Malam-Malam Teduh

Di langit sepuluh malam kedua, Ramadhan

Bulan menggantung sumringah

Suara jangkrik saling menyahut

Kawanan kepik membaur

Melangitkan zikir

 

Para petani yang larut dalam pulas

Terbersit sedikit senyum puas

Sesore tadi di sawah

Giat memanen

 

Malam-malam teduh

Gema tadarus

Masih mengalun lirih

 

Pada selembar ingatan

Nun jauh

Di balik dinding-dinding sunyi Gua Hira

Islamicity.org

Tatkala dia

:Sang manusia agung

‘tak tahu baca-tulis’ itu, diseru:

 

“Bacalah…!”

Baca juga :  Ramadhan pun Berpuisi
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *