Kisah Abu Hanifah dan Tetangga yang Berisik

imam abu hanifah

Siapa tidak mengenal Imam Abu Hanifah? Ulama kharismatik yang memiliki nama lengkap Nu’man bin Tsabit bin Zutha. Imam Abu Hanifah merupakan salah satu dari empat madzab (Madzab Maliki, Madzab Syafi’i, Madzah Hambali, dan Madzab Hanafi).

Abu Hanifah lahir di kota Kufah, Irak pada tahun 80 H/699 M, dan wafat di Baghdad pada 150 H/767 M.

Sebelum menjadi ulama, Abu Hanifah merupakan seorang pedagang.  Sehari-hari ia sibuk berjualan sutra. Setiap hari ia memikirkan bagaimana memproduksi sutra dan kemudian menjualnya. Abu Hanifah hampir menghabiskan setengah masa mudanya untuk berjualan.

Atas saran seorang ulama bernama as-Sya’bi, Abu Hanifah menekuni dunia keilmuan. Ia mulai mencari ilmu dengan menjadi santri dari satu ulama ke ulama lainnya.

Selain masyhur akan kepandaiannya dalam berdagang dan ilmu agama, Abu Hanifah juga memiliki akhlak yang mulia. Dikisahkan Abu Hanifah memiliki jama’ah pengajian di rumahnya. Masyarakat datang ke rumahnya untuk mendapatkan ilmu dari pengajian Abu Hanifah.

Tetangga yang Berisik

Imam Abu Hanifah memiliki seorang tetangga yang suka bernyanyi. Hampir setiap Abu Hanifah sedang mengaji bersama para jama’ah, dia selalu bernyanyi dengan suara kencang. Tentunya para jama’ah merasa tidak nyaman dan membenci tetangga Abu Hanifah tersebut.

Baca juga :  Ahmad bin Hanbal, Sosok Sederhana Pencetus Mazhab Hambali

Lalu bagaimana dengan Abu Hanifah? Beliau tidak pernah membenci tetangga tersebut. Meskipun tetangga tersebut selalu mengganggunya ketika menyampaikan ilmu kepada para jama’ah.

Suatu hari, tidak seperti biasanya, pengajian berlangsung dengan aman dan lancar. Hal ini membuat Abu Hanifah tampak heran. Suara nyanyian tetangganya tidak terdengar. “Di mana tetangga yang biasanya bernyanyi ini?” Tanya Abu Hanifah.

Jama’ah menjawab dengan riang gembira, “Alhamdulillah, orang itu dipenjara wahai Abu Hanifah.” Jamaah lainnya mengiyakan jawaban ini karena merasa senang tidak ada yang mengganggu pengajian lagi.

Berbuat Baik pada Tetangga

Mendengar jawaban itu, Abu Hanifah langsung menuju tempat khalifah malam itu juga. Para penjaga pintu heran karena Abu Hanifah datang ke istana. Bahkan khalifah pun tidak percaya mendengar laporan penjaga istana akan kedatangan Abu Hanifah.

Khalifah kemudian menemui Abu Hanifah. “Ada apa wahai Abu Hanifah?” Tanya khalifah.

“Aku mendengar tentaramu menangkap tetanggaku, saya minta tolong agar ia dibebaskan.”

Setelah ada kepastian bahwa yang ditangkap tentara adalah tetangga Abu Hanifah, khalifah menjanjikan akan membebaskannya esok hari. Tetapi Abu Hanifah meminta khalifah untuk membebaskannya malam itu juga.

“Kenapa harus malam ini?” Tanya khalifah.

Baca juga :  Kisah Imam Hanafi Didebat Raja Atheis tentang Keberadaan dan Pekerjaan Allah

“Karena saya diperintah oleh Allah untuk berbuat baik kepada tetangga.” Jawab Abu Hanifah.

Akhirnya tetangga Abu Hanifah dibebaskan. Setelah keluar dari penjara alangkah kagetnya ia mengetahui bahwa yang menjemputnya di penjara adalah tetangga yang setiap hari ia ganggu pengajiannya dengan suaranya yang keras, yakni Abu Hanifah.

Inilah kisah Abu Hanifah yang berhati lembut dan ikhlas menolong dan berbuat baik kepada tetangga meski tetangga itu selalu mengganggu kenyamanannya ketika mengaji dengan jama’ah.

(Sumber: pengajian Habib Achmad Al Habsyi di Masjid Kamaluddin Yogyakarta)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *