Kisah Si Pujangga Minang, Buya Hamka

Judul: Setangkai Pena di Taman Pujangga

Penulis: Akmal Nasery Basral

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun Terbit: Cetakan I, Februari 2020

Tebal: 328 Halaman

ISBN: 9786237458456

Haji Abdul Malik Karim Abdullah, atau nama penanya Hamka. Lahir dari keluarga yang garis keturunannya suci, garis keturunan Ulama Padang Panjang, dengan nama kecil Malik tepat pada tahun 1908 M. Anak Laki-laki yang memiliki kisah hidup yang tak kalah berwarna dari pelangi yang muncul setelah hujan atau hanya menyapa setelah gerimis reda.

Kisah yang dibuka dari arena Pacuan Kuda tepat saat usianya baru menginjak 13 tahun. Siapa sangka, kegagalan yang ia dapatkan karena Kuda yang ditunggangi kalah telak, yang posisinya berada di urutan terakhir, membawa kisah-kisah lanjutan dengan berbagai macam rasa dan pesan yang kelak akan membawa dia menjadi orang yang paling terkenal dengan karya-karyanya.

Malik kecil hidup dalam keluarga yang bukan main kalau berbicara syariat agama. Maklum saja, Ayah, Kakek, dan lingkungan keluarganya memang sangat menjaga adab dan etika dalam melakukan aktivitas, berpikir, serta menafsirkan sesuatu hal dengan landasan agama yang mereka yakini akan kebaikannya.

Kebiasaan ini tentunya harus didasarkan pada ilmu pengetahuan yang kuat, agar tidak salah dalam menafsirkan atau melakukan suatu perbuatan, terlebih kepada lingkungan dan masyarakat sekitar. Setelah masa pendidikan yang ia tempuh saat kanak-kanak di sekolah Arab, sekolah Desa, dan di Thawalib. Malik melanjutkan pesan dan cita-cita Ayahnya yaitu menimba ilmu di Tanah Suci Makkah Al Mukarramah, dengan guru serta ulama terkemuka dunia, yang ilmunya tentu saja tidak kaleng-kaleng.

Baca juga :  Keajaiban Rezeki Setelah Menikah

Perjalanannya ke Tanah Suci sangat berwarna, dimulai dari pertemuan dengan kawan barunya yaitu Warman dan Hamzah di dek kapal yang tengah berlayar gagah menuju kota impian umat Islam, menjadi Imam shalat para jamaah, hingga ajakan untuk  menikah dengan putri cantik asal tanah Sunda bernama Kulsum. Namun, niatan awal untuk melaksanakan kewajibannya dalam menuntut Ilmu dan melaksanakan rukun Islam ke lima itu membawa dia sampai berlabuh dengan selamat serta menjalankannya dengan ucap syukur yang tak henti-hentinya terucap.

Setelah rentetan kegiatan berhaji telah terlaksana, ia melanjutkan dalam pencarian ilmunya. Keinginan awal yang ingin dia tempuh selama 10 tahun dalam mempelajari ilmu agama sebagai bekal hidupnya nanti ketika kembali ke tanah Minang pupus. Lalu setelah bertemu dengan Haji Agus Salim di 3 bulan dia menetap di Mekkah, ia mengikuti pesan dari Haji Agus Salim untuk kembali ke Tanah Air dan mulai melakukan pergerakan untuk bangsanya.

Warman, kawan lamanya yang ia temui kembali di pelabuhan Sabang, membawa ia menuju apa yang ia impikan setelah kembali lagi ke tanah kelahirannya. Pengalamannya selama di Tanah Suci mulai ia tulis dalam surat kabar Pelita Andalas, sesuai dengan saran dari kawan baiknya, Warman.

Baca juga :  Hakikat Cinta dan Risalah Kesepian

Siapa sangka, pengalaman yang ia tulis selama di Mekkah dan pertemuannya bersama Haji Agus Salim, membawa ia dikenal seantero pulau Sumatera dan beberapa kota besar di pulau Jawa. Cara menulis yang mengalir dan membuai, telah menarik minat pembaca setia setiap surat kabar dan majalah yang tiap waktunya selalu memuat tulisan hasil karya Hamka, sebagai nama penanya.

Tidak hanya sebagai penulis harian ataupun mingguan di surat kabar atau majalah yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya setelah ia kembali ke Tanah Air. Garis tangan Hamka terlukis indah, hingga tawaran menjadi ketua Redaksi, menjadi guru agama dengan bayaran yang cukup untuk dirinya hidup dan menabung demi masa depannya, menjadi seorang Pujangga termasyhur dengan kisah yang ia tulis yang mampu membuat emosi membuncah ruah para pembacanya, hingga menjadi ulama dengan figur yang menjadi panutan bagi masyarakat datang silih berganti membawa dia hingga dikenal sebagai sosok Buya Hamka yang kharismatik.

Novel dwilogi Buya Hamka yang mengisahkan dari masa kanak-kanaknya hingga usia 30 tahun, telah dibungkus dengan apik oleh Akmal Nasery Basral. Dengan judul Setangkai Pena di Taman Pujangga, nyaris tidak memiliki kecacatan data dan alur cerita, membuat para pembacanya mengenal lebih dalam siapa sosok Buya Hamka kecil hingga usia dewasanya yang telah berlalu lalang dalam mencicipi asam manis pahit asin kehidupan.

Baca juga :  Moderasi Beragama dalam Pandangan Quraish Shihab

Novel dengan bahasa yang santun dan runtut membawa pembaca tidak hanya mengenal Hamka, namun juga merasakan kebajikan-kebajikan yang Buya Hamka ajarkan lewat perbuatan sehari-harinya. Buku ini sangat direkomendasikan sebagai bacaan ringan namun berbobot, sebagai teman diskusi di petang hari, atau hanya sekedar bekal bagi para pembacanya dalam melakukan suatu pekerjaan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.