Kita Santri, Perlu Belajar dari Kekalahan Timnas Garuda

Saya, bukanlah seorang holic yang sangat jatuh cinta pada sepak bola. Bahkan ketika hendak menulis tema ini, saya harus mengumpulkan tekad dan niat. Khawatir kalau apa yang saya tulis ini tidak begitu ‘mutu’ dan akhirnya hanya menjadi bahan lelucon bagi mereka para holicers.

Tapi, pada akhirnya saya tetap menulis, sebab teringat sosok Gus Dur dan Prof. Quraish, dua ulama dan intelek panutan yang juga pecinta sepak bola. Dua sosok yang menjadikan saya beralasan kenapa saya merasa ‘perlu’ untuk cinta dan senang dengan ‘sepak bola. Dan akhirnya memaksa saya untuk menulis artikel sederhana ini.

Alasan pertama yaitu, sepak bola bukanlah sekadar permainan dan olahraga. Di situ ada ‘teknik’, ada ‘taktik’, ada strategi untuk menciptakan permainan yang tidak hanya ‘cantik’ tapi juga mampu menjebol gawang musuh. Ini perlu strategi, dan bukan diciptakan dalam sekejap mata.

Pertandingan adalah tempat berlatih yang sesungguhnya. Setidaknya ini yang saya pelajari dari dua sosok tersebut. Melihat sepak bola sebagai arena membaca ‘teknik’, membaca ‘strategi’, membaca ‘taktik’ untuk meraih tujuan bersama.

Alasan kedua yaitu, nasionalisme. Memberi dukungan moril dan doa kepada Timnas Garuda bagi saya begitu berarti, terlebih ketika dulu -entah kenapa- saya juga merasa tidak terima ketika Timnas Garuda berulang kali direndahkan dan dijadikan bahan lelucon ketika melawan Timnas Malaysia.

Alasan terakhir yaitu setiap pertandingan dalam sepak bola -akhir-akhir ini- selalu mampu memberikan saya sebuah pelajaran khusus, sebuah arti, sebuah keteladanan, sebuah ibrah (pelajaran) yang itu sangat nyata.

Baca juga :  Etika Pesantren dan Santri Progresif

Bagi saya, sepak bola -seperti yang saya katakan di awal- bukanlah sekadar permainan. Ia adalah suatu tampilan drama kehidupan yang benar-benar nyata. Ronaldo, pemain bintang Real Madrid yang terbilang sangat sukses membawa klubnya berkali-kali menyabet juara.

Kini, ia memiliki kekayaan yang cukup besar, tidak pernah kita sangka bahwa ia sebenarnya lahir bukan dari tempat yang mewah dan nyaman. Bukan dari keluarga orang kaya, tapi dari sebuah lingkungan yang memaksa ia suatu hari harus rela mengemis di restoran McDonald di Portugal demi sebuah makanan.

Menariknya lagi, seorang pemain sepak bola -selain ia harus melawan kelemahan dan keterbatasan diri- mereka harus mau untuk bermain dengan ‘tim’ untuk meraih kesuksesan. Tentu ini akan menjadi hal yang lebih rumit lagi.

Kita harus siap bertemu dengan seseorang yang mungkin memiliki banyak ketidaksamaan dengan kita. Tidak sama dalam hal kebiasaan, hal kesukaan, pemikiran, visi, kepercayaan, bahasa, bahkan gaya hidup. Tapi semua ego itu harus diturunkan, diredakan untuk kemudian menghasilkan suatu kesepakatan bersama yakni kita tidak akan bisa ‘bertanding’ jika tidak ‘bersama’.

Andaikan sepak boia bisa dipermainkan dengan cukup satu orang yang berperan, maka kita tidak akan melihat -pada hari ini- pelatih yang susah kalau pemainnya kalah di lapangan. Kapten yang terdiam melihat timnya dikalahkan. Para pemain yang sedih tidak bisa mengharumkan nama bangsanya di panggung kehormatan. Para penonton yang kecewa sebab idola mereka harus terpuruk dengan gol tanpa balas.

Baca juga :  Ilmu Barokah dalam Keyakinan Seorang Santri

Satu ‘kekalahan’ tapi dirasakan secara kolektif oleh orang se-tanah air. Suatu kondisi psiko-sosial yang kian membuat saya mengamini bahwa rasa untuk berbangsa dan bertanah air itu memang nyata adanya dan tidak dibuat-buat.

Santri dan Sepak Bola

Lalu, apa inti dari tema yang saya cantumkan di atas? Mengapa kita sebagai santri -yang notabene tak ada sangkut paut dengan sepak bola- harus belajar dari kekalahan Timnas Garuda?

Jawabannya adalah ‘belajarlah pada orang yang ahli jika kamu ingin mengerti”. Kita tidak hendak menjadi seorang pemain sepak bola, tapi kita perlu belajar dari para pemain sepak bola bagaimana cara mereka melahirkan diri menjadi pemain-pemain berkualitas, bukan kaleng-kaleng.

Kita tidak hendak bertanding di lapangan, di stadium seperti mereka, tapi kita perlu belajar dari mereka bagaimana teknik, cara, strategi agar dapat bermain dengan bagus di pertandingan yang sesungguhnya. Berapa lama waktu yang disiapkan.

Berapa banyak peluh keringat yang harus diperas. Berapa banyak kram otot yang harus dirasakan perihnya, demi bersiap menghadapi pertandingan melawan skuad terbaik.

Dari situ, kita akan menemukan bahwa tidak ada permainan bagus yang kecuali ia lahir dari konsistensi (ke-istqamahan) yang luar biasa. Manajemen waktu dan asupan yang cukup. Bagaimana tubuh tidak hanya mendapat asupan energi yang berkualitas, tapi bagaimana energi yang masuk itu tersublimasi ke dalam aktivitas-aktivitas yang produktif, bermanfaat.

Baca juga :  Perempuan Pesantren Didorong Tampil Dakwah Lebih Banyak di Medsos

Kemampuan men-thasarruf-kan kebaikan untuk menjadi kebaikan dalam bentuk yang lain. dan terakhir yaitu ikhtiyar kolektif. Suatu kesadaran bahwa ‘kemenangan’ tidak bisa diraih dengan cukup dua kaki seorang pemain handal, tapi dari puluhan kaki para pemain yang rela bekerja secara ‘tim’.

Artinya keberhasilan seorang santri dalam meraih tujuan yang dicita-citakannya tidak akan berhasil jika tanpa bantuan teman-teman di lingkungannya. Yang mengajaknya untuk semangat mengaji, semangat nderes, semangat muthola’ah menghadapi ujian. Semua itu akan terasas asik dan tidak begitu berat jika dilakukan bersama (ikhtiyar kolektif).

Semoga kekalahan Timnas Garuda membawa pelajaran penting bagi penulis dan (tidak wajib) bagi pembaca. Akhir kata, saya tidak berharap artikel saya ini menjadi sebuah tulisan yang menarik. Sebab, jika artikel ini menarik, saya (mungkin) tidak lagi memiliki keinginan untuk belajar. Wallahua’lam bisshowab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.