Apik dan Mendidik

Literasi di Kalangan Milenial; Kisah Cinderella atau Aladdin?

Saya pernah berbincang dengan saudara saya soal pembayaran digital. Agak sarkas, perbincangan kami lebih didominasi ejekan kepada saya yang dianggap tidak peka terhadap kemajuan teknologi.

Kehadiran teknologi dan modernitas memang menantang. Menjadi masyarakat digital seakan menjadi takdir. Bahkan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai jenjang universitas tak bisa mengelaknya.

Seorang teman guru pernah mengeluhkan anak didiknya yang banyak mengonsumsi informasi menyesatkan (baca: hoaks), sehingga setiap pelajaran yang disampaikannya di kelas selalu saja mendapatkan bantahan atau pertanyaan kritis, yang kadang informasi tersebut hanya menyampaikan satu sisi informasi.

Di lain kesempatan, teman saya, seorang ustazah, yang bercerita tentang beberapa teman sejawatnya (baca: ustazah pengabdian) yang ngebet sekali menikah. Setelah ditelusuri, informasi soal “keutamaan” nikah muda mereka dapatkan lewat salah satu platform media sosial bernama Youtube dan Instagram, yang mempropaganda mereka untuk menikah muda.

Tidak berhenti di sana, ditelusuri cukup semakin dalam dengan mengecek seluruh saluran transmisi pengetahuan di pondok pesantren, ditemukan data bahwa seluruh kitab pelajaran fikih yang berkaitan dengan nikah, informasi tersebut malah diturunkan hingga ke level paling minimum oleh pihak pesantren, karena mereka menginginkan para santriwati memiliki kemampuan keahlian terlebih dahulu, sebelum membahas persoalan pernikahan.

Akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa dua platform tersebut menjadi sumber informasi utama soal nikah muda, dan menjadi narasi utama yang paling digandrungi oleh para ustazah pengabdian tersebut.

Fakta ini cukup mengkhawatirkan teman saya sebab jika model transmisi pengetahuan dari media sosial makin diminati, dianggapnya justru malah akan mengancam model pengajian dan pengajaran yang selama ini telah ada.

Ketakutan atau kekhawatiran kedua teman saya di atas semuanya berpangkal pada model transmisi informasi, yang telah menjamur di kehidupan masyarakat digital sekarang. Dari kondisi ini, muncul dua pertanyaan yang sebenarnya sudah sering diutarakan.

Yaitu, apakah akan terjadi revolusi model transmisi pengetahuan? Dan bagaimana kita seharusnya menghadapi literasi digital yang tak bisa dihindari lagi?

Perbincangan Tak Pernah Habis

Media sosial dan Google dianggap “musuh abadi” dunia literasi umat manusia. Asumsi ini mungkin tidak sekali kita dengar, terutama di kalangan akademisi atau pihak yang beririsan dengan literasi.

Tapi, pernahkah kita merenung sejenak untuk melihat kehadiran dua hal tersebut lebih bijak. Sebab, dalam kehidupan manusia tidak pernah sepi dari perubahan model transmisi pengetahuan.

Misalnya, Socrates pernah mengeluh kehadiran tulisan yang dianggapnya akan membahayakan atau menurunkan kekuatan ingatan manusia. Pengetahuan masih bertahan hingga sekarang walau banyak revolusi tidak sekali, seperti Heilderberg.

Memang, tidak dipungkiri model transmisi pengetahuan dan literasi terus bergerak dan berubah sesuai dengan zaman. Media sosial dan Google adalah salah satu model yang tidak bisa lagi dihindari, oleh sebab itu kita semua harus beradaptasi di dalamnya.

Umur internet sebagai nyawa utama dari layanan jejaring sosial dan situs pencari memang masih terlalu tua, sehingga adaptasi umat manusia memang belum mencapai titik stabil. Namun, pergerakan internet dalam memperbaharui diri selalu dan terus bergerak dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sehingga, manusia sekarang bisa dikatakan cukup tertatih-tatih dalam beradaptasi pada kemajuan internet dalam hal literasi.

Permasalah di atas tidak lantas kita bermuram durja atau menghabiskan energi untuk menghujat keadaan, tapi yang harus dilakukan terus mencoba memahami kondisi literasi digital. Sebab, pergerakan yang sangat cepat ini tentu memaksa kita untuk bisa beradaptasi dengan sangat cepat dan terus bergerak, guna mengikuti model transmisi pengetahuan atau tradisi literasi di dunia maya.

Selain cerita di atas, sebenarnya ada banyak cerita soal perjumpaan dunia pendidikan atau tradisi literasi dengan dunia digital atau internet. Sekarang mulai bermunculan di laman Youtube, materi-materi kuliah yang disampaikan dan dibuat oleh mahasiswa setelah mendapat arahan dari dosen pengampu mata kuliah tersebut, atau ada juga dosen yang mengarahkan mahasiswanya membuat esai atau opini tentang materi yang ditetapkan.

Dunia akademik bisa dengan mudah mengakses jurnal-jurnal dan buku yang beredar dan melimpah di Google adalah kemudahan dari kehadiran internet. Namun, di sisi dunia akademik dan pendidikan juga masih dihantui plagiasi yang dianggap sedang mewabah di kalangan anak muda (baca: Mahasiswa atau Siswa). Kekhawatiran ini terus mendapatkan legitimasi dengan beberapa kali mahasiswa kedapatan melakukan plagiasi.

Literasi di masa kapanpun hingga sekarang memang terus berkembang menyesuaikan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, perubahan memang sudah takdir yang tak terhindarkan. Dinamika zaman memang menuntut penghuninya terus berinovasi dalam menghadapi tantangan di depan.

Namun, harus disadari ada satu hal yang terus bertahan di setiap zaman, yang mana setiap pembaharu di masa itu selalu memilikinya yaitu nalar kritis.

Tom Nichols berbicara soal “Matinya Kepakaran”, padahal yang mati duluan sebelum kepakaran adalah nalar kritis dalam kehidupan manusia. Hal yang sama terjadi di kampus sekarang, nalar kritis ditinggalkan bukan karena peraturan atau sikap otoriter pihak pejabat kampus. Tapi ada banyak hal yang berkelindan menyebabkan kematian nalar kritis ini.

Adapun salah satu efek domino dari kematian nalar kritis adalah kemandegan suasana akademik yang sehat. Naik turunnya minat baca bukan masalah utama, sebab membaca tidak lagi membuka lembar kertas buku. Tapi menjadikan membaca menghasilkan sebuah konsruksi menalar dengan kritis, ini yang menjadi masalah kita semua.

Suasana ilmiah di kampus sekarang terjangkiti beberapa penyakit yang cukup akut yang menyebabkan nalar kritis di kampus bisa mati, di antaranya kurang baca, banyak baca tapi hanya untuk tugas kuliah, baca buku tapi hanya untuk menaikkan status mahasiswa saja, buka buku hanya untuk mengambil kata qoute yang bagus buat update status, dan masih banyak lagi.

Nalar kritis pernah disinggung oleh Hassan Hanafi bukan sebagai kritik kosong, tapi melalui penalaran yang ditekankan pada prinsip pemikiran bukan personal, jika cita-cita kita mencapai apa yang disebut dalam filsafat “Aufklarung”.

Jadi, membangun nalar kritis harus dimulai melihat transmisi pengetahuan tidak lagi sebagai proses terberi. Namun, harus diikuti dengan proses memahami dan dialog pemikiran yang sehat.

Memang Merlyna Lim dalam artikel “Many Clicks Little Sticks”, menjelaskan sebuah informasi yang diminati oleh pengunjung media sosial harus memiliki tiga prinsip. Yaitu, konten yang ringan.

Konten bisa semakin banyak dibaca dan mendapat atensi yang memiliki muatan yang ringan dalam arti tidak perlu banyak waktu untuk membaca dan tidak perlu pemikiran mendalam untuk memahaminya. Selain itu, informasi yang disajikan harus renyah dan selaras dengan keinginan publik mayoritas.Konten yang tampilkan bersifat ringkas, namun tetap menjaga aspek sensasi.

Konten apapun termasuk soal ilmu pengetahuan masih tidak bisa terlepas dari tiga prinsip tersebut. Jadi, walau informasi atau pengetahuan yang disampaikan sangat menarik dan diperlukan, tapi jika tidak dikemas dengan tiga prinsip di atas maka cenderung hanya akan menjadi tumpukan data saja di alam maya.

Anak muda memang terdepan dalam revolusi pengetahuan ini, baik sebagai subjek atau objek, sehingga peran anak muda memang harus membekali diri dengan baik termasuk dengan nalar kritis.

Revolusi pengetahuan ini memungkin sekali akan memunculkan model-model transmisi pengetahuan baru, yang di antaranya sudah kita lihat, bagai perdebatan yang tak pernah habis. Model boleh saja berubah tapi unsur penting pengetahuan yaitu kebermanfaatan bagi masyarakat harus tetap ada.

Jika hal tersebut hilang, maka ilmu pengetahuan akan benar-benar menjadi hewan buruan yang hanya diburu saat lapar atau hanya untuk kesenangan belaka. Ilmu akhirnya hanya jadi penanda perubahan status, kenikmatan saat mendapat gelar, atau hanya untuk merayu seseorang yang dilirik.

Oleh sebab itu, menjaga pengetahuan tetap pada rel kemanfaatan pada masyarakat adalah tugas kita bersama. agar nasib pengetahuan atau literasi biar tidak terjebak seperti gambaran pada dua cerita mitos, Cinderella atau Aladdin.

Yaitu, hanya menjadi atribut pribadi yang berakhir saat memperoleh kemewahan ekonomi, atau akan menjadi “jin” yang membantu saat kuliah saja.
Fatahallahu alaihi futuh al-arifin

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *