Konsep Aswaja Menurut KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy'ari

Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah ajaran yang dianut oleh organisasi dan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang disusun oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Aswaja sebenarnya merupakan ajaran yang turun-temurun diwariskan oleh para ulama salaf sejak berabad-abad lalu.

Konsep Aswaja Kiai Hasyim Asy’ari termaktub di dalam kitab Qonun Asasi. Beliau menyusun kitab itu hampir seabad lalu sebagai pedoman bagi orang awam supaya mudah dipahami dan diikuti.

Takrif (definisi/pengertian) Aswaja yang dijelaskan Kiai Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi meliputi aspek: akidah, syariah, dan akhlak. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam.

Ketiganya didasarkan pada manhaj (pola pikir, metode) Asy’ariyyah dan Maturidiyyah di bidang akidah; empat madzhab besar di bidang fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali); dan di bidang tasawuf (akhlak) menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi.

Dalam perkembangannya, corak Aswaja dalam bidang syariah atau mazhab fikih meliputi dua arus besar: mazhab al-manhaji al-ijtihadi (doktrin dan metode berijtihad) dan mazhab al-manhaj al-fikri (doktrin dan metode berpikir).

Hal ini dapat kita lihat dalam Al-Qur’an yakni Surah Az-Zumar ayat 17-18 dan Surah Ali Imron ayat 59 sebagaimana tercantum dalam Qonun Asasi. Dua ayat tersebut adalah dasar dari manhaj al-ijtihad (metode berijtihad) dan manhaj al-fikr (metode berpikir).

Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai doktrin mazhabi yang bersumber dari kitab-kitab klasik yang telah dirumuskan para ulama pada periode taklid (300-650 H). Rumusan ini merupakan mukhtashar (ringkasan), musyarrikh (menjabarkan/menjelaskan), dan mempertahankan karya para Imam sebelumnya (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dengan menempatkan berbagai dalil nash (Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’) untuk mempertahankan imam-imam mereka.

Di Indonesia sendiri, ada puluhan hingga ratusan juta orang mengikuti konsep Aswaja yang sederhana dan mudah dipahami itu. Namun demikian, ternyata pemikiran Aswaja Kiai Hasyim Asy’ari ternyata juga mempunyai banyak penafsiran.

Baca juga :  Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Sang Pembaharu Pendidikan Pesantren
Penafsiran Atas Konsep Aswaja KH Hasyim Asy’ari

Pakar tafsir dan hadis KH Ali Musthofa Ya’qub menyatakan, bahwa pemikiran Hadratussyaikh memiliki beberapa persamaan dengan pemikiran sekte Wahabi. Sedangkan tokoh kiai lain menyebut pemikiran Kiai Hasyim justru bertentangan dengan pemikiran Wahabi.

Berbeda dengan pandangan pakar teologi dan tasawuf KH Said Aqil Siradj yang menilai konsep Aswaja yang disusun menurut KH Hasyim Asy’ari itu terlalu sederhana, bahkan bisa disebut ‘memalukan’.

Mengutip penafsiran Dr. Miftahur Rohim (Wakil Rektor III Universitas Hasyim Asy’ari) terhadap Qonun Asasi, yang menguraikan tentang konsep tersebut tidak sesederhana seperti pemikiran Kiai Said. Menurutnya, pengertian Aswaja yang dirumuskan oleh Kiai Hasyim bisa dimaknai secara luas.

Kembali soal mazhab fikih dalam konsep Aswaja Kiai Hasyim, bahwa kitab-kitab tersebut merupakan produk hukum Islam yang dipengaruhi fenomena pada saat itu. Ketika terjadi benturan pemikiran dan fanatisme yang berlebihan terhadap imam-imam mereka, maka tentu beberapa produk hukum ada yang sudah tidak relevan dengan situasi sekarang.

Oleh sebab itu, perlu ada upaya untuk rekonsilisasi pemikiran-pemikiran tentang Aswaja. Tujuannya yakni menciptakan kesamaan visi dan misi untuk membangun dengan menjadikan rumusan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai gabungan mazhab dan manhaj.

Sayangnya, sebagian para kiai dan pengajar di pondok-pondok pesantren lebih cenderung pada mazhab fiqhiyyah daripada mazhab manhajiyah. Hal demikian akan membawa pada doktrin agama yang tekstual.

Sebaliknya, pengajaran di perguruan tinggi agama  seperti di kampus-kampus UIN, IAIN, STAIN, lebih cenderung ke manhajiyyah, namun hanya setengah-setengah. Hal demikian terkadang melahirkan pemikiran baru (baca: liberal) yang keluar dari tradisi pemikiran ulama salaf, terutama ajaran Hadrastussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Baca juga :  Tirakat Demi Masa Depan

Dengan demikian, apabila Ahlussunnah wal Jama’ah dipahami hanya sebagai mazhab, maka gerakan Islam akan bersifat eksklusif. Salah satu efek sampingnya yakni kurang mampu berhadapan dan bersaing dengan tantangan zaman di era kemajuan teknologi dan globalisasi.

Begitu pula, apabila Aswaja dipahami sebagai manhaj al-fkir saja, maka gerakan akan menjadi ‘liberal’ dan tidak mempunyai asas tradisi keilmuan yang kuat.

Oleh karena itu, paradigma di masa depan, di tengah-tengah percaturan di berbagai kehidupan, membuat Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi perpaduan antara doktrin mazhab dengan manhaj. Dua metode bagaikan sayap burung yang akan terbang untuk membangun peradaban umat menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara aman dalam ampunan Tuhan).

Aswaja: Antara Mazhab dan Manhaj

Kemudian lahir pertanyaan, kapankan Ahlussunnah wal Jama’ah dapat dipandang sebagai mazhabi dan manhaji?

Jawabannya antara lain, ketika menghadapi berbagai persoalan yang menyangkut bab ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayah. Bab-bab ini sudah termuat dalam rumusan kitab-kitab klasik yang dianggap mu’tabar, serta didukung pula dengan dalil-dalil nash yang valid. Di situlah kita bisa terapkan Ahlussunnah bersifat “mazhabi”.

Pada satu sisi, ketika Aswaja berhadapkan pada persoalan-persoalan baru yang tidak dijelaskan dalam doktrin rumusan kitab klasik yang menyangkut kebijakan kepentingan umat dan berhadapan dengan isu-isu dunia global, seperti HAM, pluralisme, gejolak politik global, relasi peradaban dunia Barat dam dunia Timur, maka dirasa doktrin mazhab tersebut tidak dapat menyelesaikan.

Dalam konteks ini, perlu diterapkan Ahlussunnah sebagai “manhaji”. Dengan demikian, diperlukan interpretasi dalam pemahaman dan perumusan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai mazhab dan manhaj.

Adapun khasaish (ciri-ciri) manhaj al-fikriyyah antara lain: manhaj al-fikr al-tawassutiy (pola pikir moderat), manhaj al-fikr al-ishlahiyy (pola pikir reformatif/akomodatif), manhaj al-fikr al-tathowwuriyy (pola berpikir dinamis), dan manhaj al-fikr al-manhajiy (pola pikir metodologis).

Baca juga :  KH. Hasyim Asy’ari dan Kepeduliannya terhadap Pendidikan Perempuan

Perbedaan penafsiran terhadap konsep Aswaja dalam Qonun Asasi di atas merupan hal yang lumrah khususnya dalam tradisi NU. Ada kelompok ‘konservatif’ yang jumlahnya tidak banyak, begitu juga dengan kelompok ‘liberal’ yang jumlahnya tidak banyak.

Justru yang terbanyak adalah kelompok pertengahan yang mungkin sesuai dengan penafsiran Dr. Miftahur Rohim tersebut di atas. Keberadaan kelompok konservatif dan kelompok liberal adalah sesuatu yang alamiah dan tidak bisa dilarang.

Dalam hal ini, perbedaan penafsiran oleh individu maupun kelompok merupakan hal yang tidak bisa dicegah. Namun, yang harus kita cegah ialah upaya untuk mengubah dokumen resmi Jam’iyyah NU. Selain itu, perlu juga mencegah adanya upaya membuat penafsiran baru yang jauh berbeda dengan apa yang selama ini sudah digariskan oleh para ulama salaf panutan Nahdliyin. Wallahu a’lam.

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *