Kiai Sahal Mahfudz: Al-Farâ’id al-Ajîbah fî Bayân I’râb al-Kalimât al-Gharîbah

Al-Farâ’id al-Ajîbah fî Bayân I’râb al-Kalimât al-Gharîbah adalah salah satu kitab karangan Mbah Sahal, seorang ulama ahli fiqh Kontemporer asal Kajen, Pati, Jawa Tengah yang bernama lengkap KH. Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abdussalam bin Abdullah.

Beliau lahir di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa tengah pada 17 Desember 1937 dan wafat dalam usia 74 tahun bertepatan dengan  24 Januari 2014 di Pati, Jawa Tengah.

Al-Farâ’id al-Ajîbah fî Bayân I’râb al-Kalimât al-Gharîbah adalah  kitab yang berbentuk nadham (puisi arab) yang kemudian dikomentari oleh Mbah Sahal sendiri dengan judul al-Fawâ’id an-Najîbah bi Syarh al- Farâ’id al-Ajîbah fî Bayân I’râb al-Kalimât al-Gharîbah membahas tentang i’rab kata-kata ganjil (gharib) yang biasa dijumpai dalam teks-teks kitab kuning.

Kitab ini terdiri dari 89 bait, 11 bait berisi pengantar, 72 bait berisi pokok pembahasan, dan 6 bait sebagai penutup. Pokok bahasan terbagi dalam tiga tema pokok.

Pokok bahasan pertama (fashl) terdiri dari 42 bait dan memuat 34 uraian tentang i’rab kata-kata ganjil (gharib). Dalam pokok bahasan kedua (fâ’idah) terdiri dari 14 bait. Di antaranya adalah dlamîr sya’n pada (إنّ/أنّ للتوكيد). Sedangkan, pada pokok bahasan ketiga terdiri dari 16 bait dengan muatan 8 kaidah-kaidah penting (القواعد المهمة) yang mesti diketahui oleh santri.

Dalam kolofon disebutkan, kitab ini selesai ditulis pada tanggal 17 Dzul Qa’dah 1380 H. Sedangkan, Syarh-nya (komentar) diselesaikan pada hari Rabu, 8 Jumadal Ula 1381 H. Dalam syarahnya tertulis,

Baca juga :  Fikih Sosial Kiai Sahal, Fikih Peradaban Dunia

[(اُبْدِى) اى اظهر (تَمَامَهَا) والغرض منه الاشارة الى تاريخ تمامها بحروف هذه الجملة اعنى ابدى فالالف بواحدة والباء باثنتين والدال بأربع والياء بعشرة فالجملة سبع عشرة واعنى بها اليوم السابع عشر (بِـ) الشهر الحادى عشر (ذِي القَعْدَة)… (شَغْفِي)….والقصد بشغفي ايضا الى السنة فالشين بثلاثمائة والغين بألف والفاء بثمانين اعني سنة الف وثلاثمائة وثمانين من هجرة سيد المرسلين صلوات الله وسلامه عليه…]
[وقد كان الفراغ منه بعد عصر يوم الاربعاء ثامن جمادى الاولى سنة 1381 الهجرية…]

[…isyarat huruf yang termuat dalam kata ابدى menunjukkan tanggal sempurnanya tulisan tersebut, yakni huruf alif menunjukkan angka 1, huruf ba’ menunjukkan angka 2, huruf dal menunjukkan angka 4, dan huruf ya’ menunjukkan angka 10. Jadi, jumlahnya menjadi 17.

Yang saya maksud adalah tanggal 17 bulan ke-11 (Dzul Qa’dah). …sedangkan, maksud dari kata شغفي menunjukkan tahunnya. Huruf syin menunjukkan angka 300, huruf ghain menunjukkan 1000, dan huruf fa’ menunjukkan 80. Maksud saya adalah tahun 1380 terhitung mulai dari hijrahnya penghulu para rasul shalawatullahi wa salamuhu alaih…]
[Selesainya syarah ini pada waktu Ashar, hari Rabu, 8 Jumadal Ula 1381 Hijriyyah…]

Karya mbah Sahal dalam bidang tata bahasa Arab (Nahwu) bisa dianggap keluar dari mainstream. Pada umumnya, karya-karya Mbah Sahal bertemakan masalah-masalah fiqh dan ushul fiqh. Oleh sebab itu, beliau populer sebagai ulama ahli fiqh (faqih). Gelar fuqaha kontemporer pun disematkan padanya.

Baca juga :  Fikih Sosial Kiai Sahal, Fikih Peradaban Dunia

Kepakarannya dalam bidang fiqh –di samping karakter dan ketokohannya– menjadikan mbah Sahal dipercaya sebagai Rais Aam Syuriah PBNU sejak 1999 hingga akhir hayatnya. Dan sejak tahun 2000 dipercaya sebagai Ketua Umum MUI, wadah berhimpun seluruh ormas Islam Indonesia.

Mbah Sahal adalah salah satu ulama Nusantara yang produktif menelurkan banyak karya tulis, baik yang berbahasa Arab maupun Indonesia. Kebiasaan menulisnya ini sudah dimulai sejak masih nyantri di beberapa pesantren di Nusantara.

Karya-karyanya, selain kitab yang dibahas dalam tulisan ini, adalah antara lain, Tharîqat al-Hushûl alâ Ghâyah al-Wushûl, ats-Tsamarât al-Hâjayniyyah, al-Bayân al-Malma’ an Alfâdz al-Luma’ (Ushul Fiqh), Intifâkh al-Wajadain inda Munâdlarat Ulamâ’ Hâjain fi Ru’yat al-Mabî’ bi Zujaj al-‘Ainain, Faidl al-Hijâ alâ Nail ar-Rajâ (Fiqh), al-Murannaq,dan Izâlat al-Muttaham (Ilmu Mantiq), Anwâr al-Bashâ’ir (al-Qawa’id al-Fiqhiyyah).

Selain itu, Mbah Sahal juga menulis kitab berbahasa Indonesia, yaitu: Nuansa Fiqih Sosial (LKiS, 1994), Pesantren Mencari Makna (pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren (Citra Pustaka, 2004), Dialog Dengan Kiai Sahal Mahfudh: Solusi Problematika Umat (LTN NU Jatim, 2003), dan Insiklopedi ijma’ yang ditulis bersama KH. Ahmad Mustafa Bisri (Gus Mus).

 

Baca juga :  Fikih Sosial Kiai Sahal, Fikih Peradaban Dunia

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: English

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *