Makna Iqra dan Qalam dalam Al-Qur’an [2]

Mengenai ini Al-Qur’an menyatakan:

الر. كتب انزلنه إليك لتخرج الناس من الظلمت الى النور، بإذن ربهم الى صراط العزيز الحميد

Aku turunkan kepadamu kitab suci ini, agar kau membebaskan manusia dari situasi “gelap” menuju “cahaya”.

Situasi gelap itu adalah kebodohan dan penindasan. Dunia bercahaya adalah dunia berpengetahuan dan keadilan. O Muhammadku. Lakukan segera transformasi kebudayaan dunia secara sistemik menuju pencerahan dan keadilan.

Bangun peradaban baru yang manusiawi. Bebaskan bumi manusia dari sistem perbudakan manusia atas manusia lain. Muliakan kaum perempuan. Ajaklah seluruh manusia menuju Tuhan bersama Tuhan. Cintailah mereka, sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.

Dalam konsep agama-agama langit dan etika spiritual, pengabdian kepada manusia untuk kemanusiaan, meminjam istilah Mulla Sadra, adalah “al-Safar min al-Khalaq ila al-Khalaq bi al-Haq” (proses perjalanan dari makhluk untuk makhluk bersama Tuhan).

Lalu apa pula dengan “al-Qalam” sebagaimana disebutkan dalam rangkaian wahyu pertama di atas: Tuhan mengajarkan manusia dengan Qalam (pena), dan dikemukakan pula dalam wahyu ke tiga: Demi pena dan apa yang mereka goreskan? Oh, kata-kata ini begitu indah.

Lihatlah, Tuhan bersumpah dengan pena. Betapa hebatnya pena sehingga Dia bersumpah dengannya. Ada apa dengannya gerangan?

Baca juga :  Wahyu dan Ruang Eksperimen

Para sufi besar sering mengungkapkan sebuah hadis: “Awwal Ma khalaqa Allah, al-Qalam.” Awal ciptaan Allah adalah pena, di samping hadis: “Awwalu Ma Khalaqa al-Aql” (yang pertama diciptakan Tuhan adalah akal).

Pena tentu bukan sekadar alat untuk menulis kata-kata atau melukis, melainkan mencatat dan menghimpun segala peristiwa kehidupan manusia masa lalu, kini, dan nanti, serta alam semesta. Dengan wahyu tersebut, Tuhan seakan-akan ingin mengatakan kepada semua manusia, melalui Nabi Muhammad Saw.: Hai manusia.

Catat segala peristiwa kehidupanmu. Catat transaksi-transaksi pentingmu. Tulis perjanjian damai dengan siapa pun. Abadikan gagasan dan karya-karya kecendekiaan dan intelektualmu melalui goresan tanganmu. Dan tulis sejarah bangsa-bangsa. Dan seterusnya. Begitulah kira-kira.

Seorang sastrawan sekaligus teolog besar Abu ‘Amr al-Jahizh menulis tentang buku dan pena:

القلم ابقى اثرا و اللسان اكثر هدرا

لو الكتاب لاختلن اخبر الماضين

وانقطع اثر الغائبين

وانما اللسان شاهد لك والقلام الغائب عنك

الكتاب يقرأ بكل مكان ويدرس في كل زمان

Jejak goresan pena lebih abadi

Suara lidah acap tak jelas

Andai tak ada buku

Tak lagi ada cerita masa lalu

Dan terputuslah jejak

Mereka yang telah pulang

Kata-kata hanyalah untuk yang hadir

Pena untuk yang tidak hadir

Buku dibaca di segala ruang

Dikaji di segala zaman.

Membaca dan menulis adalah titik awal dan instrumen fundamental bagi penciptaan Ilmu Pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban manusia. Melalui wahyu-wahyu pertama di atas, sangat jelas kiranya bahwa Islam bukan sekedar mengajarkan kepada manusia tentang keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan metafisika atau kehidupan akhirat, melainkan juga memiliki komitmen yang sangat jelas dan kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan membangun peradaban yang didasarkan atas nilai-nilai kemanusiaan.

Baca juga :  Mengenal Riffat Hassan, Feminis Muslim dari Pakistan

Catatan: Tulisan ini diambil dari intisari buku: “Merayakan Hari-Hari Indah bersama Nabi” karya KH. Husein Muhammad

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *