Kurban dan Berhala dalam Diri

Ada 3 pesan kuat dalam hari raya kurban yaitu ketauhidan, kesetaraan,dn kemanusiaan. Tidak heran hari raya kurban menjadi misi kerasulan nabi2 Allah hingga baginda Nabi Muhammad Saw.

Hari raya kurban adalah salah satu peristiwa merawat ingatan pada sejarah spiritualitas dan kemanusiaan. Ribuan ulasan mengenai hikmah dan pelajaran dari peristiwa monumental ini, biasanya bertitik pada kisah dan peristiwa Nabi Ibrahim dan Ismail sebagaimana telah dikisahkan dalam Alquran dan hadis nabi, serta di rangkai oleh para alim ulama hingga saat ini.

Ulasan ini saya coba ketengahkan bahwa peristiwa kurban adalah merawat ingatan bukan hanya pada kisah nabiyullah Ibrahim as. dan Ismail as. tetapi juga pada dua kisah perempuan sebagaimana dikisahkan dalam Alquran yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar. Oleh karenanya hari raya kurban juga menjadi monumental bagi sejarah kemanusiaan dan perempuan.

Hari raya kurban menjadi sangat penting bagi upaya perubahan mental dan akhlak bangsa Indonesia saat ini, karena momentum kurban menyatukan dua kolaborasi nilai pada aspek ketauhidan, kesetaraan kemanusiaan.

Aspek ketauhidan pertama adalah kecintaan terhadap Tuhan, sebagai perwujudan keyakinan pembebasan diri dari penghambaan selain Allah. Gambaran keberhalaan yang diwujudkan paling berat bukanlah ketika Ibrahim mengalahkan sifat keberhalaannya orang lain, tetapi justru keberhalaan apa yang ada di dalam diri manusia yang bisa berupa kecintaan pada selain Allah.

Kecintaannya ayah pada anak, kecintaan anak pada ayah, kecintaan suami pada isteri, dan kecintaan isteri pada suami adalah bentuk-bentuk berhala dalam diri manusia yang sangat sulit dikenali sehingga dapat menurunkannya pada kualitas iman yang paling rendah, yaitu syirik.

Pesan ketauhidan inilah yang mengantarkan daya spiritualisme tertinggi manusia pada Allah, yaitu la ilaha illallah. Oleh karenanya dalam kisah kurban ini, bukan saja nabi Ibrahim sebagai simbol, tetapi juga menggambarkan siti Hajar sebagai perempuan yang telah memelihara Nabi Ismail dalam kesendiriannya, dalam kelelahan, dan kesusahannya, telah berhasil melepaskan keberhalaan dalam dirinya.

Suami bukanlah berhala isteri, dn sebaliknya.Sehingga keberhalaan dalam diri manusia, bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan. Kualitas spritualisme tinggi inilah sebagai pesan yang digambarkan dalam kisah Ibrahim dan keluarganya.

Kurban sendiri berasal dari bahasa arab yaitu Qariba, yang berarti dekat (Munawir: 1984:1185), kualitas ruhani manusia inilah yang mungkin bisa digambarkan sebagai bentuk kedekatan pada sang khalik. Kualitas inilah yang dikenal dalam ilmu tasawuf sebagai at-tajalli, manusia yang memliki sifat-sifat ketuhanan, setelah melampaui at-takhalli mengosongkang hati dari sifat-sifat tercela, dan at-tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik).

Aspek kedua adalah kesetaraan. Keberhasilan manusia dalam melawan keberhalaan dalam dirinya, telah di digambarkan dalam keluarga Ibrahim dan Siti Hajar. Allah telah memberikan ganjaran berupa seekor domba, tentu saja domba ini tidak secara khusus untuk nabi Ibrahim dan nabi Ismail, tetapi untuk mereka (Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail), dan untuk umatnya (manusia).

Pada bentuk ini, spiritualisme manusia dileburkan bawa laki-laki, perempuan, akan mendapatkan ganjaran yang sama atas kualitas keimanannya. Penghargaan Tuhan pada kesalehan individu telah menghancurkan berhala kesombongan manusia atas ras, suku, golongan, bahasa dan jenis kelamin.

Keberhalaan individual ini yang kemudian melahirkan “keberhalaan sosial” seperti sifat-sifat zholim, suka menindas, penyiksaan, sewenang-wenang, diskriminasi pada manusia lainnya atas dasar kesombongan/ keunggulan ras, suku, golongan, jenis kelamin dan bahasa, dan lain-lain.

Struktur strata dan kelas ini di runtuhkan oleh sejarah Siti Hajar, sebagai seorang perempuan dengan latar belakang budak, dan berkulit berwarna, yang mampu mencapai kesalehan individu sebagaimana (dikisahkan dalam sirah nabawiyah Ibnu Hisyam). Sejarah siti Sarah menjadi simbol yang meruntuhkan feodalisme dan keunggulan suku yang diagungkan bangsa arab masa jahiliyah.

Siti Sarah adalah perempuan yang ditampilkan dalam Alquran untuk merawat ingatan bangsa Arab, tentang keberhalaan dalam diri sangat dekat menyebabkan keberhalaan sosial.

Oleh karena itu misi kerasulan tidak pernah lepas dari perlawanan terhadap keberhalaan sosial, melawan penguasa zalim seperti Nabi Musa pada Firaun, dan melindungi kelompok lemah dan dilemahkan (mustadh-a’fin).

Bentuk nyata keimanan pada tiada Tuhan selain Allah SWT., adalah kemanusian. karena keberhasilan atas menghancurkan berhala-berhala dalam diri manusia dan berhala sosial akan mewujudkan kemanusiaan, persudaraan, dan kesetaraan [Dr. Nurofiah:2016].

Tidak heran juga kemudian banyak ulasan yang menyatakan bahwa simbol berkurban adalah menghilangkan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisi yang tidak terkendali, menindas, untuk mencapai mendekatkan diri kepada sang Khalik, Allah SWT. ( Moh Rifa’I:1997)

Kesehajaan Siti Sarah sebagai perempuan yang mulia telah dikisahkan dalam Alquran melalui surat Hud dan al-Dzariyat. Sarah merupakan salah satu perempuan yang secara khusus diberitakan melakukan percakapan dengan malaikat,yang hanya dilakukan oleh seorang nabi, karena kualitas keimanannya.

Kualitas keimanan Sarah, digambarkan dalam beberapa kitab adalah perjuangannya melawan kesewenangan nafsu seorang raja yang digambarkan akan melakukan pelecehan seksual dan perkosaan terhadap dirinya. Ketinggian martabatnya sebagai perempuan termasuk terlibat dalam perjuangan bersama nabi Ibrahim melawan penguasa-penguasa yang zolim, sebagimana juga diperankan oleh Siti Khodijah pada Nabi Muhammad Saw.

Bagi kelompok yang menyandarkan/melegitimasikan kisah Ibrahim dan sarah pada sejarah poligami, secara konsistensi pesan yang disampakan adalah tetap pada kedaruratan, sebagaimana pengaturan yang juga disampaikan pada kenabian Nabi Muhhamad (tentu saja makalah ini tidak akan membahas secara rinci persoalan ini).

Kualitas keimanan seorang perempuan seperti siti sarah inilah yang meninggikan derajatnya mampu mencapai perempuan yang diberikan pengalaman khusus, sebagaimana pengalaman yang dialami oleh para nabi (bercakap dengan malaikat). Keberhasilan siti Sarah dalam meluruhkan keberhalaan dalam dirinya, mampu menjadikan dia sebagai perempuan yang teguh pada keimananya,pun mendapatkan ganjaran yang sama berupa ganjaran seroang anak, yaitu nabi Ishak.

Momentum peringatan hari raya kurban merupakan pesan kenabian yang sangat lama yang memiliki nilai kesejarahan begitu dekatnya ketauhidan dengan kemanusiaan, yang kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad Saw.

Pesan kenabian inilah yang tentu sangat penting kita syiarkan untuk menumbuhkan aspek ketauhidan bukan saja hanya sekedar simbol bahasa dan tulisan, tetapi membumi menjadi misi kemanusiaan sebagaimana dapat kita pelajari dalam kisah keluarga Ibrahim mewujudkan ketaqwaan, kesetaraan dan kemanusiaan. (Wallahu A’lam)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *