Logika Mantiq dan Nalar Fallacy

mantiq

Judul Buku      : Mantiq; Pengantar Sejarah dan Mazhab

Penulis             : Aziz Anwar Fachrudin

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Pertama, Mei 2021

Tebal Buku     : 222 Halaman

Semua ulama sepakat bahwa Al-Quran mutlak benar. Namun, apakah pemahaman ulama terhadap Al-Quran mutlak kebenarannya? Tentu tidak. Manusia adalah tempat lupa dan salah.

Oleh karenanya, Tuhan telah membekali manusia dengan akal sehat agar mampu ‘mendekati’ pemahaman yang benar. Sebab kebenaran hanya milik Tuhan semata.

Seturut pula, Tuhan telah mewajibkan pemeluknya untuk mengibarkan panji dakwah Islam ke setiap tempat di mana ia berada, yang berarti pula semua orang tanpa terkecuali, masuk ke dalam target dakwah. Yang agak menggelisahkan ialah ketika mendakwahi orang atheis.

Orang semacam itu tidak mempan jika dibacakan dalil. Malahan, ia akan bertanya balik dengan menuntut jawaban yang rasional dan logis. Biasanya, orang-orang seperti ini lahir dari pemikiran materialistik—tidak mempercayai sesuatu hal jika tidak ada bukti fisiknya.

Jika seorang Muslim tidak mampu menjawab pertanyaan dari seorang atheis, risikonya Islam akan dipandang rendah, dianggap sebagai agama yang tidak masuk akal dan berdasar takhayul semata.

Salah satu jalan yang dapat ditempuh dalam mendakwahi dan menjawab tantangan orang atheis ialah dengan mempelajari nalar logika secara benar. Mereka yang menggebu-gebu dengan apologi yang rasionalistik, akan setimpal dengan argumen yang rasional pula. Inilah yang menjadi maqashid al-‘ula-nya mantiq.

Baca juga :  Mau Nulis Biografi? Bergurulah Pada Sang Biograf Legendaris
Sejarah Mantiq

Jika flashback melihat sejarah Islam, sebagian besar dari apa yang disebut keilmuan Arab-Islam, tidak murni lahir dan orisinal atas prakarsa bangsa Arab sendiri. Penjajakan Islam yang meluas ke berbagai daerah menghasilkan perjumpaan dengan bangsa lain sehingga terjadilah asimilasi-akulturasi ilmu pengetahuan, termasuk mantiq.

Dalam kancah peradaban Islam, mantiq didefinisikan sebagai diskursus keilmuan yang mengkaji penalaran logika secara baik dan benar, termasuk pula dalam hal aqidah dan ibadah (Ushul Fiqh).

Kendati kali pertama muncul dengan tujuan untuk menjaga akidah umat Islam dari ketercampuran atau serangan kelompok lain, justru pematangan metodologi mantiq mengambil dari khazanah keilmuan Yunani kuno. Yang tentunya telah mengalami elaborasi dan filterisasi secara ketat sehingga khazanah pemikiran yang bertentangan dengan Islam termentakkan.

Misalnya silogisme, yang merupakan warisan dari filsafatnya Aristoteles. Silogisme ini, telah menjadi metodologi dasar dalam mantiq yang berupa cara menarik suatu kesimpulan secara deduktif dari premis-premis umum (mayor) dan khusus (minor). Contohnya, premis mayor; jika hujan, saya naik mobil. Premis minor; sekarang hujan. Maka, kesimpulan dari itu adalah saya naik mobil. 

Salah satu ulama Islam yang pakem dalam ilmu mantiq adalah Al-Ghazali. Ia telah mengarang kitab Mi’yarul Ilmi, yang secara khusus membahas logika-logika dasar dalam membuat suatu kesimpulan yang benar. Logika ini, secara universal berlaku dan diterima oleh akal sehat manusia.

Baca juga :  Hakikat Cinta dan Risalah Kesepian

Sebaliknya, jika ada orang yang tidak menerima nalar sehat seperti itu, barangkali ada yang bermasalah dengan akal sehatnya. Bahkan dalam kitabnya sendiri, dengan tegas Al-Ghazali mengatakan, “Bahwa siapa yang tidak menguasai mantiq, maka ilmunya tidak terpercaya.”

Penerapan Mantiq

Salah satu penerapan mantiq adalah untuk menjawab pertanyaan semacam ini, “Jika Tuhan Maha Kuasa, bisakah Tuhan menciptakan batu yang sangat besar, yang Tuhan sendiri tidak bisa mengangkatnya?”

Pertanyaan di atas, sejatinya adalah pertanyaan jebakan. Jika tidak hati-hati dalam menjawab, maka argumennya mudah dipatahkan dan bisa diputarbalikkan menjadi bumerang.

Dalam menjawabnya, kita harus menggunakan prinsip silogisme. Pertanyaan tersebut, sebenarnya mengandung dua premis yang berbeda. Pertama, menyatakan keperkasaan Tuhan. Kedua, menyatakan kelemahan Tuhan—sedangkan, Tuhan sendiri mustahil memiliki kelemahan.

Kedua premis ini saling bertentangan dan ketika digabung, akan menghasilkan pertanyaan yang cacat, sehingga tidak akan pernah menghasilkan jawaban yang benar. Untuk menyanggah pertanyaan tersebut, mestinya ditanya balik dengan pertanyaan semacam ini, “Bisakah Anda menggambar segitiga yang memiliki empat sisi?”

Selain hal di atas, mantiq juga berlaku dalam menjawab pertanyaan serupa. “Bila segala sesuatu ada karena diciptakan, dan alam semesta ini ada diciptakan Tuhan, maka siapa yang menciptakan Tuhan?”

Lagi-lagi, pertanyaan semacam itu bernada fallacy—cacat. Karena menuntut adanya sistem kausalitas yang tidak akan pernah putus. Padanannya, si A diciptakan oleh si B; si B diciptakan oleh si C; dan begitu seterusnya tanpa akhir. Maka, logika yang Islam gunakan ialah likulli al-hawadits ‘illah. Setiap yang bermula memiliki sebab—sedang, Tuhan sendiri adalah Dzat yang tidak bermula yang berarti tidak memiliki sebab.

Baca juga :  Download Buku Moderasi Beragama PDF

Jadi, Islam menempatkan Tuhan sebagai kausa prima (sebab utama). Oleh karenanya, hukum kausalitas akan berhenti dan terputus pada Tuhan. Sama halnya dengan angka satu. Angka satu tidak bisa terbentuk dari nol, namun, dari angka satu bisa membentuk angka-angka lain yang berjumlah tak terhingga, entah dengan cara penjumlahan, perkalian, pengurangan, atau pembagian.

Tuhan mustahil tercipta dari ketiadaan, namun, Tuhan-lah yang menjadi awal segala sesuatu. Sehingga segala sesuatu selain Tuhan, keberadaannya mutlak bergantung kepada-Nya. Inilah yang disebut kausa prima, yakni Dzat yang tidak memiliki awal atau akhir, serta tidak membutuhkan segala sesuatu yang menyebabkan ada-Nya ada.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *