NU ini didirikan oleh Kiai Wahab Hasbullah. Ide ini kemudian mengkristal menjadi semacam kursus perdebatan untuk anak-anak muda dan kiai-kiai muda.

Munculnya tashwirul afkar bersamaan dengan fenomena pembaharuan beberapa pesantren besar di mana penjajahan Belanda yang telah melakukan perubahan. Di Pesantren Tebuireng misalnya, sejak 1916 sudah diakomodasi pembaharuan dengan mendirikan madrasah yang dalam kurikulumnya diajarkan bahasa Inggris, Geografi, dan ilmu pengetahuan alam.

Baca juga :  KH Wahab Hasbullah, Sang Penggagas Istilah Halal Bi Halal

Seiring dengan itu pula Tashwirul Afkar dan perubahan-perubahan di pesantren terus bergema. Kursus-kursus itu terus berjalan sampai didirikannya NU pada tanggal 31 Januari 1926.

Dari tonggak ‘tashwirul afkar’ ini pula bagi kalangan pesantren dikondisikannya kreativitas berpikir dan forum perdebatan, bahtsul masail diniyah tidak ditabukan untuk mencapai sebuah kemajuan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *