Konsep Kebahagiaan dalam Islam

Kebahagiaan dalam Islam

Ada salah satu kisah unik yang dipaparkan oleh Mas Sabrang, anak bungsu dari seorang budayawan Indonesia Emha Ainun Nadjib. Ada seorang nelayan lagi ngopi sama merokok, sedang bersilang kaki dan ketawa-ketawa. Lalu ada orang bule datang.

“Kamu kok nggak kerja jam segini?” kata seorang pengusaha.

“Lho, aku lagi ngopi sama rokok-an ini,” jawab seorang nelayan.

“Kamu nelayan?”

“Iya, nelayan.”

“Lho, sana, cari duit!”

“Sudah, sudah. Anak saya sudah makan.”

“Lho, tidak. Kamu harus cari duit yang lebih.”

“Lho, kenapa?”

“Nanti kamu bisa tabung duitmu.”

“Terus?”

Terus, nanti kamu bisa beli kapal lagi.”

“Terus?”

“Terus kapalmu tambah banyak.”

“Terus?”

“Terus kamu nggak usah kerja, duitnya tapi datang terus.”

“Oke, terus?”

“Nanti kamu bisa menikmati hidup.”

“Oh, tapi saya bisa menikmati hidup sekarang, ngapain nunggu besok? Enak ini ngopi sambil rokok-an ini.”

***

Mendefinisikan kebahagiaan merupakan sebuah kemustahilan. Tidak adanya pembatasan khusus mengenai apa itu kebahagiaan membuatnya sulit dijabarkan secara global. Alhasil, manusia hanya mampu menafsirkannya dengan inisiatifnya masing-masing, sesuai keinginannya masing-masing, entah itu dengan materi seperti uang, ataupun non materi seperti kesehatan dan yang lainnya.

Maka, sah-sah saja jika setiap orang memiliki ruang sendiri untuk mengaplikasikan kebahagiaan menurut perspektif mereka masing-masing. Lalu sebenarnya bagaimana konsep kebahagiaan dalam Islam? Menurut para sahabat Nabi saw., kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sangat sederhana, dan penghasilan yang pas-pasan.

Baca juga :  Tasawuf dan Tarekat Virtual

Menurut tokoh sufi terkemuka Jalaluddin al-Rumi, kebahagiaan adalah hilangnya kesedihan. Menurut Ibn Al-Musayyib, kebahagiaan adalah pemahaman seorang hamba terhadap Rabb-Nya.

Menurut al-Bukhori, kebahagiaan adalah kitab shahih bukhori-nya; menurut al-Hasan al-Bashri adalah kejujurannya; menurut imam as-Syafi’i adalah hukum-hukum yang disimpulkannya; menurut imam Malik kehati-hatiannya; menurut Ahmad Ibn Hanbal sikap wara’nya; menurut Tsabit Al-Bunani ibadahnya.

Masing-masing dari mereka menjelaskan arti kebahagiaan sesuai dengan apa yang mereka alami dan mereka alami saat itu. Dari kesekian jawaban, tidak ada yang patut disalahkan ataupun dibenarkan secara mutlak. Sebab setiap orang memiliki ruang dan penilaian tersendiri untuk menjelaskan apa itu kebahagiaan.

Selain berkiblat pada para sahabat Nabi saw. ataupun para ulama di atas, kebanyakan orang mungkin juga berasumsi bahwa kebahagiaan merupakan rangkaian seni yang dapat dengan mudah untuk dipelajari. Artinya, siapa yang mengetahui cara mendapatkannya, akan memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan sebuah kebahagiaan.

Dalam hal ini, salah satu buku pencerahan terbaik di Timur Tengah pada abad ke-20, La Tahzan, yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni, mencoba menawarkan seni indah agar seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan. Yakni berbuat baik dan menjauhi segala keburukan untuk tetap berada dalam rasa aman. Agar nantinya mampu mengantarkan seseorang menuku kebahagiaan hakiki. Sebuah kebahagaiaan yang bersifat sempurna dan abadi.

Yang dimaksud dari kebahagiaan abadi adalah kebahagiaan itu tetap bertahan mulai dari dunia hingga akhirat kelak; mulai dari alam ghaib hingga di alam kenyataan; mulai hari ini hingga esok, yang tak lain adalah surga-Nya yang agung.

Baca juga :  Tangga Kebahagiaan (Review Buku Denny JA Spirituality of Happiness)

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (25) Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik [surga] dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus 25-26)

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Q.S. Hud 108)

Sedang yang dimaksud dari kebahagiaan yang sempurna adalah ketika kebahagiaan itu tidak dirusak oleh kesengsaraan dan tidak dicerna oleh amarah.

Untuk bisa merealisasikan itu semua, seorang hamba harus mampu melakukan nilai-nilai keutamaan, sifat-sifat mulia, dan tindakan-tindakan yang baik terhadap sesama, serta mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah.

Terkait contoh yang saya tampilkan di atas tentang cerita dari Mas Sabrang, sang nelayan tahu betul apa itu kebahagiaan. Ia sendiri menyadari, dunia dan seisinya bukanlah hal yang patut untuk diperjuangkan dengan sepenuh tenaga.

Ia menolak keinginan untuk bekerja lebih keras bukan karena ia pemalas, tapi karena konsep kebahagiaan yang ia anut berbeda dengan orang lalin. Ia membuat konsepnya sendiri dan meyakininya sepenuh hati sesuai kesanggupannya. Dan cara memperoleh kebahagiaan juga tidak bisa disamakan dengan siapa pun itu.

Baca juga :  Ngaji Ihya': Diseminasi Islam Moderat Era Milenial

Kebahagiaan yang sifatnya sementara dan tidak sempurna, tidak perlu diperjuangkan hingga melupakan kodrat kita sebagai makhluk, yang pada dasarnya diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Sewajarnya saja dalam mencari apa yang kita butuhkan. Jangan sampai apa yang kita perbuat nantinya dapat membuat Allah murka karena merasa “diselingkuhi” ketika kita melupakan perintah-Nya hanya karena sibuk mengejar perkara-perkara dunia.

Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (Q.S. An-Nahl 14).

 

Sumber:

Fihi Ma Fihi; Mengarungi Samudera Kebijaksanaan Jalaluddin Rumi Abdul Latif 2018 Grup Relasi Inti Media Yogyakarta

La Tahzan; Jangan Bersedih DR. Aidh Al-Qarni Samson Rahman Qisthi Press Jakarta 2017

Biografi Empat Madzhab Abu Aisyah Alawiyah ASH-SHOFA Jombang 2014 Cetakan-1

Para Pencari Cahaya Kehidupan; Menyingkap Rahasia Sukses Meraih Cahaya Sejati dan Mutiara Hati Sunali Agus Eko Purnomo Elex Media Komputindo Jakarta 2016

There are 3 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *