Majelis Tafsir Al-Qur’an dan Komitmen Kerukunan di Surakarta

Gerakan purifikasi merupakan bentuk perlawanan terhadap tradisi dan kepercayaan masyarakat yang koruptif dan menyimpang, serta seruannya untuk kembali pada ajaran yang murni. Majelis Tafsir Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk gerakan purifikasi keagamaan yang berupaya melakukan dakwah kepada masyarakat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan hadits serta menolak tradisi lokal berbau keagamaan.

MTA memiliki nuansa tersendiri bagi dakwah Islam di Indonesia, khusunya di Surakarta Solo. Ahmad Sukina menjadi aktor yang mengembangkan dakwah melalui media teknologi informasi berupa radio, TV, majalah, internet. Munculnya MTA dengan tafsirnya sendiri telah mewarnai dan menambah khasanah perdakwahan di kalangan umat Islam di Indonesia.

Majelis Tafsir Al-Qur’an, mengajak umat Islam agar kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah serta tidak mempraktikkan hal-hal yang dianggap mereka tidak ada dalam Al-Qur’an, dan tidak mempraktikkan tradisi yang berkembang di masyarakat. Tetapi, realita yang terjadi di masyarakat, hal tersebut justru mendapat tudingan bahwa MTA Surakarta dalam dakwahnya menebar kebencian kepada masyarakat yang berbeda pemahamannya dalam hal khilafiyah.

Dalam dakwahnya, MTA juga dinilai berusaha mengembalikan praktik keagamaan pada masa awal kenabian, namun metode dakwahnya membidahkan kelompok lain. seperti menganggap bidáh terhadap praktik-praktik di masyarakat seperti ziarah kubur, tahlilan, 40 hari, dll, sehingga pihak yang melaksanakan praktik tersebut merasa tersinggung dan terjadilah gesekan dengan pihak yang merasa terusik tersebut. Di Gresik, GP Anshor juga meminta agar MTA ditutup karena dakwahnya dianggap meresahkan masyarakat. Di Aceh, MTA juga ditolak masyarakat karena pengajian MTA berlainan dengan ajaran Islam pada umumnya.

Dari kontroversial penolakan dan penerimaan komunitas kelompok pengajian MTA ini, ternyata keberadaan MTA sampai hari ini masih eksis ditengah-tengah masyarakat Indonesia, terutama di Surakarta Solo. Bahkan, hingga hari ini tetap berlangsung pengajian di sana dan tidak menimbukan gejolak di lingkungan tersebut. Selain itu, MTA juga dinilai dapat diterima di kalangan elite politik hingga secara tak sengaja melahirkan faktor “perlindungan” bagi MTA sendiri. Hal tersebut dapat dilihat ketika Presiden Jokowi pada tanggal 15 Juli 2018, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Ponpes MTA di daerah Karanganyar. Selain itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga melakukan kunjungan ke Gedung Pusat MTA di Solo bersama Amien Rais.

Baca juga :  Merawat Perdamaian di Daerah Pasca Konflik Melalui Teknologi dan Informasi

Melihat keadaan seperti ini, ada hal yang perlu digali dan ditelusuri cara MTA melakukan hubungan sosial kemasyarakatan dan membangun kerukunan disana, di antara adanya penolakan terhadap MTA dibeberapa tempat lainnya. Oleh karena itu, Penelitian yang dilakukan oleh Reslawati ini bertujuan untuk memberikan jawaban mengenai cara-cara yang dilakukan oleh MTA dalam melakukan dakwah sehingga dapat mendorong terjalinnya harmonisasi kehidupan sosial keagamaan di Solo.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan melakukan proses penggalian data terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain. Peneliti juga melakukan visitasi ke lokasi MTA di Surakarta, Solo agar mendapatkan perkembangan terbaru mengenai MTA dalam berbagai aspek, terutama dalam hal menjalin serta membangun kerukunan dengan pihak lainnya di masyarakat. Selain itu, peneliti juga melakukan pengumpulan dokumen-dokumen tertulis, wawancara dengan berbagai narasumber, dan melakukan FGD.

Temuan Penelitian

MTA sejak dipimpin oleh Ahmad Sukinah mengalami perkembangan yang sangat pesat di berbagai bidang, terlihat dari jumlah jamaahnya yang sudah mencapai ribuan orang. MTA yang mulanya hanya tersebar di area Solo dan sekitarnya, kini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia bahkan ke luar negeri. Perkembangan yang masif ini dipengaruhi atas adanya keikhlasan, sukarela, soliditas, dan patuh pada ajaran yang disampaikan.

Baca juga :  Implementasi 5 Nilai Budaya Kerja di Lingkungan Kementerian Agama

Ajaran yang disampaikan MTA melalui dakwah, tidak hanya dilakukan secara luring, melainkan secara daring melalui media sosial mengingat banyaknya jamaah MTA yang tersebar di berbagai daerah. Meski demikian, terkadang muncul berbagai kontroversi atas jawaban khilafiyah yang dilontarkan oleh Ahmad Sukinah yang tidak sesuai dengan tradisi masyarakat yang sudah berlangsung turun temurun.

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh pemahaman MTA yang tidak mengikuti pemikiran dan pendapat empat imam mazhab dalam Islam, serta tidak sepaham dengan ijtimak ulama dan qiyas. Oleh karena itu, timbul ketidaksimpatian berbagai pihak pada dakwah MTA. Kendati demikian, masyarakat Solo tetap menghargai perbedaan penafsiran tersebut. Penerimaan atas perbedaan ini dilatarbelakangi karena Solo masih memegang teguh sikap dan adab keraton yang sangat lembut dan ramah.

Di sisi lain, MTA juga tidak sepenuhnya melarang masyarakat untuk meninggalkan tradisi turun temurun seperti merayakan 3, 7, dan 40 hari setelah wafat. Tetapi, larangan tersebut hanya untuk jamaahnya saja, bukan untuk masyarakat secara umum. Sama hal nya dengan tudingan-tudingan lain yang diarahkan pada MTA, selalu ditepis dengan melakukan klarifikasi di berbagai pertemuan serta melakukan aksi-aksi yang menjadikannya tetap eksis dan survive dalam meneruskan dakwahnya di tengah masyarakat. Diantaranya dengan tetap melakukan komunikasi dan menjalin hubungan dengan berbagai ormas keagamaan di Surakarta.

MTA juga melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dan pemerintah dalam berbagai kegiatan, telibat dalam berbagai kegiatan lintas agama, serta menyediakan fasilitas dari MTA untuk kegiatan yang dibutuhkan oleh pihak luar, seperti penggunaan gedung MTA untuk rapat. Secara tidak langsung, aksi-aksi tersebut dapat mendorong lahirnya kerukunan umat beragama di masyarakat dan pemerintah.

Baca juga :  Pesantren Ar-Risalah Sulap Kampung Santri Jadi Wisata Religi

Kesimpulan

MTA sebagai organisai keagamaan telah membuktikan bahwa gerakan purifikasi juga dapat melahirkan kerukunan antar umat beragama, hal tersebut dilatarbelakangi dengan sikap-sikap yang dapat mendorong terciptanya harmonisasi kerukunan, seperti tetap melakukan komunikasi, menjalin hubungan dengan masyarakat di berbagai komunitas, melakukan kerja sama dengan berbagai pihak dan pemerintah dalam berbagai kegiatan.

Poin utama yang dipegang oleh MTA yaitu, meski MTA tidak bermazhab kepada salah satu mazhab, namun tetap mengkaji ajarannya menggunakan kitab mazhab yang 4, namun MTA tidak melarang pihak lain untuk melaksanakan hal-hal yang menjadi tradisi di masyarakat, hanya mereka tidak melaksanakan pada jamaah mereka. (ANS)

 

Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian dari Reslawati yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2020.

Gambar ilustrasi: Masjid dan Gereja yang letaknya berdampingan di Solo (Viva)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.