Kiprah Perempuan Pesantren dari Era Kolonial, Pasca Kolonial hingga Milenial

IQRA.ID, Jakarta – Kontribusi peran perempuan pesantren sudah tidak dapat diragukan lagi, banyak bukti-bukti sejarah yang mengungkapkan berbagai peran bu nyai dalam berbagai hal yang bukan hanya sekedar mendampingi seorang kiai untuk mengurus santri.

Demikian keterangan tentang berbagai tokoh perempuan pesantren yang berperan dalam membangun peradaban dari masa ke masa yang diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Fatkhul Mu’in Purwokerto, Nyai Hj Durrotun Nafisah dalam Webinar Pra Silatnas Bu Nyai Nusantara 3  yang digelar melalui Zoom, Selasa (25/10/2022) lalu.

Nyai Hj Durroh, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pada era kolonial sebelum tahun 1945 ada beberapa tokoh perempuan yang menggemparkan dunia yakni pertama Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Johan yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan.

“Ia menjadi ratu yang memerintah di Aceh antara tahun 1642-1675 yang gemar mengarang sajak dan cerita serta membantu berdirinya perpustakaan di negaranya. Pada masanya kajian dan literatur Islam bahkan ekonomi dan perdagangan sangat berkembang pesat,” jelasnya

“Kedua Keumala Hayati yang bergerak dalam bidang politik militer. Ia memimpin 2000 orang pasukan janda-janda pahlawan yang telah syahid berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu sehingga ia dijuluki laksamana atas keberaniannya,” sambung Nyai Hj Durroh.

Baca juga :  Belajar Survive di Tengah Pandemi dari Li Ziqi dan Dianxi

Ketiga, lanjutnya, Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah yang bergerak dalam bidang pendidikan Islam. Ia berperan mendirikan diniyah putri, taman kanak-kanak hingga sekolah tinggi. Keempat Raden Adjeng Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan. Ia merupakan pahlawan nasional yang mengadvokasi hak-hak perempuan dan pendidikan bagi perempuan.

“Kelima Syekhah Khairiyah Hasyim yang menggagas madrasah banat di Arab agar kaum hawa diberi ruang untuk belajar. Ia juga merupakan perempuan pertama yang menjadi PBNU. Keenam Nyai R Djuaesih dan Nyai Siti Sarah sebagai penggagas berdirinya organisasi perempuan Muslimat NU,” imbuhnya.

Sedangkan di era pasca kolonial dari tahun 1945-2000-an, Nyai Durroh menerangkan ada beberapa tokoh perempuan pesantren yang berjasa besar yakni Chuzaimah Mansur, Aminah Mansur dan Murthosiyah sebagai perintis Fatayat NU. Nyai Fatimah, Nyai Mahmudah Mawardi, Nyai Khoiriyah Hasim sebagai tokoh yang aktif pada organisasi masyarakat Muslimat PBNU.

“Kemudian ada juga Nyai Hj Sinta Nuriyah sebagai aktivis perempuan pendiri puan amal hayati. Khofifah Indar Parawansa seorang aktivis politisi dan juga gubernur. Ada juga Nyai Hj Nafisah Sahal, Hj Undatul Khoirat, Nyai Hj Ida Fatimah Zainal, Nyai Hj Khusnul Khotimah Warson, Nyai Hj Litfiyah Jirjis, Nyai Ma’unah Asif, Nyai Royyanah Ahal, Nyai Durroh Nafisah Zaim, Ning Alisa Wachid, dan masih banyak lainnya,” terangnya.

Baca juga :  Tren Hijabis di Indonesia: Dari Simbol Perlawanan Menjadi Standar Kesalehan

Di era milenial, lanjut Nyai Durroh, sudah banyak perempuan dari pesantren yang memiliki peran aktif dalam berbagai bidang.

“Misalnya, Ning Sheila Hasina dengan konten fikih kewanitaanya, Nyai Badriyah Fayumi yang fokus di bidang politik, ning Ida Fauziyah sebagai Menteri Ketenagakerjaan RI, ada juga ning Hindun Annisa, Ning Imas Fatimatuz Zahro, Ning Malika Sa’adah, Ning Jazil, dan sebagainya,” pungkasnya. (Afina Izzati/M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.