Kyai Said Aqil Siradj, Sudah Usai atau Naik Maqom?

Di perhelatan Muktamar NU yang ke-34 di Lampung yang pada tanggal 22-24 Desember 2021 ini, Kyai Said Aqil Siradj yang sudah menakhodai organisasi Islam terbesar selama dua periode tidak lagi terpilih. Para muktamirin lebih memilih adalah Kyai Yahya Staquf. Perolehan suara keduanya adalah Kyai Said 210 dan Kyai Yahya 337.

Penyebabnya bukan karena Kyai Said sudah tidak dicintai atau dihormati oleh nahdhiyin, tetapi ada faktor lain yang menyebabkan Kyai Said tidak terpilih lagi memimpin NU.

Pertama, faktor internal dalam organisasi. Walaupun sebagai organisasi yang memiliki AD/ART, NU tetap ‘dikendalikan’ oleh kyai-kyai sepuh yang penuh waskita. Gerak dan wajah organisasi pada dasarnya ditentukan oleh para kyai ini.

Hal ini dapat dilihat dari AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi) yang terpilih. Melalui politik yang penuh keadaban, para anggota AHWA saling menunjuk yang lebih layak memimpin. Akhirnya mereka sepakat memilih Kyai Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam.

Kenapa dikatakan menggunakan keadaban yang tinggi, karena dalam tradisi NU, Rais Aam sebagai pimpinan tertinggi tidak pernah diganti sampai meninggal, kecuali saat Muktamar yang lalu ketika Gus Mus (Kyai Musthofa Bisri) menolak meneruskan jabatannya sebagai plt (pelaksana tugas) Rais Aam karena Kyai Sahal Mahfud meninggal. Gus Mus menolak karena ibunya belum meridhoinya.

Lalu, apakah setelah Kyai Said tidak terpilih para kyai sepuh akan meninggalnya? Tampaknya para kyai sepuh mempunyai skenario lain untuk menempatkan atau memberikan peran pada Kyai Said.

Baca juga :  K.H. Raden Asnawi, Komite Hijaz, Majlis Khamis, dan Propagandis NU

Kedua, faktor eksternal. Yakni situasi politik, sosial, budaya, ekonomi dan perkembangan-perkembangan lainnya. Faktor eksternal membutuhkan energi baru dari NU supaya bisa sesuai dengan gerak zaman.

Situasi politik Indonesia satu dasawarsa belakang adalah pesatnya perkembangan ideologi transnasional, radikalisme dan terorisme. Sosok Kyai Said yang menguasai khazanah klasik Islam dan juga “kendel” (berani) adalah sosok yang tepat untuk menjaga NKRI dari gerakan-gerakan radikal tersebut.

Beberapa kali, Kyai Said menjadi sasaran langsung kebencian kelompok intoleran. Bahkan, tak jarang Kyai Said juga head to head menghadapi kelompok-kelompok tersebut.

Dengan argumentasi filosofis dan dalil yang kuat, Kyai Said mampu membantah argumentasi kelompok intoleran. Kyai Said juga menggerakkan organisasinya untuk berjuang bersama dalam menghadapi bahaya intoleransi. Tentu Kyai Said tidak berjuang sendirian. Banyak pihak yang mendukung.

Faktor eksternal lainnya pada masa Kyai Said adalah perkembangan teknologi yang demikian cepat. Kyai Said dalam hal ini agak keteteran. Lini-lini bisnis berbasis teknologi belum digarap secara baik, NU masih berkonsentrasi pada praktik ekonomi klasik, tentu dengan argumen pendukung terbesar NU adalah kalangan wong cilik.

Masalahnya adalah kenapa tidak menggerakkan wong cilik yang jumlahnya sangat banyak tersebut untuk beralih menjadi pemain-pemain utama adalah ekonomi digital?

Baca juga :  Ini Ucapan & Harapan Presiden dan Wakil Presiden RI pada Harlah NU ke-95

Dengan dua faktor tersebut, maka yang lebih sesuai memimpin NU ke depan adalah Kyai Yahya. Beliau lebih mudah dan energik.

Di bawah Kyai Yahya, NU akan melanjutkan pembangunan karakter keagamaan yang lebih bagus. Pertarungan dengan kaum intoleran, walaupun tidak pernah usai, tetapi secara masif dapat dikatakan telah usai dan watak keagamaan model NU yang menjadi pemenangnya. Ke depan adalah mengisi karakter NU dalam setiap sendi kehidupan sosial dan bernegara.

Dalam konteks ini yang lebih pas adalah Kyai Yahya. Di bawah kemudinya, gerak organisasi kemungkinan bukan lagi argumen kebenaran praktik beragama tetapi mengisi praktik beragama ala NU.

Kondisi lain pun mengisyaratkan bahwa sosok yang lebih pas adalah Kyai Yahya, terutama pada generasi milenial, terutama milenial santri. Kyai Yahya akan lebih mudah diterima kalangan anak-anak muda karena memiliki gaya komunikasi yang lebih renyah.

Lalu ke mana Kyai Said?

Pertama, beliau tentu akan kembali ke lingkungannya, seperti juga para pendahulunya yakni konsentrasi mengurus pesantren. Kini saatnya, beliau “bayar hutang” ke pesantrennya dan masyarakat. Setelah muktamar, Kyai Said akan lebih banyak khidmat di masyarakat yang mungkin selama beliau memimpin NU jarang ditemui.

Kyai Said tetap berapa dalam garda depan memperjuangkan wajah Islam yang sejuk dan menghalau kelompok-kelompok intoleran.

Baca juga :  Download Logo Nahdlatul Ulama PNG

Setelah itu, bisa jadi ketika negara membutuhkan maka para Kyai sepuh akan menempatkan Kyai Said sebagai Wapres dari Capres yang diusung partai politik. Jika memang demikian, harapan saya Kyai Said berpasangan dengan Ganjar Pranowo.

Kayaknya, Ganjar juga mau naik maqom (derajat/level), dari pasangan dengan gus, menjadi dengan kyai. Jika pasangan ini yang menang, maka Kyai Said akan lebih mudah melanjutkan kerja-kerja sosial keagamaan yang selama ini diupayakannya.

Bahkan, ia punya kekuatan yang lebih besar melalui politik dan di akar rumput ada Kyai Yahya yang bisa menjembatani ide-ide dan pemikiran Kyai Said.

Sumber Foto: NU Online

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.