Mamah Dedeh dan Dakwah Tentang Perempuan

Mamah Dedeh dan Dakwah Tentang Perempuan

Mamah Dedeh dan Dakwah Tentang Perempuan. Berbicara tentang Mamah Dedeh, kita akan lantas teringat tentang sosoknya sebagai pendakwah perempuan. Mamah Dedeh lekat dengan jargonnya, “Mamah, curhat dong.” Kepopulerannya dengan jargonnya itu dimulai saat membawakan acara Mamah dan Aa’ di Indosiar sejak tahun 2007 hingga tahun 2019.

Di acara yang tayang selepas Subuh ini, Mamah dipasangkan dengan pembawa acara sekaligus komedian Indonesia, Abdel. Sejak saat itu, namanya semakin melejit.

Perempuan bernama asli Dede Rosidah ini semakin kerap diundang ceramah di mana-mana. Namanya juga sering terlihat mengisi beberapa acara pengajian di televisi. Wajahnya tak pernah berhenti menghiasi layar kaca pemirsanya. Jamaah pengajiannya semakin banyak, terbukti dengan adanya sistem antrean yang memanjang apabila ingin menonton langsung aksi beliau berdakwah di studio televisi.

Jika menyaksikan tayangan Mamah dan Aa’, para penontonnya didominasi oleh perempuan paruh baya yang tergabung dalam kelompok pengajian. Mereka kompak mengenakan seragam ciri khas kelompok tersebut. Mamah Dedeh dan Abdel menjadi pusat panggung, dikelilingi para jamaah dengan baju warna-warni, yang terkadang beberapa kelompok pengajian tak sengaja memakai warna senada.

Tentu saja ada yang alasan yang membuat kelompok pengajian tersebut rela menunggu giliran untuk bisa hadir langsung mendengarkan ceramah perempuan kelahiran 5 Agustus 1951. Saya sendiri ingat betul ketika dulu sebelum berangkat sekolah, selalu menyempatkan menonton acara Mamah dan Aa’. Saya tak ingin ketinggalan topik bahasan tiap harinya. Bahkan, saya tak beranjak sedikit pun ketika beliau sedang berceramah. Saya memilih untuk minum atau ke kamar kecil saat jeda pariwara.

Baca juga :  Reformasi Dakwah Moderat
Dakwah Mamah Dede dan Perwujudan Kiprah Perempuan

Menurut saya, isi ceramah yang disampaikan Mamah Dedeh, mudah sekali dicerna. Ia membawakannya dengan gaya yang khas. Berseloroh seolah-olah sedang berbincang dengan anak atau tetangganya sendiri. Sesekali melengking dengan nada tinggi, kesannya seperti marah. Namun, sama sekali tidak membuat kita takut untuk belajar agama.

Ia selalu blak-blakan dan realistis ketika memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan para jamaahnya. Ia juga mengajarkan kita tentang bagaimana menyikapi segala sesuatu menggunakan logika dan subjektif. Tentu ia tidak lupa mengaitkannya dengan dalil agama, baik itu ayat atau hadis.

Yang menarik lagi tentang Mamah Dedeh adalah ia membuktikan bahwa untuk menjadi sosok yang berpengaruh dalam bidang agama, tidak melulu harus dari pihak laki-laki.

Pasalnya, selama ini kita kerap disuguhi fakta begini: sebuah topik agama lebih pantas diajarkan oleh lelaki. Coba kita ingat-ingat kembali, berapa banyak pendakwah perempuan yang mendapat tempat di media massa kita? Mamah Dedeh menjadi salah satu ustazah yang punya nama besar, berperan kuat dan bertahan hingga belasan tahun.

Mamah Dedeh juga mematahkan stigma bahwa perempuan harus di rumah saja. Ia membuktikan, perempuan bisa berkiprah di luar ranah domestik dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Aksinya dalam menyiarkan topik keagamaan memberikan warna baru bagi pemahaman kita.

Baca juga :  Mengingat Pesan Perdamaian Walisongo

Karena kita jadi bisa memahami agama dari sudut pandang perempuan. Dengan kehadiran Mamah Dedeh, setidaknya ada angin segar tentang porsi perempuan dan agama Islam di media massa. Jadi kita tidak melulu disuguhi komodifikasi tentang tren jilbab dan kosmetik halal.

Mamah Dedeh juga hadir mendobrak konstruksi sosial tentang perempuan yang harus lemah lembut. Ia bahkan terang-terangan memperlihatkan bahwa perempuan boleh-boleh saja tertawa nyaring di depan umum.

Tidak harus malu-malu atau sembunyi-sembunyi jika memang ingin tertawa terpingkal-pingkal. Ia pun secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa perempuan juga boleh memperlihatkan wajahnya ke khalayak umum. Namun tetap santun dalam berbusana, sesuai syariat agama.

Yang tak kalah penting, Mamah Dedeh berhasil membawa isu perempuan menjadi lebih diketahui publik lewat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para jamaahnya. Jamaah bebas bercerita tentang permasalahan yang menimpanya atau kondisi yang tengah dialami lingkungan sekitarnya.

Lalu Mamah Dedeh mengangkat realitas nasib perempuan ke khalayak umum dan mengupasnya dalam sudut pandang perempuan. Dari dakwah yang dilakukannya, Mamah seolah ingin menegaskan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang bisa ditindas seenaknya. Mamah memiliki keberpihakan tentang KDRT merupakan hal yang tidak bisa ditoleransi lagi.

Baca juga :  Inilah 3 Syarat Dakwah Pesantren di Dunia Digital

Begitulah Mamah Dedeh, yang telah menyadarkan kita tentang pribadi yang apa-adanya tanpa dibuat-buat. Bahwa menjadi seorang pemuka agama yang disegani tidak membuatnya berjarak dengan realitas umat. Sehat terus ya, Mamah. Kami fansmu tak pernah absen untuk menyaksikan dakwahmu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *