Konsep Kemaslahatan Fikih bagi Narapidana

Agama Islam adalah agama yang sangat memuliakan manusia. Bentuk kemuliaan ini terlihat dari ajaran Islam yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Sebagaimana firman Allah Swt. pada surat At-Tin ayat 04:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Sedangkan secara Fikih, pemuliaan ini dapat kita lihat dalam larangan melukai kehormatan manusia, larangan memanggil dengan selain namanya dengan niatan mencela, hingga ajaran-ajaran lain yang sangat menganjurkan sekali untuk saling tolong menolong dan tenggang rasa di antara sesama manusia.

Meskipun begitu, ada saja sebagian orang yang berbuat salah dan melakukan tindak kriminalitas. Dalam konteks ini, syariat Islam hingga peraturan perundang-undangan tentunya memberikan hukuman sebagai balasan atas tindakan tersebut. Tujuan balasan itu adalah untuk membuat pelaku kejahatan menjadi jera sehingga ia tidak mengulangi perbuatannya.

Salah satu bentuk hukuman tersebut adalah dengan cara di tahan di penjara. Di dalam penjara, manusia yang dihukum sebab kejahatan dan kesalahan tersebut dibatasi kebebasannya daripada orang yang tidak di penjara. Ia tidak bisa jalan-jalan dan ke mana-mana. Hidupnya terkungkung dalam sel selama beberapa masa.

Ketika di dalam penjara, ada hal yang luput dan seringkali tidak terpikirkan banyak orang, bahwa narapidana adalah juga manusia. Prinsip-prinsip kemanusiaan harus tetap di tegakkan.

Menurut Fikih, terdapat keterangan yang membahas konsep kemaslahatan bagi narapidana. Salah satu keterangan yang membahas persoalan ini adalah dalam kitab As-Sijni wa Mujibatihi fi Syari’atil Islamiyah karangan Syekh Abdullah Al-Jeriwi.

Baca juga :  Hukum Mahar Berupa Mengajarkan Ilmu Al-Qur’an kepada Istri, Bolehkah?

اَنَّ السُّجُوْنَ وَ الْعُقُوْبَةَ بِالسِّجْنِ مَرَّتْ بِمَرَاحِلَ فَكَانَتْ مَحَلَّ اِهَانَةٍ وَ تَعْذِيْبٍ وَ اِبَادَةٍ حَتَّى كَانَ الْاَسِيْرِ يَتَمَنَّى الْمَوْتَ عَلَى الْاَسِرِ لِاَنَّ فِى الْمَوْتِ رَاحَةً وَفِي الْاَسْرِ تَأْذِيْبٌ ثُمَّ هَذَبَهَا الْاِسْلَامُ وَ رَفَعَ مَكَانَةَ الْاِنْسَانِ وَلَمْ يَلْجَأْ اِلَى حبْسِهِ اِلَّا فِيْ حُدُوْدٍ ضَيِّقَةٍ جِدًا وَلِفَطْرَةٍ مَحْدُوْدَةٍ وَ نَظَرَ اِلَيْهِ نَظْرَةَ اِحَسَان وَعَطَفٍ وَاَوْصَى بِالْحَبِيْسِ وَ حَثَّ عَلَى اِطْعَامِهِ وَرِعَايَتِهِ وَ اَوْجَدَ بَدَائِلَ مُتَعَدِّدَةٍ لِمَنْ يَسْتَلْزِمُ الْاَمْرَ عُقُوْبَتَهُ وَ تَعْزِيْرَهُ وَ اَلْزَمَ بَيْتَ الْمَالِ بِإِعَاشتِهِ وَ كِسْوَتِهِ ثُمَّ تَغَيَّرَتْ النَّظْرَةُ اِلَيْهِ وَ عَادَتْ كَمَا كَانَتْ فِي الْقَدِيْمِ بَلْ اَسْوَأُ

Artinya : Sesungguhnya penjara dan hukuman dengan pemenjaraan itu telah berlalu dengan sejumlah tahap. Pada awalnya penjara merupakan tempat menghinakan orang, menyiksa dan mempemalukan, menelanjangi orang. Sehingga narapidana berangan-angan lebih baik mati di penjara karena dengan dia mati, ia bisa terbebas dari siksaan tersebut. Kemudian Islam mengoreksi hal ini dan mengangkat derajat manusia.

Sedangkan Islam tidak menganjurkan cara-cara pemenjaraan kecuali dalam batas-batas ketentuan yang sangat ketat dan karena kebutuhan yang sangat dibatasi. Dan, Islam memandang narapidana dengan pandangan yang penuh dengan kebaikan dan kelembutan, serta berpesan agar narapidana itu diberi makan, dirawat dan dijaga selama di penjara.

Islam juga memberlakukan sejumlah alternatif-alternatif bagi orang yang wajib dihukum. Artinya, tidak melulu hanya persoalan penjara. Ada hukuman-hukuman dan sangsi yang lain di luar pilihan pemenjaraan.

Kemudian Islam mewajibkan supaya Baitul Mal menghidupi para narapidana dan memberikan pakaian yang layak. Namun pandangan ini berubah kembali ke era yang lama bahkan menjadi lebih buruk lagi.

Jadi, bila kita ambil kesimpulan dari keterangan di atas bahwa di antara prinsip kemaslahatan bagi narapidana ialah ia tetap mendapatkan makanan, pakaian dan mendapat perawatan serta penjagaan. Karena Islam memandang narapidana dengan penuh kebaikan dan kelembutan.

Baca juga :  Maqasid Syari’ah, Metodologi dalam Merumuskan Fikih Lingkungan

Selain itu, terdapat keterangan pula dalam kitab fikih as-sijni wa as-sujana’ karya Sa’id bin Musfir al-Wada’i terkait konsep kemaslahatan bagi narapidana.

 اَمَّا صِفَةُ السِّجْنِ فَيَذْكُرُ الْاِمَامُ ابْنُ قَيِّمِ الْجَوْزِيَّةِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى اَنَّ الْحَبْسَ الشَّرْعِيَّ لَيْسَ هُوَ الحَبْسُ فِيْ مَكَانٍ ضَيْقٍ وَاِنَّمَا يَنْبَغِيْ اَنْ يَكُوْنَ الْحَبْسُ وَاسِعًا وَ اَنْ يُنْفَقَ عَلَى مَنْ فِي السِّجْنِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ وَاَنْ يُعْطَى كُلُّ وَاحِدٍ كِفَايَتَهُ مِنَ الطَّعَامِ وَاللِّبَاسِ قَالَ “وَمَنْعُ الْمَسَاجِيْنِ مِمَّا يَحْتَاجُوْنَ اِلَيْهِ مِنَ الْغِدَاءِ وَ الْكِسَاءِ وَ الْمَسْكَنِ الصِّحِّي جُوْرٌ يَعَاقِبُ اللهُ عَلَيْهِ “

Artinya : Karakteristik dari penjara yang digariskan oleh Islam bahwa penjara yang sesuai dengan panduan syariat itu bukanlah penjara yang ada di tempat yang sempit, berdesak-desakan tetapi penjara itu harus luas (dari segi tempat). Kedua, penjara harus dibiayai dari Baitul Mal dan masing-masing narapidana harus dicukupi kebutuhan makan dan minumnya.

Mengutip pendapat Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, seorang Ulama Mujtahid dalam mazhab Hanbali. Dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauzi, mencegah para narapidana dari kebutuhan dasarnya, seperti makanan, pakaian dan tempat yang sehat adalah suatu kedzoliman yang akan dihukum oleh Allah.

Dari keterangan ke dua ini, kita juga bisa menyimpulkan bahwa syariat Islam tetap memandang narapidana dengan segala kemanusiaannya. Penjara tidak boleh sempit, berdesak-desakan dan para narapidana harus dicukupi kebutuhan makan, minum serta kebutuhan kesehatannya.

Baca juga :  Bagaimana Hukum Transaksi Kripto? Berikut Hasil Kajian Ulama Indonesia

Oleh sebab itu, diharapkan kita tidak memandang narapidana dengan sebelah mata. Syariat Islam, dalam hal ini adalah Fikih tetap memandang adanya konsep kemaslahatan yang perlu dijaga dan diterapkan kepada mereka. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.