Kisah Ibnu Ruslan Lempar Kitab Fikih ke Laut Demi Uji Keikhlasan

Siapa yang tidak mengenal Ibnu Ruslan? Ia memiliki nama asli Al-‘Allamah Syihabuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Ruslan Ar-Ramly As-Syafi’i. ulama yang berasal dari Tanah Ramlah, Palestina ini lahir pada tahun 733 H.

Dalam masa mencari ilmu, Ibnu Ruslan mendatangi banyak guru untuk belajar berbagai keilmuan. Ibnu Ruslan muda termasuk murid yang sangat tekun terutama ketika membaca buku-buku pelajarannya. Oleh sebab itu, ia sering bermukim di Quds, Palestina dan sesekali pulang ke Ramlah.

Ibnu Ruslan merupakan ulama yang sangat alim di berbagai bidang keilmuan. Sudah ada puluhan karya yang sudah ia tulis semasa hidupnya. Karyanya mulai dari bidang fikih, tafsir, ushul fikih, hadits, ilmu kalam, juga bahasa Arab. Salah satu karya terkenalnya adalah kitab Matan Zubad, yaitu nadzam yang berisi kajian ilmu fikih.

Dalam suatu pengajian, Habib Achmad al-Habsyi menyebut Ibnu Ruslan sebagai salah satu ulama yang ikhlas dalam  beramal.

Dalam kisahnya, Habib Achmad menceritakan bahwa suatu hari Ibnu Ruslan sedang dalam perjalanan bersama rekan-rekannya ke suatu tempat. Perjalanan tersebut melintasi lautan sehingga ditempuh menggunakan kapal.

Baca juga :  Imam Al-Taftazani, Murid Bebal yang Akhirnya Menjadi Ulama Ahli Bahasa-Sastra

Dalam perjalanan tersebut, teman-teman Ibnu Ruslan begitu menikmati perjalanan serta keindahan lautan. Mereka bercanda dan mengobrolkan banyak hal. Tetapi, Ibnu Ruslan justru tidak tergabung dalam obrolan tersebut. Ia menyibukkan diri dengan menulis.

Ibnu Ruslan menghabiskan waktu di atas kapal dengan menulis. Ia menyusun syair-syair. Bukan syair cinta yang ia tulis, melainkan syair dalam bentuk nadzam yang berisi tentang ilmu fikih dari bab thaharah (bersuci), ‘ubudiyah (ibadah), hingga mu’amalah (transaksi). Semuanya ditulis dalam bentuk syair yang berjumlah sekitar  1000 bait.

Setelah menyusun nadzam tersebut, Ibnu Ruslan tidak menyimpan tulisan-tulisan tersebut. Ia malah mengikatnya dengan batu kemudian dilempar ke lautan. Tentu rekan-rekannya tampak keheranan, kenapa nadzam yang disusun hampir sepanjang perjalanan malah dibuang ke lautan.

“Ini kamu menyusunnya susah, bukan hal yang mudah. Sudah jadi kok malah dibuang ke laut?!” Kata salah satu temannya.

Tetapi, jawaban Ibnu Ruslan di luar dugaan.

“Kalau aku melakukannya dengan ikhlas, Allah akan menjaga, tetapi kalau aku tidak ikhlas, maka akan binasa.”

Ditemukan oleh Nelayan

Di lain tempat ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Tiba-tiba nelayan itu menemukan gumpalan berisi tulisan-tulisan. Setelah dibuka, ternyata berisi syair. Karena tidak paham apa isi tulisan tersebut, dibawalah kumpulan tulisan tersebut ke seorang ulama.

Baca juga :  Kisah Ulama yang Selamat dari Injakan Gajah Berkat Menepati Janji

Setelah membuka dan membaca kumpulan syair tersebut, ulama tersebut mengatakan bahwa tulisan ini sangat istimewa. Akhirnya tulisan tersebut disusun ulang berkali-kali dan disebarluaskan.

Hingga hari ini Matan Zubad telah dipelajari oleh jutaan santri di berbagai pesantren di Indonesia. Seperti apa yang dikatakan Ibnu Ruslan di atas kapal, jika ikhlas maka Allah akan menjaganya.

Doanya dikabulkan. Allah menjaga karya Ibnu Ruslan dari terapung di lautan hingga sampai ke tangan para santri saat ini.

Tak salah jika Habib Achmad Al Habsyi menyebut Ibnu Ruslan sebagai sosok yang cerdas dan ikhlas. Menulis karya tidaklah mudah, tetapi malah dibuang di lautan, dibiarkan dengan sendirinya menyebar ke berbagai tempat.

Sumber: Pengajian Habib Achmad Al Habsyi di Masjid Kamaluddin Yogyakarta (30 Mei 2022). Tautan klik di sini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *