Kisah Pemabuk yang Menjadi Wali Abdal

KH Husein Ilyas atau akrab disapa Gus Husen, Rais Syuriah PCNU Mojokerto adalah salah satu  ulama sepuh NU yang menjadi sahabat Gus Dur. Dalam suatu ceramahnya, beliau mengisahkan tentang seorang pemuda yang mendapatkan ilmu laduni. Kisah ini beliau ambil dari Tafsir Fakhrurrazi.

Beliau menjelaskan bahwa dunia ini ada yang menjaga. Yaitu Waliyullah atau kekasih Allah.  Waliyullah yang menjaga dunia ini namanya Wali Abdal.

Wali Abdal itu jumlahnya sudah pasti. Jika ada satu wali yang wafat, maka akan ada wali yang lain menggantikan. Gus Husen menjelaskan bahwa “Namanya Wali Abdal itu ketika akan wafat, ia akan diberitahu oleh Allah tentang kewafatannya.”

Suatu ketika ada seorang Wali Abdal bernama Sam`un Al-Mishri. Beliau sudah diberitahu oleh Allah bahwa sebentar lagi ia akan dipanggil oleh Allah. Ia berdoa, “Ya Allah, saya ini akan wafat, siapa yang akan menggantikan saya nanti?”  kata Sam`un Al-Mishri.

Lalu, ilham dari Allah turun.  Ilham itu memang terkadang aneh. Allah itu Maha Berkehendak, dan tidak terikat dengan apa pun. Maka Allah berkata kepada Sam`un Al-Mishri, “Yang akan menggantikanmu adalah seorang yang sekarang masih senang minum arak.” Namun Sam`un Al-Mishri tidak membantahnya.

Sam`un Al-Mishri kemudian pergi ke tempat lapang, ia diam, berdzikir meminta petunjuk kepada Allah tentang di mana tempatnya orang yang akan menggantikan dirinya. Saat ia masih berdzikir menghadap ke arah barat, ketika itu sedang terjadi bulan purnama, tiba-tiba datangi seekor kalajengking.

Kalajengking itu mendekat dan menempel ke jubah Sam`un Al-Mishri. Ia membuang jauh-jauh kalajengking itu. Sam`un Al-Mishri kemudian meneruskan dzikirnya. Akan tetapi, kalajengking itu kembali datang lagi. Akhirnya, ia berdiri dan menegakkan tongkatnya.

Sam’un tidak mengusik kalajengking itu tetapi hewan itu lari terbirit-birit ke arah barat. Karena penasaran, Sam`un Al-Mishri membuntuti kalajengking itu. Sampai akhirnya, ia melihat kalajengking itu turun ke bawah, dekat sungai.

Di sungai itu ternyata sudah ada seekor katak yang sedari tadi membentangkan punggungnya, seakan sudah siap akan menjemput kalajengking itu. Gus Husen melanjutkan,”Ini aneh, kalajengking dan katak kan tidak ada hubungannya saja, tapi mereka kok bisa saling kompromi. Lha kita? Manusia, sama-sama Islamnya malah tidak bisa kompromi. Ini kuasa Allah.”

Kemudian katak itu berenang menyeberang ke barat, sampai di tepi sungai, kalajengking itu turun dari punggung katak. Namanya saja wali abdal, karomahnya Sam`un Mishri, walaupun sungai itu sangat lebar, sungai itu hanya dilangkahi saja.

Sam`un Al-Mishri sampai di seberang sungai mengikuti kalajengking itu. Sesampainya di tepi sungai, ia melihat kalajengking itu lari menuju ke sebuah kayu besar yang di sekelilingnya  terdapat dedaunan. Ia melihat di kayu besar itu terdapat seorang pemuda yang sedang tidur pulas.

Sam`un Al-Mishri bertanya-tanya dalam hatinya, “Apakah pemuda ini yang akan menggantikan saya?” Ia berpikir jangan-jangan pemuda ini yang akan menggantikannya menjadi wali Abdal. Tidak lama setelah ia berpikir, datanglah seekor ular besar menghampiri pemuda yang sedang tidur tadi lalu melilitnya. Akan tetapi, pemuda itu belum bangun juga.

Ketika ular besar itu hendak memangsa kepala pemuda tersebut, kalajengking yang baru sampai di tempat itu langsung melompat ke atas kepala ular, dan kalajengking itu seketika menyengat kepala ular besar itu.

Ular besar itu mati, kalajengking penyelamat langsung lari pergi. Pemuda yang sedang tertidur tadi selamat dan tidak jadi mati. Gus Husen menjelaskan bahwa semua makhluk Allah itu ada batasan umurnya. Kalau belum sampai waktunya, ya, maka tidak akan terjadi. Itu semua takdir Allah. Walaupun pemuda itu dekat sekali dengan maut. Karena belum waktunya, itu tidak akan terjadi.

Setelah peristiwa hampir dimangsa ular besar itu, pemuda itu belum terbangun juga. Akhirnya, Sam`un Al-Mishri menungguinya sampai ia bangun, sampai pagi hari. Setelah pemuda itu bangun, pemuda itu ditanya oleh Sam`un Al-Mishri, “Kamu kok tidurnya nyenyak sekali?”

Pemuda itu menjawab,” Lho, siapa yang tidur, aku ini sebenarnya tidak tidur, aku ini hanya tidak bisa bangun karena kebanyakan minum arak, saya sudah lama tidak bisa bangun di tempat ini,hehehe”, jawab pemuda itu sambil terkekeh.

Akhirnya Sam`un Al-Mishri mengajak pemuda itu, “Ayo, sekarang ikut aku!” Pemuda itu akhirnya mengikuti Sam`un Al-Mishri. Setelah mengikuti Sam`un Al-Mishri, Allah memberi ilmu laduni (ilmu anugerah dari Allah yang diraih tanpa usaha yang keras) kepada pemuda itu. Allah kemudian mengangkatnya menjadi Wali Abdal menggantikan Sam`un Al-Mishri.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *