KH Bisri Musthofa, ‘Singa Podium’ yang Dakwah dan Susun Kitab Pakai Bahasa Lokal

KH Bisri Musthofa

KH Bisri Musthofa adalah ayah dari KH Musthofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus. Kiai Bisri lahir di kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah, pada tahun 1915 M yang bertepatan tahun 1334 H.

Beliau terlahir dari pasangan Zainal Mustofa dan Khatijah. Kedua orangtuanya memang bukan orang yang terpandang dari segi keilmuan, namun ayahnya merupakan saudagar kaya yang cinta terhadap para ulama.

Setiap kali pulang berdagang, sebagian laba hasil jualan ayah Kiai Bisri disedekahkan kepada para ulama yang ada di sekitarnya. Dengan kepedulian itulah yang kemudian  menghantarkan anak keturunannya menjadi seorang ulama kondang, yaitu KH Bisri Musthofa dan KH.\ Misbah Zainul Musthafa (adiknya).

Kiai Bisri Musthofa merupakan pendiri pondok pesantren Raudhatut Tholibin, Rembang, Jawa Tengah. Tidak hanya sebagai ulama, beliau juga dikenal sebagai seorang pemikir Islam, seniman, budayawan, politikus, dan. Dilihat dari ‘gelar’ yang disandang tersebut, Kiai Bisri termasuk kiai yang multitalent.

Selain itu, KH Bisri Musthofa merupakan seorang penceramah (mubalig/dai) handal. Beliau sering mendapat undangan dalam berbagai acara keagamaan, baik di lingkungannya sendiri maupun ke berbagai daerah di luar Rembang, seperti Blora, Semarang maupun daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Beliau dikenal pandai dalam mengolah kata. Ia mampu mengkritik seseorang tanpa menyakiti hati yang dikritik, mengubah suasana yang ’garing’ menjadi cair. Dan yang pasti ada banyak joke-joke (humor) yang selalu menyertai ceramahnya. Tak ayal, masyarakat saat itu memberi julukan “singa podium” pada dirinya.

Baca juga :  Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Pemabuk

Kepiawaiannya dalam mengolah kata pun diimbangi pula dengan mengolah tulisan. Hal ini terlihat dari banyaknya karya tulis yang dihasilkan. Sehingga pantas kiranya Kiai Bisri dikategorikan kiai yang prolific (produktif).

Adapun karya Kiai Bisri mencakup banyak bidang, mulai dari fikih, akhlak, hingga tafsir Alquran. Karya-karya tersebut ada yang berbentuk narasi dan nadhom atau syair. Semua karya tersebut mayoritas berbahasa Jawa ngoko.

Mengaca pada fakta-fakta inilah menarik ketika membahas sisi keberhasilan KH Bisri Musthofa sebagai juru dakwah atau pendakwah. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari ketertarikan para santri pada masa Kiai Bisri masih hidup dan pengaruh beberapa karyanya yang masih diminati dan dipelajari oleh masyarakat hari ini.

Salah satu karya penting Kiai Bisri ialah Tafsir Al-Ibriz. Kitab ini masih dipelajari di berbagai pesantren di Jawa bahkan hingga di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Dilihat dari berbagai karya yang dituliskan, yang mayoritas dengan bahasa Jawa, tampak KH Bisri Musthofa menggunakan strategi dakwah kultural. Hal itu dapat diketahui dari bagaimana dirinya membidik sasaran dakwahnya dengan tepat.

Karena yang dihadapi masyarakat Jawa, maka KH Bisri Musthofa memilih bahasa lokal (Jawa) sebagai penjelasan berbagai karyanya. Strategi ini terbilang ampuh, karena penjelasan yang diuraikan dapat dipahami dengan baik oleh kalangan masyarakat sekitarnya.

Baca juga :  Syekh Astari Cakung dan Karomahnya

Contoh lain misalnya, strategi kultural tersebut terlihat dari penafsiran akhir surat al-Baqarah. Dalam tafsir tersebut Kiai Bisri Musthofa menjelaskan bahwa jika ayat tersebut dibaca di dalam rumah, niscaya setan tidak berani masuk ke dalam rumah tersebut.

Penjelasan ini diberikan Kiai Bisri Musthofa bukan tanpa alasan. Hal ini diutarakan karena beliau tahu tentang budaya Jawa yang pada saat itu mayoritas masyarakatnya meyakini soal hal-hal gaib.

Bahkan, sampai sekarang pun keyakinan tersebut masih ada. Dengan strategi demikian, maka upaya Kiai Bisri dapat mempengaruhi masyarakat, baik pada saat itu maupun sekarang.

Bukan tanpa alasan, KH Bisri Musthafa menggunakan strategi tersebut. Karena ia juga paham betul bagaimana strategi dakwah Alquran sebagaimana yang tersirat dalam Surat Ibrahim ayat ke-4, yang berbunyi ”Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka..”.

Dengan ayat ini nampak sudah teramat jelas bahwasanya ketika ada seorang mubalig berdakwah, hendaklah dengan bahasa yang dipahami oleh mayarakat sekitar atau kaumnya.

Apa jadinya jika orang Jawa “zaman dahulu” didakwahi dengan bahasa Arab atau Inggris, yang mayoritas belum menguasai bahasa tersebut apalagi untuk memahaminya.

Dengan pemahaman ayat itulah tampaknya KH Bisri Musthofa menerapkan strategi dakwah Alquran dengan baik dan benar. Beliau mengajarkan syariat Islam kepada komunitas Jawa dengan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh mereka.

Baca juga :  Prie Gs dan Budaya Kritik yang Menggelitik

Sehingga dakwah Kiai Bisri dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar kaum muslim di tanah Jawa. Selain itu, dakwah dengan pendekatan budaya seperti di ataslah yang perlu untuk dilestarikan. Hal ini karena dakwah seperti ala Kiai Bisri yang akan mudah diterima oleh masyarakat.

Cara demikian ini pada dasarnya telah yang dilakukan dan diajarkan oleh para Walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, pada umumnya di kawasan Nusantara.

Adapun Kiai Bisri Musthofa wafat di Semarang, tepatnya di Rumah Sakit Umum Dr. Karyadi pada hari Rabu tanggal 17 Februari 1977 menjelang waktu Asar. Sedangka makamnya berada di komplek pemakaman di Jl. Taman Bahagia No.12, Kabongan Kidul, Kec. Rembang, Kabupaten Rembang.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *