Kiai Said Cerita Pangeran Diponegoro sebagai Santri

Jakarta-Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun, dari tahun 1825 sampai tahun 1830 dipimpin oleh seorang santri tulen. Tak banyak yang mengetahui kisah kesantrian Sang Pahlawan yang menggelorakan perjuangan besar di Tanah Jawa itu.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siroj mengungkapkannya dalam Pidato Kebudayaan yang disampaikannya dalam rangka Hari Santri 2019. “Abdul Hamid yang dikenal Pangeran Diponegoro adalah santri tulen,” katanya di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10).

Kiai Said menceritakan bahwa Pangeran Diponegoro kali pertama mondok kepada K.H. Hasan Besar Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Ia juga mengaji kepada K.H. Taftazani Kertosono, serta belajar kitab Tafsir Jalalain kepada K.H. Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Bahkan, jelas Kiai Said, cucu Ratu Ageng Kadipaten Ngayogyakarta itu juga menulis dengan tangannya sendiri sebuah kitab tentang hukum Islam berjudul Fathul Qorib. Kitab tersebut menjadi salah satu peninggalan sang pangeran. “Bahkan, jika kita pergi ke Magelang dan melihat kamar Pangeran Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, kita dapat menemukan tiga peninggalan Pangeran Diponegoro, Alquran; tasbih; dan kitab Fathul Qorib,” ceritanya.

Melihat fakta yang sedemikian itu, tak aneh jika Kiai Said menyebut begitu besar peran santri dalam perjuangan bagi Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. “Betapa perjuangan dan kontribusi para santri kepada bangsa dan negara sangat besar,” katanya di hadapan hadirin dari berbagai kalangan itu.

Baca juga :  Ta’zir: Model Pendidikan Karakter Pesantren

Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, katanya, merupakan ajang untuk kembali menggelorakan spirit perjuangan santri-santri terdahulu yang telah memberikan teladan dalam menumpas penjajahan di Bumi Pertiwi. Dengan begitu, komitmen kebangsaan santri semakin teguh.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.