Makna Hijrah Menurut KH Husein Muhammaad

IQRA.ID – Ada beberapa pandangan makna hijrah dalam Islam menurut para ulama. Salah satunya yaitu pendapat pengasuh pondok pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun Cirebon KH Husein Muhammad yang mengisahkan suatu ketika dirinya ditanyai oleh seorang tentang makna Hijrah.

Kiai Husein pun menjawab pertanyaaan santri itu, bahwa makna hijrah secara literal berasal dari kata “hajara”. Al Mu’jam al Wasith, sebuah kamus, menyebutkan “hajara” bermakna taraka min makan ila makan (ترك من مكان إلى مكان); meninggalkan satu tempat menuju ke tempat lain dalam arti fisik.

“Tetapi, ia (hijrah) juga berarti i’tazala (memisahkan diri) atau tabaa’ada (menjauhkan diri),” demikian Kiai Husein sampaikan melalui akun Facebook pribadinya pada Jumat (21/09).

Pendiri Fahmina Institute ini menerangkan, makna lain dari kosa kata hijrah adalah taraka wathanahu (ترك وطنه), dia meninggalkan tanah airnya. Dalam bahasa sekarang disebut “migrasi”.

Dikutip dari al-Raghib al Isfahani dalam kitab Mufradat Alfazh al Qur’an, bahwa kata “hajara” berarti:

مُفَارَقَةُ الْاِنْسَانِ غَيْرَهُ اِمَّا بِالْبَدَنِ اَوْ بِاللِّسَانِ اَوْ بِالقَلْبِ

(Seseorang meninggalkan orang lain baik secara fisik, ucapan atau hati).

“Ini menunjukkan bahwa hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekedar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat yang lain (migrasi),” terang KH Husein.

Ia menambahkan, makna hijrah juga berarti mendiamkan atau membiarkan. Al Isfahani, ahli bahasa Arab terkenal itu selanjutnya mengemukakan makna terminologis istilah tersebut. Hijrah adalah keluar dari rumah atau wilayah kafir (dar al kufr), sebuah terma yang bermakna suasana kezaliman, penuh penindasan dan kekacauan menuju rumah atau wilayah iman (dar al iman), yang bermakna suasana aman dan damai.

“Dari sini tampak jelas bahwa hijrah mengandung makna teologis, yakni sebuah sikap meninggalkan keyakinan yang mengingkari Tuhan Yang Maha Esa dan tindakan kezaliman, mengingkari kebenaran, menuju pada sikap mempercayai Tuhan Yang Maha Esa berikut seluruh misi agung-Nya dan penegakan keadilan dan kemanusiaan,” paparnya.

Hijrah dalam Al-Qur’an

Kiai Husein menjelaskan, makna hijrah yang demikian itu diambil dari sejumlah ayat dalam Al-Qur’an, di antara yaitu ayat-ayat berikut ini.

وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي اللّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi pasti Kami sediakan untuk mereka tempat yang baik di dunia.” (Q.S. al Nahl, 16: 41)

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا . لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (Q.S. al-Anfal 8: 74)

Dalam banyak pandangan, lanjut Kiai Husein, ayat-ayat tentang hijrah di atas dapat menunjuk pada makna-makna yang terkait dengan dimensi moralitas dan religiusitas. Mereka mengatakan bahwa hijrah berarti:

هجران الشهوة والاخلاق الذميمة و الخطايا

Hijrah artinya meninggalkan hasrat-hasrat yang rendah, moralitas yang buruk dan kekeliruan-kekeliruan (dosa-dosa)”. Dengan kata lain, hijrah itu menuju kepada kehidupan yang lebih religius dan bermoral mulia.

“Jadi, selama kau belum meninggalkan mencacimaki orang lain, memfitnah orang, menghina orang, merendahkan, memusuhi, berbohong dan sejenis itu semua, maka kau belum berhijrah,” tegas Kiai Husein menutup penjelasannya tentang makna hijrah. (M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *