Kiai Halim

Agak kaget juga ketika aku mendengar pembicaraan dua orang laki-laki setengah baya yang duduk di depanku di atas kereta api ekonomi jurusan Yogya-Bandung itu. Aku dalam perjalanan pulang seusai menghadiri haul almarhum Kiai Munawwir yang dibarengkan dengan haul para putra dan menantunya di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Keduanya menyebut-nyebut nama seorang tetanggaku. Aku yakin itu tetanggaku karena ciri-cirinya persis seperti yang kusimak dari pembicaraan mereka.

“Saya tak bisa membayangkan kalau Pak Halim meninggal,” kata laki-laki berbaju batik biru yang duduk dekat jendela. Aku duduk tepat di depannya sementara di sampingku duduk seorang ibu muda yang asyik membaca tabloid wanita. “Rencana pembentukan perpustakaan di desaku bisa berantakan,” sambungnya.

“Apakah Pak Halim sudah memberi persetujuan?” tanya laki-laki yang satunya.

“Iya, tapi baru persetujuan lisan. Kiai kita itu sangat sibuk. Dia memintaku untuk datang lagi ke rumahnya kalau dia sudah ada waktu luang.”

“Kapan dia punya waktu?”

“Lha, itulah masalahnya. Aku sendiri tidak tahu kapan. Sekarang dia sakit. Kata orang-orang yang sudah menengoknya, penyakitnya cukup parah dan dia tak bisa diganggu.”

Kedua orang itu berbicara panjang lebar, akrab, seraya sesekali tertawa cukup keras. Obrolannya tak terganggu oleh lalu-lalang pedagang asongan dan padatnya penumpang.

Dari perbincangan keduanya aku bisa menangkap bahwa Pak Halim terlibat dalam rencana pembentukan sebuah perpustakaan di desa yang memiliki tujuh pesantren. Laki-laki berbatik biru itu rupanya menjadi penggagas dan pelaksananya, sedangkan lelaki berkacamata, yang duduk di sebelahnya kukira seorang sahabat lamanya yang kebetulan bertemu di stasiun.

Pak Halim bersedia mencarikan bantuan buku-buku, koran, majalah serta jurnal ilmiah. Sementara biaya pembangunan gedung perpustakaan ditanggung oleh masyarakat desa dan kyai-kyai pesantren. Bisa kumengerti jika laki-laki berbatik biru yang sesekali mengangkat kakinya ke atas kursi, bersila seraya menepuk-tepuk pahanya itu, sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan tetanggaku.

“Pecel .. pecel .. peceeel.” Seorang perempuan bertubuh agak gemuk menawarkan jualannya, di tengah teriakan penjual nasi dan air mineral. Perhatianku beralih pada tukang makanan favoritku itu saat kedua lelaki di depanku membahas pemikiran-pemikiran Pak Halim.

Sejak berangkat jam delapan pagi tadi, pedagang asongan hilir mudik menjajakan aneka makanan, jajanan, mainan anak-anak. Tukang pecel inilah yang kutunggu. Biasanya antara jam sepuluh-sebelas siang, barulah rombongan perempuan pedagang pecel muncul dan menjajakan dagangannya dengan langgam yang khas.

Kalau kebetulan naik kereta api ekonomi yang sebagian jok busanya telah mengelupas itu, aku dan keluargaku, selalu menyempatkan membeli sepincuk pecel. Pusing kepala akibat kurang tidur semalaman lumayan bisa berkurang.

Ketika kulipat-lipat daun pembungkus pecel dan kumasukkan ke kantung plastik lalu kuletakkan di bawah kursi, sebab tak pernah ada wadah sampah di kereta kelas ekonomi itu, pembicaraan mereka beralih pada kelebihan-kelebihan Pak Halim yang bersifat mistik.

Sengaja atau tidak, aku sering mendengar dongengan orang tentang hal itu, mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang aneh-aneh.

Baca juga :  Arti Senyum Kiai Idris

Selagi kedua orang laki-laki di depanku terus berbincang, aku jadi ikut mencemaskan kondisi tetanggaku yang dijadikan bahan obrolan mereka. Kalau tidak ada kepentingan mendadak menggantikan orangtuaku untuk menghadiri haul, aku bisa dipastikan sedang berjaga di rumahnya.

Ia, Kiai Abdul Halim bin Abdul Hakim itu, sejauh pengamatanku adalah seorang tetangga yang dermawan, yang dijadikan tempat pengaduan orang di sekitar rumahnya saat kepepet memenuhi kebutuhan hidup. Tetangga yang sangat sibuk. Pergi pagi dan pulang menjelang tengah malam, atau beberapa hari ke luar kota. Permintaan kepadanya untuk menjadi pembicara dalam beragam forum seperti tak pernah putus.

Aku tidak begitu faham mengapa banyak orang menganggapnya manusia setengah dewa, semisal Bu Kek Siansu yang memiliki kesaktian luar biasa dalam cerita silat Asmaraman S Kho Pingho, yang selalu muncul pada saat genting itu.

Orang-orang datang kepadanya untuk mengadukan segala macam persoalan, karena mereka menganggapnya akan dapat memberikan jalan keluar. Mungkin sebab ia pandai membaca kitab kuning sehingga disebut kiai. Sekalipun tidak pernah mau menjadi imam salat di mesjid, ia sering diminta berbicara mengenai masalah keagamaan.

Dalam beberapa ceramahnya yang kuikuti, ia kerap mengutip ucapan tokoh ulama yang bersumber dari kitab kuning. Kalau sedang memaparkan sejarah perkembangan kebudayaan masyarakat abad pertengahan, ia memang amat meyakinkan. Layaknya baru kemarin ia bersua dengan tokoh-tokoh yang diceritakannya itu. Sedangkan saat berdoa bacaannya pendek saja, tidak sebagaimana seorang kyai yang lazim berdoa panjang dan lama.

Atau mungkin ia seorang wali seperti sering kudengar. Pak Halim memang secara rutin berziarah ke makam walisanga. Ia juga suka menjelajah kuburan kuno yang menurutnya sebagai makam wali. Sekalipun masyarakat di sekitarnya selama ini menganggap kuburan orang kebanyakan.

Mereka baru mau berziarah setelah ia menjelaskan latar belakang tokoh yang dimakamkan di situ. Kadang ketika tengah melaju diatas mobil, disuruhnya sopir memperlambat kecepatan dan menepi.

Ia lalu berkirim surat Al-Fatihah. “Disebelah kiri jalan disamping ruko itu,” katanya kepada sopir dan pengiringnya, “makam seorang wali Allah. Dia penyebar agama di daerah ini. Sejak beberapa tahun lalu tanah kuburannya dibeli pengusaha dan di sekelilingnya kini dibangun ruko seperti kalian lihat.”

Barangkali juga karena ia piawai mengupas film, musik, pertunjukan teater, sepak bola, yang kemudian menyebabkannya dijuluki budayawan. Di samping memiliki kitab-kitab dan buku-buku, ia mengoleksi kaset dan CD musik.

Di sela-sela kesibukannya ia pun masih sempat membaca novel karya sastrawan mancanegara, sehingga pernah bercita-cita ingin menulis novel yang hingga sekarang belum kesampaian. Aku pernah secara tak sengaja mendengar seorang wartawan menanyakan rencananya ini. “Menulis novel bernilai sastra itu bukan pekerjaan sambilan. Saya belum punya cukup waktu,” jelasnya memberi alasan.

Di luar itu semua ia seorang pemarah yang terkadang emosional. Ia bisa marah besar untuk sebuah kesalahan kecil yang dianggapnya prinsip. Aku pernah dimarahinya gara-gara membaca sebuah kamusnya yang tebal dan tanpa kusadari terlipat sebagian ujung kertasnya.

Baca juga :  Relikui Sang Kiai

“Memperlakukan buku itu harus seperti mengurus diri sendiri,” katanya dengan nada tinggi yang ditahan. “Jangan gegabah! Pakailah penyekat. Jangan dilipat-lipat seperti ini! Kamus ini sudah bertahun-tahun kupakai, dan seperti kamu lihat, tetap terawat baik.”

Pergaulannya yang luas telah membuatnya seolah hafal watak orang per orang. Tetapi dalam kesehariannya ia tak pernah membeda-bedakan orang yang berkunjung ke rumahnya. Senantiasa ia terima dan santuni. Bahkan jika di antara mereka ada yang mampu meyakinkannya dalam sebuah urusan, tak segan ia melimpahkan kepercayaannya. Untuk hal satu ini, aku sulit memahami.

Ia yang kusangka bisa mengerti isi hati seseorang, ternyata mudah percaya kepada orang di sekelilingnya. Aku kian tak mengerti saat kudengar banyak orang yang memanfaatkan kelemahannya itu untuk mencari keuntungan pribadi. Bukan rahasia lagi berita bahwa ia banyak dikhianati dan ditipu oleh orang-orang yang justru tampak dekat dan sering datang ke rumahnya.

Rumahku berjarak sekitar tujuh puluh lima meter dari rumahnya. Sering aku menyapa dan menyalaminya sepulang kami salat subuh di mesjid. Jika ia bersama keluarga pergi keluar kota, aku diajak oleh pembantunya untuk menemani menunggui rumahnya. Aku senang sebab salah seorang pembantunya itu mempunyai banyak cerita yang menarik dan aktual mengenai majikannya.

Dari pembantunya inilah semua berita tentang Pak Halim kuperoleh. Aku terbiasa tidur di bawah rak buku-kitabnya yang tertata rapi, sambil melamunkan seluruh ilmu di dalamnya akan masuk ke dalam otakku sehingga aku pun bisa pintar seperti dirinya. Aku masih ingat cerita pembantunya bahwa seseorang bisa mendapatkan ilmu laduni, ilmu yang dilimpahkan Tuhan kepada hamba-Nya, melalui proses mimpi setelah berpuasa sekian hari yang dibarengi bacaan wirid khusus.

“Kalau setelah itu seseorang bermimpi meminum air laut hingga habis, berarti ia telah memperoleh ilmu laduni dan akan menjadi pandai dalam segala hal,” jelas pembantunya, meyakinkanku. Sayang, aku tak pernah kuat berlama-lama puasa dan berwirid.

Setiap hari orang silih berganti mendatangi rumahnya. Tak jarang ketika tamunya membludak, aku dipanggil pembantunya untuk ikut menata ruangan dan melayani menyuguhkan hidangan. Dari dapur terkadang dapat kutangkap pembicaraannya saat ia melayani persoalan tamu-tamunya.

Ia selalu berusaha menjadi pendengar yang baik dan menyenangkan para tamunya dengan komentar-komentar singkat. Untuk tamu-tamu tertentu ia berbicara panjang-lebar, lama, dan serius.

Yang paling menyusahkannya ialah tamu yang memintanya berdoa. Sebisa mungkin ia akan menolak, terkecuali kalau tamunya sangat memaksa Pernah suatu ketika ia kedatangan seorang ibu yang menghadiahinya satu set kaset wayang.

Terharu sekali ia melihat perhatian perempuan yang telah berumur itu dan tanpa ragu ia berikan sebagai gantinya sejumlah uang dalam amplop tebal yang baru diterimanya dari sebuah seminar.

Baca juga :  Kiai Abul Fadhol Senori, Kiai Desa Kelas Dunia

Aku setengah tak percaya ketika dua minggu yang lalu, mendengar kabar dari pembantunya bahwa Pak Halim dirawat di rumah sakit setelah jatuh pingsan dalam sebuah acara diskusi panel. Sejak hari itu aku dan teman-teman remaja mesjid bergiliran menjaga rumahnya.

Karena perut terus keroncongan, setelah kereta melewati stasiun Banjar, aku membeli sebungkus nasi dengan lauk sekerat daging ayam, sayur tempe, dan ditambah sedikit sambal. Di stasiun inilah kelompok pedagang berganti. Dari yang sebelumnya bernuansa Jawa, kini aroma Sunda mulai terasa dari teriakan pedagang dan jenis barang yang ditawarkan.

Kedua laki-laki yang ternyata kawan lama di pesantren itu meneruskan kembali obrolannya setelah terputus oleh tidur antara Maos-Majenang. Hampir saja aku tersedak saat menggigit tulang ayam ketika laki-laki berbaju batik itu mengatakan bahwa Pak Halim sakit karena diteluh. Segera kututup mulutku dengan tangan kanan dan kumuntahkan nasi ke kantung plastik.

“Kau percaya atau tidak, itulah berita terakhir yang aku dengar langsung dari Pak Manap yang sering berkunjung ke rumahnya.”

“Katanya Pak Halim itu sakti, kok masih mempan diteluh orang?”

“Yang mengirim teluh tentu lebih sakti lagi!”

“Apa dosa Pak Halim sampai dia diteluh?”

“Kata Pak Manap, asal mulanya dia bersilang pendapat dengan seorang tokoh soal permainan sepakbola Indonesia. Pak Halim menganggap strategi menyerang secara total sudah saatnya diterapkan, sedangkan bagi tokoh itu, yang terbaik ialah pola bertahan mengandalkan serangan balik. Debat itu katanya seru sekali dan masing-masing ngotot mempertahankan pendapatnya. Tak lama kemudian Kiai kita jatuh sakit.”

“Hanya gara-gara itu dia diteluh?”

“Kiai kita dengan tokoh itu sudah sejak lama selalu berseberangan pendapat. Kau tahu sendiri, dia kalau bicara suka poksang, apa adanya, terkadang pedas menyindir. Tokoh itu mungkin tersinggung dan merasa dipermalukan di muka umum.”

“Apa bukan kebetulan saja. Pak Halim kan sangat sibuk, kurang memperhatikan kesehatan, sampai tak disadari penyakit gawat menyerangnya tiba-tiba.”

“Kata Pak Manap, tokoh itu jagoan mistik. Korbannya sudah banyak.”

“Mendengar ceritamu, aku jadi sangsi dengan kewalian Pak Halim.”

“Bisa saja kiai kita itu sedang lengah, terkena apes. Lagi pula, tak ada jaminan seorang wali itu kebal teluh!”

Aku tak dapat berkonsentrasi lagi menyimak obrolan mereka yang mulai menjurus ke perdebatan. Kepalaku menjadi agak pening sebab sejak berangkat tadi tak semenit pun bisa memejamkan mata. Dan saat aku terbangun menjelang masuk stasiun Cibatu, rupanya kedua orang itu tetap belum menemukan kata sepakat.

Bahkan, hingga keduanya beranjak turun di stasiun yang sudah masuk wilayah Garut itu, perdebatan mereka belum juga usai.

Laki-laki berbaju batik kukuh bahwa Pak Halim sakit akibat diteluh, sedangkan laki-laki berkacamata tetap menyangsikannya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *