Klepon Tidak Islami Viral di Medsos, Netizen: Apa Salah Klepon?

Gambar meme berjudul Kue Klepon Tidak Islami belakangan ini beredar luas di media sosial. Belum diketahui sejak kapan meme tersebut dibuat. Yang jelas, meme kue klepon tidak islami yang mendadak viral itu sontak membuat netizen memberi respon yang beragama.

Pada meme tertulis judul besar KUE KLEPON TIDAK ISLAMI, lalu terdapat ajakan yang bertulis: “Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami dengan cara membeli jajan islami aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami.” Pada pojok meme itu bertanda “Abu Ikhwan Aziz”.

“Apa salah kue klepon, jajanan legit kayak gini mendadak gak islami…” tulis Nina Agustina melalui akun Twitter @nina_agstn.

Baca juga :  Soal Poster Klepon Tidak Islami, Asli Apa Buatan Oknum?

Netizen bernama Rio juga bertanya-tanya tentang meme kue klepon tersebut. “Lah ini perkara klepon dipermasalahin, Ya Allah Kuenya kaga salah apa apa disalahin,” tweet Rio melalui akun @AirellLeon.

Sementara itu, pembina pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta Sofwan Yahya menilai fenomena seperti itu sudah ada sejak jamdul dan polanya tetap sama, meskipun yang dulu lebih sopan dengan tidak mendiskreditkan saingan bisnis yang lain.

“Silakan para pelihat heran dan mangkel dengan meme penjual kurma yang viral karena menghajar klepon dan mengeluarkannya dari agama Islam (lagian kurma dan klepon kapan baca syahadatnya),” tulisnya di akun Facebook pribadinya.

Baca juga :  Viral Klepon Tidak Islami, Ini Kriteria Makanan Islami dalam Al-Qur'an

Secara historis, menurut Sofwan, para pembual (penceramah dan tukang jualan) memang menjadi salah satu faktor munculnya “Islam jualan” -apalagi cuma meme palsu- untuk tujuan marketing bisnis terselubung seperti travel umroh dan oleh-olehnya.

“Penjual agama juga sama, baik yang ekstrem, radikal, moderat, atau liberal sekalipun, mereka semua suka jualan ayat dan hadis dengan sudut pandang yang sesuai dengan jualannya,” terang Sofwan.

Memang, lanjut dia, kalau jualan produk yanga sama saingannya akan menjadi lebih sengit. Untuk validasi keabsahan dan kebenaran jualannya cuma bisa dibuktikan dengan integritas kelimuan dan akhlak, bukan dengan banyaknya sponsor yang mengucurkan dana atau followers publik figur atau para pemuja yang bejibun.

“No heran-heran lagi ya. Ngaji aja yang konsisten dari guru yang berintegritas!!!” seru Sofwan.

Baca juga :  Dianggap Virus Biasa, Gus Mus: Corona Bukan Virus Abal-Abal
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.