Kisah Pencuri yang Menjadi Ahli Surga

Kiai Husein Ilyas, sahabat Gus Dur yang saat ini mengasuh Pesantren Salafiyyah Al-Misbar Karangnongko Mojokerto dalam suatu kesempatan di Dawarblandong Mojokerto pada (30/08/2020) menuturkan kisah tentang seorang pencuri yang menjadi ahli surga. Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw.

Suatu saat Masjid Nabawi Madinah direnovasi. Seluruh tiang penyangganya diganti dengan tiang penyangga yang berlapiskan emas. Seorang pencuri dari Madinah mengetahui kabar ini dan dia berkeinginan kuat untuk mengambil sepotongan emas yang berada di Masjid Nabawi.

Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan emas itu. Pencuri bersiasat dengan berpakaian seperti orang-orang yang biasa masuk ke masjid. Agar orang-orang tidak curiga dia mengenakan jubah dan sorban seperti orang-orang yang berada di masjid.

Ketika masuk waktu shalat, sang pencuri juga turut melaksanakan shalat. Ia baru akan pulang ketika para jama`ah masjid sudah pulang. Namun, sialnya, ketika pencuri itu hendak melaksanakan aksinya, ia selalu ditunggui Nabi Muhammad saw dengan sabar, sehingga pencuri itu tidak berhasil melancarkan aksinya.

Sang pencuri tetap saja berangkat ke masjid. Meskipun ia hanya pura-pura shalat saja. Pada suatu saat, setelah Nabi dan para jama`ah selesai melaksanakan shalat berjama`ah, Nabi menyalami semua jama`ah yang ada di masjid.

Nabi mengambil posisi berada di depan jama`ah lalu berpesan, “Man taraka al-haram, Naala al-Halal”, (barangsiapa yang meninggalkan perkara haram, maka ia akan memperoleh sesuatu yang halal).

Semua jama`ah termasuk juga sang pencuri mendengarkan dan memperhatikan dengan saksama apa yang Nabi katakan. Setelah pulang dari masjid, entah kenapa, sang pencuri merasa sering terpikirkan apa yang Nabi katakan di masjid tadi.

Ia bergumam dalam hati, “Apakah benar, apa yang Nabi katakan? Sedangkan pekerjaanku mencuri sesuatu. Kalau aku tidak mencuri, aku pasti kelaparan.”

Namun, akhirnya, setelah ditimbang-timbang, ia akhirnya ingin mencoba dan membuktikan apa yang dikatakan Nabi. “Baiklah, aku akan mencoba untuk tidak mencuri selama seminggu,” ucapnya dengan mantap.

Sehari, dua hari, sampai seminggu ia tidak mencuri, ia merasa kelaparan. Ia tidak kuat.

Ia kembali melaksanakan aksinya, ia ingin mencuri lagi. Ia mendengar ada sebuah kabar, bahwa ada rumah besar di sudut kota yang dihuni oleh janda kaya yang baru saja ditinggal suaminya. Tanpa basa-basi, setelah pulang dari masjid, ia mencopot jubah dan sorbannya. Ia kembali berpakaian layaknya pencuri. Ia bergegas menuju ke rumah besar itu.

Sang Pencuri mendapati semua pintu rumah besar itu telah terkunci rapat. Tiada celah yang bisa ia masuki. Ia tidak kehabisan akal. Ia mengelilingi rumah besar tersebut sampai akhirnya ia mendapati pintu rumah belakang yang tidak terkunci.

Tidak berpikir panjang, sang pencuri masuk lewat pintu belakang. Ketika masuk, ia mendapati ruang dapur yang terdapat meja penuh dengan makanan.

Perutnya meronta-ronta ingin melahap habis seluruh makanan yang ada di meja itu. Namun, ketika ia hendak mengambil makanan itu, terdengar suara yang cukup keras entah dari mana. “Haraaaaam….!!!”

Mendengar suara itu akhirnya ia tidak jadi memakannya. Ia meninggalkan makanan tersebut dan masuk ke ruang tengah. Ia terkejut melihat lemari terbuka yang berisikan emas. Ia bergegas untuk mengambil semua emas itu.

Akan tetapi, ketika ia akan mengambilnya, terdengar kembali sebuah suara yang cukup keras entah dari mana. “Man taraka al-haram, naalal halal!” Ternyata suara itu persis seperti suara Nabi yang pernah ia dengar di masjid.

Ia panik dan mulai takut karena ada suara-suara yang menghantuinya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil emas itu. Tidak jauh dari ruang tengah, pencuri itu melihat pintu kamar yang terbuka.

Sang pencuri mendekati kamar yang terbuka itu. Ia terkejut lagi, ternyata ada seorang perempuan sedang tertidur. Bajunya tersingkap sehingga  tampaklah auratnya. Sang pencuri melihatnya dan perasaannya campur aduk antara ingin mendekatinya atau keluar dari kamar itu.

Perempuan itu terbangun, ia sadar bahwa ada seorang pencuri yang masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi, karena ia takut, ia memilih diam.

Sementara itu, sang pencuri masih keluar-masuk kamar karena bimbang, ia masih terngiang suara tadi. Di tengah kebingungannya, suara adzan subuh berkumandang. Ia langsung lari menuju ke masjid.

Ia shalat subuh berjam`ah, akan tetapi ia masih terus terbayang-bayang kejadian di kamar janda kaya tadi. Ia hanya melamun sampai selesai shalat. Para jama`ah sudah pulang, ia masih di masjid ditemani Rasulullah.

Sampai akhirnya, datanglah seorang perempuan dengan tergopoh-gopoh menangis di hadapan Nabi. “Ya Rasulallah, rumah saya baru saja kemalingan! Tolong saya ya rasulallah,” kata perempuan itu.

“Apa yang dicuri dari rumahmu?” tanya Nabi.

Perempuan itu menjawab, “Tidak ada ya Nabi, hanya saja  pintu rumah saya terbuka semua.”

“Seandainya ada di antara kami pelakunya, apakah kamu masih ingat wajahnya?” tanya Nabi.

“Ya, dia orangnya ya Nabi, yang berada di sampingmu,” kata perempuan tadi.

Sang pencuri yang berada di samping Nabi hanya terdiam sampai Nabi berkata kepada perempuan itu, “Dia adalah ahli surga. Dia punya kesempatan untuk mencuri di rumahmu, akan tetapi ia tidak mengambil sedikit pun apa yang ada di rumahmu, dia meninggalkan perkara haram. Wahai perempuan, maukah kau menikah dengannya?”

Karena perempuan itu adalah seorang perempuan taat, ia mengikuti saran Nabi. Akhirnya mereka menikah.

Pencuri itu membuktikan, sebab ia meninggalkan perkara haram, ia mendapat sesuatu yang halal, yaitu istri yang sah untuk dinikahi dan harta kekayaannya. Wallahu a’lam.

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *