Makna Sufistik di Balik I’rab Fi’il Mudhari

Dalam pembahasan ilmu Nahwu, telah diketahui bahwa kalimat fi’il (kata kerja) dibagi menjadi tiga. Yaitu madhi (kata kerja yang menunjukkan makna masa lampau), mudhari (sekarang/akan datang), dan amr (perintah). Jenis fiil yang kedua, yakni fiil mudhori, ternyata mempunyai keunikan.

Dalam hal i’rabnya, ia selalu dibaca rafa’ kecuali jika dimasuki huruf nasab (maka dibaca nasab) atau dimasuki huruf jazm (maka dibaca jazm). Di antara huruh-huruf nasab yang menasabkan fi’il mudhari adalah an (أن), lan (لن), kay (كي), idzan (إذن), dan masih banyak lagi. Adapun huruf-huruf yang menjazmkan fi’il mudhari adalah lam (لم), lamma (لما), alam (ألم), alamma (ألما), lam amr, dan masih banyak lagi.

Namun di balik teori nahwiyah tersebut, terdapat suatu makna sufistik di dalamnya. Imam Qusyairi dalam kitabnya yang berjudul “Nahwul Qulub” membuka rahasia di balik teori-teori nahwu tersebut.

Hanya Bergantung kepada Allah 

Ketika dibaca rafa, maka tanda i’rab fi’il mudhari adalah dhommah di mana ia merupakan harakat yang paling kuat. Dan apabila ia kemasukan huruf nasab atau jazm, maka harakatnya berubah menjadi harakat yang lebih lemah.

Teori nahwiyyah tersebut sangat relevan dengan kenyataan kehidupan manusia, di mana ketika seorang hamba menyendiri dari makhluk (dalam artian tidak bergantung kepada makhluk) dan hanya bergantung kepada Allah SWT, maka ia berada di dalam kondisi yang kuat. Karena memang laa haula walaa quwwata illa billah (tiada daya dan upaya melainkan dari Allah SWT).

Baca juga :  Sastra sebagai Wadah Pengalaman Sufistik

Namun apabila ia menggantungkan segalanya kepada makhluk (semua selain Allah SWT) dan menjalankan segala sesuatu bukan karena Allah SWT, maka sesungguhnya ia berada di dalam kondisi yang lemah (jauh dari Allah SWT).

Telah dituturkan juga sebelumnya bahwasannya fi’il mudhari dibaca nasab ketika kemasukan huruf nasab. Nasab sendiri memiliki arti “berdiri tegak”. Dalam artian, manusia jika membutuhkan sesuatu maka ia akan berdiri tegak (melemah) terhadap apa yang ia butuhkan.

Adapun fi’il mudhari dibaca jazm jika ia kemasukan huruf jazm. Jazm sendiri memiliki makna terputus. Dalam artian, manusia jika menggantungkan hidupnya kepada selain Allah dan melakukan sesuatu bukan karena Allah, maka ia terputus dari segala kenikmatan dari apa yang telah Allah berikan kepadanya.

Maka di sini (sebagai permisalan) orang yang hidup hanya dengan dan untuk Allah, maka dalam kondisi apa pun ia akan tetap kuat. Walaupun dalam kondisi sengsara dan menderita, ia akan tetap tenang dan kuat. Karena ia percaya bahwa Allahlah yang mengatur ini semua dan Allah pasti akan memberikan jalan yang terbaik.

Dalam hal ini sama halnya dengan fi’il mudhari. Kalau dia menyendiri (tidak bersama huruf nasab ataupun jazm), maka ia dii’rabi dengan harakat yang paling kuat. Yakni dhommah.

Baca juga :  Musik dan Tari Sufi untuk Kesehatan Mental

Amtsilati-Tashrifiyah-PDF-Copy

(Kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah, kitab yang mengulas jenis-jenis fi’il yang biasa dikaji di pesantren. Seumber: https://iqra.id/download-kitab-amtsilati-tashrifiyah-pdf-236062/)

Bila Manusia Bergantung kepada Selain Allah

Adapun jika manusia hidup bergantung kepada selain Allah dan hidup agar mendapat pengakuan dari makhluk (bukan untuk Allah), maka dalam kondisi apa pun, baik senang maupun susah ia akan selalu lemah. Hal yang sama juga dengan fiil mudhari apabila ia bersama (bergantung) dengan huruf nasab ataupun jazm, maka ia dii’robi dengan I’rob yang lemah, yakni fathah dan sukun.

Maka dari itu, hendaknya seorang hamba selalu mengantungkan harapannya kepada Allah dan melakukan sesuatu hanya karena Allah. Karena kalau segala sesuatu dikembalikan kepada Allah, maka dapat dipastikan semuanya akan baik-baik saja.

Allah SWT sendiri telah berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.”

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.