Mahasiswa dan Budaya Literasi

Mahasiswa era milenial cenderung apatis dan tidak peduli dengan persoalan membaca. Buku tidak lagi menjadi kebutuhan dalam belajar. Bahkan identitas seorang terpelajar yang selalu dekat dengan dunia perbukuan sudah tidak lagi diperhatikan.

Tren hidup kemewahan yang kini menjadi perhatian penting seorang mahasiswa. Belanja baju ke mall dan nongkrong di kafe menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan. Apalagi saat diskon besar, mereka akan datang beramai-ramai untuk bersenang-senang memilih baju yang mereka suka.

Perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan masa sebelum kemerdekaan. Kita bisa melihat bagaimana perjuangan Tan Malaka saat dalam pembuangan. Tan Malaka lebih mementingkan buku yang dibawa dalam perjalanannya, dari pada baju.

Dalam peti yang dibawa, baju hanya beberapa lembar, yang lainnya dipenuhi dengan buku. meski di tengah perjalanan beberapa buku yang dibawanya dibuang, tapi tidak pernah menyurutkan usahanya dalam membawa ingatan-ingatan pengetahuan di perjalanan berikutnya.

Bukan hanya Tan Malaka, Mohammad Hatta pun rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku ia merasa bebas. Perjuangan para pendiri republik dalam memberikan teladan dalam berliterasi begitu haru dan penuh dengan tantangan.

Namun semua yang telah dilakukan seakan sia-sia melihat generasi milenial mulai meninggalkan buku dan memilih zona nyaman dengan hiburan dan kenikmatan duniawi di era kemajuan teknologi ini.

Baca juga :  Berliterasi Sejak Dini

Buku mulai tersingkirkan oleh pelbagai macam aplikasi game dan kemudahan akses informasi. Adanya gawai menggantikan buku yang biasanya sering dibawa oleh mahasiswa. Masa 1960-an angkatan Soe Hok Gie, buku tidak pernah lepas dari genggaman. Mahasiswa selalu membawa buku kemanapun mereka pergi. Dan akan membacanya di saat mereka ada waktu luang. Bahkan banyak yang meluangkan waktu untuk membaca buku.

Buku di masa lalu menjadi teman hidup bagi mahasiswa. Mereka seakan tidak bisa terpisahkan satu dengan yang lain.

Bahkan mereka rela tidak makan hanya untuk mendapatkan buku yang ingin dibacanya. Perjuangan untuk mendapatkan buku dan kebebasan membaca dirasakan mahasiswa era Orde Baru. Leila S Chudori menceritakan dalam buku Laut Bercerita tentang beberapa mahasiswa yang ditangkap ketika mendiskusikan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam dialog keluarga Biru Laut di Novel Laut Bercerita, dengan kekhawatiran orang tua Biru Laut karena mengetahui anaknya mendiskusikan buku terlarang. Ayahnya berujar dalam kepasrahan.

“Hati-hati, Mas. Bapak kan tetap mengikuti nasib para aktivis yang dipenjara hanya karena berdiskusi buku karya Pak Pram”.

Hingga ibunya menyahuti dengan mengusulkan untuk mendiskusikan buku yang lain, “Apa ndak bisa mendiskusikan buku-buku yang tidak terlarang? Kan masih banyak buku-buku yang lain.”

Baca juga :  Perempuan dan Buku

Dengan idealisme dan jiwa muda yang tengah membuncah untuk melakukan revolusi. Biru Laut tetap mendiskusikan buku-buku terlarang. Bahkan melakukan advokasi kepada rakyat yang haknya dirampas oleh pemerintah, yang mengantarkannya ke dalam penjara untuk mendapatkan hukuman yang maha kejam bagi seorang pemuda.

Pada akhirnya ia harus merenggang nyawa di dalam laut akibat membaca dan mendiskusikan buku. Dan perjuangan mahasiswa era Orde Baru tidak pernah sia-sia karena hari ini kita bisa mendapatkan kemerdekaan dalam berfikir dan belajar serta mendapatkan kebebasan membaca buku apapun dan mendiskusikannya tanpa takut diintai oleh aparat pemerintah.

Generasi milenial harus menyadari kesungguhan para mahasiswa dalam mempelajari setiap disiplin keilmuan. Sadar akan tugas mahasiswa sebagai kaum terpelajar dengan kembali rajin membaca buku, berdiskusi, dan menulis. Dan keluar dari zona nyaman untuk melihat luasnya pengetahuan.

Mahasiswa era milenial semestinya meninggalkan kebiasaan menghamburkan uang untuk mengikuti pergaulan, tetapi menyisihkan uang untuk membeli buku. Meninggalkan kebiasaan membuang waktu untuk kegiatan yang tidak penting dan mulai membaca buku.

Kita boleh bersenang-senang untuk menghibur diri dari sepi yang mencekam, tapi jangan berlebihan, kita harus bisa manajemen waktu supaya otak juga mendapatkan nutrisi pengetahuan bukan hanya kesenangan semata untuk menghibur diri tanpa kebermanfaatan.

Baca juga :  Modul Pendidikan Moderasi Beragama Indonesia
There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *