Lautan Tak Mengekori Danau

Fase penting dalam hidup Jalaludin Rumi, adalah perjalanan di masa kecilnya dari Vaskhs (berada di Tajikistan, pada era modern) menuju Anatolia (Turki). Keluarganya memutuskan keluar dari kampung halaman sebab tekanan dari ekspansi Mongolia, penganut muslim kesulitan mengembangkan diri. Suatu saat dalam perjalanannya menuju Konya, Rumi kecil bertemu dengan Ibnu Arabi (Syaikh Akbar Muhyidin Ibn Arabi), seorang sufi yang sangat berpengaruh dari bagian barat, maestro kelahiran Andalusia Spanyol.

Lahir di negeri penuh tekanan, Rumi lekat dengan tradisi pendidikan Islam yang antara sufisme dan hukum Islam. Hidup keluarga Rumi tidak mudah, berada dalam kejaran rezim Timur Lenk (Mongolia), pasukan Mongolia terus menempatkan mereka sebagai pihak yang harus direpresi. Perjalanan Baha Valad itu sendiri bersama rombongan besar, hijrah menembus berbagai negeri dan budaya, melewati Iran menyusuri batas gerbang barat Persia, menuju Mekkah dengan menyisir dataran tinggi Iraq dan Suriah.

Pertemuan dua salik berbakat terjadi saat rombongan tersebut sampai di Suriah. Seorang kerabat Baha Valad ayah Rumi mempertemukan mereka di Damaskus. Terjadi di antara sela perjalanan panjang rombongan eksodus, melalui berbagai cerita getir mengitari Balkh (Afganistan) menuju Mekah, kemudian nanti berakhir di Turki. Ketika rombongan bapak dan anak  sudah terlihat dari jauh, sang Sufi Agung Ibnu Arabi sudah merasakan sesuatu yang besar, semakin jelas saat mendekat.

Baca juga :  Dzulhijjah di Mata Sufi

Beliau berseru “Maha Besar Allah! Lautan mengekor danau”. Dirinya begitu takjub melihat bakat Rumi, kharisma Baha Valad sebagai seorang mursyid redup dari pandangannya. Seakan air pada lautan yang takkan tertampung danau. Hal paling menonjol dari Rumi di antara semua sufi adalah pengalaman ruhaninya dituangkan dalam banyak sekali karya, terutama berbentuk puisi. Puisi pada Diwan dan Matsnawi menjadikan banyak orang bisa memahami dimensi ruhani Rumi dan bisa belajar tentang sufisme, lebih mudah dari maestro lainnya.

Cara pandang berbeda halnya dengan Rumi yang cukup bingung memahami Ibnu Arabi, sebagai intelektual atau ahli hikmah, karena manusia yang ditemui sejatinya dianggap orang yang pertama kali mengenalkan sufisme dengan memadukan teologi dengan transedensi. Pemaduan tersebut dalam perjalanan pembelajaran Rumi adalah hal baru, pondasi keilmuan dan jarak tidak memungkinkan keduanya saling memahami secara langsung.

Rumi mendapatkan getar keilahian melalui bakat yang diturunkan, ditunjang oleh kegemarannya sejak kecil melatih zikirnya melalui berbagai media. Saat rombongan orangtuanya bergerak meninggalkan kota kelahiran, zikirnya mengikuti gerakan dan ketukan-ketukan kaki kuda yang menarik gerbong kereta. Satu hal yang menjadi perdebatan, adalah tentang kota kelahiran pendiri tarekat Maulawiyah ini. Sejatinya beliau lahir di Vakhs, area lembah Vakhs di Tajikistan sekarang, namun dalam perjalanannya Baha Valad selalu menyatakan asalnya dari Balkh (Afganistan bagian Utara).

Baca juga :  Cara Guru Sufi Mengalahkan Godaan Iblis

Tamsil laut, lekat sekali dengan dunia keislaman. Luar samudera sering dijadikan untuk menggambarkan keluasan ilmu dan pengalaman. Abdul Hadi WM, seorang penyair sufistik saat ini, menyampaikan kalau lautan sering kali muncul dalam berbagai karya sufi. Setidaknya menurut beliau, sastrawan sufi Nusantara, Hamzah Al Fansuri sering memunculkan tamsil laut pada bait-bait puisinya. Pengaruh terhadap rangkaian syair-syairnya Hamzah Al Fansuri dari tiga sumber, yaitu kandungan Alquran, tradisi puisi Arab dan Persia, alam Nusantara dan sejarahnya yang dikelilingi lautan.

Seperti halnya tamsil burung, lautan adalah simbolisasi pengalaman ruhani para salik, jika di dalam satu narasi penyair menyebutkan perahu, maka perahu adalah tubuh ruhani sedangkan lautan adalah kenikmatan makrifat. Rumi mendapatkan bakat keruhanian sejak lahir, bahkan saat dirinya masih anak-anak beliau pernah melihat malaikat turun dari langit saat bermain dengan teman-temannya. Hanya dirinya yang melihat, malaikat itu melintas dan menghampirinya. Tidaklah mengherankan jika Ibnu Arabi melihat Rumi seperti lautan.

Menurutnya, Rumi tidak pantas menjadi pengikut Baha Valad, meskipun itu ayah dan pembimbing ruhaninya sejak dini, sang mursyid tak lebih dari danau. Lingkaran kharisma kemakrifatannya yang terbatas. Anaknya lebih berkembang dan luas, terus meningkat sampai dengan terbukanya katup keilahian memuncak saat bertemu dengan Syamsudin Tabriz, seorang pengelana, pandai besi yang mengenalkan  nuansa dan pengalaman baru pada Rumi.

Baca juga :  Hikmah dari Kisah Sufi Agung Syeikh Hasan Bashri dan Gadis Kecil

Sampai jumpa di penggalan berikutnya, pertemuan Jalaludin Rumi dengan Syamsudin Tabriz.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.