Makna Songkok Bajing di Madura

Songkok Madura

Pada masa awal pergerakan Nasional tahun 1908, para aktivis menggunakan blangkon dan kemeja khas Nusantara untuk menunjukkan sikap dan perlawanan terhadap feodalisme, termasuk cara berbahasa. Hal semacam ini dianggap lebih dekat terhadap kaum priyayi dan pribumi.

Salah satu tokoh penting dalam gerakan sama rasa dan sama rata adalah Tjokroaminoto dari Sarekat Islam. Ia kemudian mewariskan kepada  muridnya, Ir. Soekarno bapak founding father Indonesia.

Ir. Soekarno semasa hidupnya menggunakan penutup kepala sampai akhir hayatnya. Baik dalam rapat pemerintahan ataupun dalam kehidupan sehari-hari di luar kepentingan negara. Dari sinilah songkok dijadikan sebagai simbol perlawanan dan nasionalisme oleh masyarakat Indonesia. Sehingga songkok semakin akrab dengan kehidupan masyarakat baik di pedesaan maupun kota.

Apa Itu Songkok?

Songkok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2017), mempunyai makna tudung kepala untuk kaum pria (biasanya dibuat dari beledu). Sedangkan dalam masyarkat Madura songkok merupakan mahkota, keimanan, kekuatan dan kehormatan. Songkok sangat identik dengan simbol kesalehan dalam masyarakat.

Istilah songkok sendiri berasal dari bahasa Ingris yaitu skull cap terdiri dari dua kata, skull artinya batok kepala dan cap artinya topi. Jadi sederhananya skull cap adalah penutup kepala. Songkok juga seringkali disebut peci dan kopyah yang artinya sama-sama penutup kepala yang digunakan oleh laki-laki baik mudah ataupun dewasa.

Baca juga :  Estimasi Carok Madura

Bahkan Soegeng Toekio M (1980) mendefinisikan penutup kepala sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kapasitas diri, baik tentang profesi yang dijalani nilai keyakinan maupun representasi hidup. Dalam masyarakat Muslim, songkok menjadi pembeda dan tanda keimanan, meskipun tidak semua masyarakat Muslim yang memakai songkok setiap hari keimanannya bertambah, adakalanya malah sebaliknya.

Selain itu songkok juga merupakan simbol identitas adat dan kultur suatu daerah. Bisa kita lihat bagaimana masyarakat Madura menggunakan penutup kepala dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam upacara keagamaan dan adat. Songkok bagi komunitas Muslim Madura lebih dari sekedar simbol agama, ia dijadikan doktrin yang menentukan nasib baik dan buruknya masyarakat.

Kehidupan Bajing di Madura

Ketika mendengar kata “Madura” yang terlintas dipikiran orang luar adalah carok (duel satu lawan satu) diterkenal dengan keganasan dan kekerasannya. Biasanya carok diperagakan oleh laki-laki Madura yang istrinya diganggu dan diculik oleh laki-laki lain. Tetapi untuk saat ini carok sudah tidak ada. Dalam carok biasanya peran bajingan juga turut diperhitungkan. Karena bajingan dianggap sebagai laki-laki tangguh, tegas, pemberani dan tahu cara meneklukkan lawan.

Bajing yang dianggap sebagai orang yang jahat, kejam dan sering membuat onar dalam masyarakat Madura sering didiskriminasi oleh masyarakat. Ia kerapkali dijauhi dan tentu tidak diberikan tempat dalam bidang keagamaan. Yang mana masyarakat Madura menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial masyarakat. Agama berada di urutan pertama bagi masyarakat Madura.

Baca juga :  Madura Bukanlah Madura

Di sisi lain, bajing justru  menempatkan posisi kedua dalam startifikasi sosial setelah kiai. Bajing juga dihormati oleh masyarakat Madura. Kedekatan dengan sosok kiailah yang membawa pada posisi tersebut. Di samping itu kekuatan merangkul dan solidaritas tinggi sesama bajingan terjaga.

Sehingga ketika ada permasalahan di desa, ia tampil di depan untuk membela dan melawan pihak luar yang ingin mengganggu desanya. Prinsip “lebih baik putih tulang daripada putih mata” juga berlaku dalam dunia bajingan. Sikap ganas dan beraninya sering digunakan dalam kemaslahatan desa.

Kedekatan bajingan dan kiai menjadi hal menarik bila dilihat dari aspek sosio-kultural masyarakat Madura. Seperti yang ditulis oleh Kuntowijoyo dalam buku Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 (2002). Bahwa kiai yang identik dengan keahlian menyampaikan soal-soal agama, mereka juga meramal nasib, menyembuhkan orang sakit, dan mengajar olah kanuragan.

Dengan demikian sangat wajar bila seorang bajing akrab dengan sosok kiai desa, karena mereka ingin mendapatkan keberkahan ilmu dan pancaran hidup yang baik.

Stereotip jelek terhadap bajing bisa kita hilangkan dengan melihat karakter positif. Sifat-sifat positif bajing yang sering menonjolkan keberanian, kegagahan, kesetiaan, kerajinan, dan ketaatan pada perintah kiai. Salah satu contoh seorang bajing juga ikut merayakan hari raya Idul Fitri.

Baca juga :  Budaya Petik Laut dalam Perspektif Semiotik Masyarakat Madura

Jauh-jauh hari sebelum hari raya, seorang bajingan ikut menyiapkan pakaian baru, salah satunya songkok. Yang mana songkok simbol kesalehan dan ketaatan dalam konstruk masyarakat Madura.

Saat hari raya Idul Fitri tiba, seorang bajingan dengan songkok hitam ukuran tinggi sebelas akan ziarah ke atas pendahulunya dan dilanjut dengan silaturrahim pada sanak keluarga dekat ataupun jauh. Pantang bagi seorang bajing menutup pintu ruma. Ia akan menyiapkan berpuluh bungkus rokok, kopi dan tentu cerita-cerita unik pada teman dan kerabatnya.

Di sinilah kegagahan seorang bajing dalam kehidupan masyarakat Madura akan tampak. Ia seringkali hidup dengan kegagahan songkok di kepala, meskipun jarang melangkahkan kaki ke musalla dan masjid di desa. Bajing mempunyai jalan sendiri memaknai kesalehan agama.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *