Kiai Zastrouw, Iwan Fals, dan Misi Sosial Budaya di Pesantren

“Ki Ageng Ganjur membuat saya bangga
menjadi umat Islam. Wajah Islam yang damai,
kreatif dan menyenangkan berhasil ditampilkan
secara baik oleh Ki Ageng Ganjur” (Bimbim Slank)

Pondok pesantren merupakan perwujudan islam dalam menyesuaikan dengan kebutuhan bumi Nusantara, lebih spesifiknya adalah sebagai lembaga pendidikan tradisional.

Lalu dari mana asal-mula kehadiran pesantren?  Beberapa menyebutkan kalau asal-usul pesantren adalah lembaga yang bernama  mandala, pawiyatan, atau asrama. Ketiga lembaga ini dikenal dalam tradisi pendidikan Hindu-Budha sebelum islam.

Penyebutan mandala muncul dalam teks Tantu Panggelaran sekitar abad ke-16 M. Istilah pawiyatan disebut oleh Ki Hadjar Dewantara dalam salah satu tulisannya di tahun 1930-an. Sementara asrama disebut dalam teks Sri Tanjung abad ke-16 (Ahmad Baso, 2020).

Paradigma bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional yang jauh dari modern dan menolak yang namanya globalisasi tidak bisa langsung disalahkan. Dahulu memang pesantren berangkat  dan lahir dari karakter yang ‘sederhana’ namun sekarang dapat kita amati tidak sedikit pesantren yang lahir dan bermetamorfosis, bertransformasi menjadi lembaga-lembaga modern bahkan Go internasional.

Artinya kini pesantren-pesantren yang ada di bumi Nusantara mulai melakukan penyesuaian seiring perkembangan zaman. Penyesuaian itu dapat berupa metode pembelajaran dalam pesantren, aspek kurikulum, tradisi, vasilitas, visi dan misi, serta lain-lain.

Berbicara pesantren, menarik untuk dibahas tentang Konser Perjalanan Religi musisi legendaris indonesia Iwan Fals tahun 2010 bersama kiai sekaligus pimpinan grup musik Ki Ageng Ganjur, Kiai Zastrow Ngatawi. Beliau adalah asisten sekaligus orang terdekat Gus Dur waktu masih hidup.

Konser Perjalanan Religi bersama Iwan Fals jelas-terangnya adalah untuk menyambangi ke sejumlah pondok pesantren, tidak hanya sekadar menyambangi, misi besar lainnya adalah sosialisasi tentang lingkungan, kerukunan, penangkalan radikalisme, dan lain-lain. Semuanya dikemas dalam bentuk bermusik lalu diselingi dengan pengajian oleh Kiai Zastrow.

Perintah Gus Dur

Perjalanan Konser Religi ini bermula dari cerita Kiai Zastrow yang mendapat perintah dari almarhum Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid  Gus Dur.

Baca juga :  Sullam at-Taufiq, Karya Kompilatif Monumental Seorang ‘Alawiyyin

Singkat cerita, suatu hari setelah sepeninggal Gus Dur atau kiranya tepat di 100 hari almarhum, Kiai Zastrow berziarah ke makam almarhum Gus Dur. Ada cerita menarik pada saat itu.

Pada saat prosesi ziarah mulai dari tawasul dan kirim-kirim doa untuk almarhum, seketika Kiai Zastrow merasa seperti Gus Dur mendatanginya lalu seraya mengucapkan, “Kamu ngapain doa di sini Trow, saya kamu doain dari mana saja bisa, sudah kamu pulang, kamu nyapu jalan saja, tugas kamu nyapu jalan saja.” Akhirnya begitu selesai kiai Zastrow pun bertanya-tanya maksud dari perintah Gus Dur tadi.

Singkat cerita Kiai Zastro bertanya ke padaMbah Liem Klaten soal perintah Gus Dur itu. Jawaban Mbah Liem hanya memerintahkan Kiai Zaztrow untuk pulang biar nanti Mbah Liem yang tanya ke Gus Dur apa maksudnya.

Tidak berhenti sampai di situ, karena merasa kurang puas dengan jawaban Mbah Liem tadi, akhirnya Kiai Zastrow pun tanya ke Habib Luthfi apa maksud dari sapu jalan yang dimaksud Gus Dur itu.

Habib Luthfi malah balik bertanya ke Kiai Zastrow

“Lah Trow sapune wes nduwe opo durung? kalo durung nanti Gus Dur ngasih sapu ke kamu. Sekarang kamu pulang saja.”

Kiai Zastrow pun nurut untuk pulang. Singkat cerita kiai Zastro sampai di rumah dan selang beberapa hari kemudian datanglah teman beliau yang kebetulan mantan managernya Iwan Fals. Manager itu menyampaikan kalau Iwan Fals ingin bertemu dengannya. Kemudian bertemulah Kiai Zastrow dengan Iwan Fals, dari pertemuan itu tercetuslah ide Konser Religi ke pesantren-pesantren.

Mungkin inilah yang dimaksud Gus Dur soal perintahnya kepada Kiai Zastrow untuk pulang dan menyapu jalan. Konser yang kemudian berjalan tidak lain bermaksud sebagai instrumen untuk mendekatkan masyarakat umum dengan pesantren dengan santri, anak-anak Oi dengan santri dengan pesantren, dan anak-anak jalanan dengan santri dengan pesantren.

Baca juga :  Profil Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo

Konser ini sebagai jalan agar terus menjalin silaturahmi dengan kiai, santri dan pesantren. Seperti halnya dulu Gus Dur waktu beliau masih hidup. Pegaweane Gus Dur ki yo manjing metu umahe kiai.

Konser Musik Keliling Pesantren

Dalam setiap konsernya di setiap pesantren, Iwan Fals bersama dengan kiai Zastrow dan kiai pesantren beserta santri tidak pernah lupa untuk melakukan penanaman bibit pohon sesuai dengan misi sosialisasi lingkungan di samping dengan maksud awal tadi, manjing metu umahe kiai.

Penanaman bibit pohon ini dilakukan di lingkungan pesantren maupun masyarakat. Kegiatan ini sebagai bentuk sosialisasi terhadap lingkungan.

Dalam salah satu kesempatan di atas panggung, Kiai Zastrow menyampaikan, “Selain kita ngaji, Bang Iwan juga menanam pohon, insyaallah pohon yang kita tanam tumbuh dan barokah. Kenapa Bang Iwan menanam? Nanti akan kita jawab dalam tafsiran ajaran Agama, cuma jangan hanya menanam tapi juga disiram”, lanjutnya.

Lembaga pondok pesantren yang umumnya mengajarkan empat nilai: tawassut (tengah-tengah), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan Itidal (konsisten, adil) menjadi tepat kiranya menggandeng pondok pesantren sebagai partner untuk mensosialisasikan tentang isu lingkungan, kerukunan, radikalisme, dan lain-lain.

Berangkat dari itu dapat sedikit kita artikan tentang empat nilai tadi, pertama tawassut (tengah-tengah), jelas bahwa dalam pesantren tidak ada kurikulum atau pengajaran yang menjurus pada tindakan extrimitas. wala tatharruf yamin wala tatharruf yasir.

Kedua tasamuh (toleran, merangkul), kehidupan di pondok pesantren yang santri-santrinya datang dan berasal dari berbagai wilayah menjadikan para santri agar dapat hidup bersama dengan berbagai macam perbedaan pemikiran, ras, suku, dan warna kulit.

Dari sinilah toleransi diajarkan, tentu tidak dapat terlepas juga dari materi-materi yang bersumber dari kitab yang mengajarkan tentang toleransi dan kerukunan umat.

Baca juga :  Profil Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang

Ketiga, tawazun (seimbang). Kiai Zastrow menyampaikan bahwa pesantren mengajarkan nilai tawazun (seimbang), seimbang dunianya seimbang akhiratnya, seimbang ibadahnya seimbang hiburanya. Nilai yang terakhir itidal (adil/konsisten).

Lagu ‘Pondokku’

Dari konser Perjalanan Religi keliling ke sejumlah pondok pesantren inilah kemudian lahir lagu yang diciptakan langsung oleh Iwan Fals dengan judul  ‘Pondokku.’

Lagu Pondokku ini berkisah tentang kehebatan pondok pesantren yang di dalamnya banyak menyimpan mutiara dan ‘emas’ terpendam di kesehariannya.

Dari pondok pesantren inilah lahir tokoh-tokoh besar bangsa ini seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurkholis Madjid  (Cak Nur), Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Selain menguasai ilmu Agama mereka juga seorang seniman sekaligus budayawan, ungkap Iwan Fals. Emas terpendam di keseharianmu. Senandung doa-doa terus tergenang.

Pondokku – Iwan Fals (2010)

Pertama merasakan hidup yang sesungguhnya
Oh pondokku kau ajari aku yang nyata
Namamu terus terkenang
Diantara nama-nama lainnya

Emas terpendam di keseharianmu
Senandung doa-doa terus tergenang
Arahkan hati dan akalku kepadanya
Lapangnya dada mengenangmu rumah ilmu rumah kebaikan

Makanya aku merindukan itu
Aku merindukan suasana itu
Lihatlah betapa bercahayanya wajahnya
Sinarnya menerangi jalanku

Pondokku…pondokku
Pondokku…pondokku.

 

Sumber:

Menjadi Islam, Menjadi Indonesia (M. Zidni Nafi)

Pesantren dan Kebudayaan (LESBUMI Yogyakarta)

TEMPO.CO

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *