Manfaat Buah-buahan Menurut Islam

manfaat buah-buahan menurut islam

Sudah menjadi rahasia umum, memakan buah-buahan memiliki manfaat yang banyak. Salah satunya menjadikan badan lebih sehat dan segar. Itulah sebabnya buah-buahan banyak diburu oleh manusia sejak dulu.

Namun, jangan sampai kita salah mengonsumsi buah-buahan. Sebab tubuh manusia memiliki “wadahnya” masing-masing. Dalam hal ini, Islam memiliki resep tentang khasiat buah-buahan yang dapat menyehatkan tubuh dan mengobati beberapa penyakit.

Resep ini ditulis oleh ulama kenamaan asal Damaskus, Suriah, yang dikenal dengan ahli tafsir, ahli hadits, ahli ilmu nahwu, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid. Dialah Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ulama yang lahir pada 4 Februari 1292 dan wafat pada 23 September 1350 M.

Salah satu kitab yang dikarang oleh Ibnu Qayyim adalah ath-Thibbu an-Nabawi, kitab yang berisi tentang tuntunan terlengkap metode dan resep pengobatan Nabi Muhammad SAW. Di antara yang dibahas dalam kitab ini adalah tentang khasiat beberapa macam buah-buahan menurut Islam.

Berikut beberapa macam khasiat buah-buahan menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah:

Semangka

Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw biasa memakan semangka dengan kurma matang. Nabi bersabda, “Panas kurma menetralkan dinginnya semangka.”

Banyak hadits yang menyinggung semangka, tapi tak satupun yang shahih, kecuali hadits di atas. Semangka hijau bersifat dingin, basah, dan manis. Ia berkhasiat sebagai pembersih perut dan usus.

Semangka lebih cepat dicerna daripada mentimun dan cepat bercampur dengan makanan lain yang ada dalam perut. Ia baik dimakan ketika udara panas, namun ketika udara dingin lebih baik memakannya dengan jahe untuk mengimbangi efek sampingnya. Buah itu sebaiknya dikonsumsi sebelum makan.

Baca juga :  Mukjizat Nabi Muhammad tentang Roti dan Anak Kambing

Jika tidak, dapat menyebabkan rasa mual. Sebagian dokter mengatakan bahwa jika semangka dikonsumsi sebelum makan dapat membersihkan perut dan menghilangkan penyakit.

Tamr/Kurma

Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang pada pagi hari memakan tujuh buah kurma `ajwa, tidak akan terkena racun atau sihir pada hari itu.”

Rasulullah biasa memakan kurma masak, kadang-kadang dicampur dengan keju atau roti. Tamr mempunyai sifat panas pada tingkatan kedua, dan terdapat dua pendapat mengenai sifat basah atau kering pada kurma.

Kurma masak memperkuat lever, merelaksasi usus, menambah produksi sperma jika dikonsumsi dengan cemara dan menyembuhkan radang tenggorokan. Bagi orang-orang yang tidak biasa memakan buah ini, misalnya penduduk di wilayah dingin, kurma masak menyebabkan penyumbatan, menyebabkan sakit gigi dan sakit kepala, kecuali jika kurma masak dimakan dengan almond dan opium.

Kurma masak sangat bergizi bagi tubuh karena esensinya panas dan basah. Jika dimakan saat perut kosong, kurma membantu mematikan cacing.

Meskipun panas, kurma masak memiliki kekuatan penangkal melawan cacing dengan membunuh atau mengurangi jumlahnya jika sering dimakan pada saat perut kosong.

Safarjal (Sejenis Jambu Biji)

Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya, sebuah hadits dari Isma`il bin Muhammad Al-Talhi dari Syu`aib bin Zubairi dari Talhah bin Ubaidillah. “Saya datang kepada Rasulullah Saw ketika beliau sedang memegang safarjal di tangannya. Beliau bersabda, “Makanlah hai Talhah, karena Safarjal dapat menenangkan jantung.”

Baca juga :  Wara’, Prioritas Muslim dalam Memilih Makanan Halal

An-Nasa`i meriwayatkan hadits ini menurut versi lain, “Aku datang kepada Rasulullah Saw yang pada saat itu sedang dikelilingi oleh para sahabatnya. Ketika itu beliau datang memegang safarjal. Aku duduk dan beliau melemparkan buah itu kepadaku sambil bersabda, “Makanlah hai Abu Dzar! Karena ia menguatkan jantung, memperbaiki nafas dan menghilangkan kesedihan.”

Buah Safarjal bersifat dingin dan kering, menyerap dan baik bagi perut. Safarjal manis bersifat dingin, kering dan agak ringan. Sedangkan Safarjal asam lebih dingin dan kering, serta lebih menggigit daripada safarjal manis.

Semua jenis safarjal menghilangkan dahaga, menghentikan muntah, menambah produksi urine dan memadatkan kotoran serta mengobati koreng pada usus, menghentikan pendarahan, diare dan mual. Safarjal mencegah naiknya materi gas jika dimakan setelah mengonsumsi makanan lain.

Mentimun

At-Tirmidzi dalam Sunan-nya meriwayatkan bahwa Abdullah bin Ja`far berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw memakan mentimun dengan kurma masak.” Mentimun bersifat dingin dan basah pada tingkatan kedua, serta meredam panas dalam perut.

Mentimun tidak cepat membusuk dan membantu menyembuhkan penyakit kandung kemih. Mentimun meredakan rasa pening, sedangkan bijinya melancarkan buang air kecil. Daun mentimun yang digunakan sebagai pembalut dapat mengatasi gigitan anjing.

Mentimun tidak mudah dicerna lambung, dingin, dan kadang-kadang berbahaya bagi perut. Karena itu, orang harus memakan mentimun dengan sesuatu yang dapat mengatasi unsur dingin dan basahnya sebagaimana Rasulullah melakukannya dengan memakannya bersama kurma masak.

Baca juga :  Viral Klepon Tidak Islami, Ini Kriteria Makanan Islami dalam Al-Qur'an

Makan mentimun dengan kismis atau madu membuatnya lebih ringan di perut.

Pisang

Allah SWT berfirman:

وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ

“…dan pohon pisang yang bertumpuk-tumpuk.” (QS. Al-Waqi`ah: 29)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa kata thalh dalam ayat di atas berarti pisang. Ada juga yang berpendapat bahwa thalh adalah sejenis pohon berduri yang masing-masing durinya berubah menjadi buah.

Karena bersisir-sisir, maka menyerupai pisang. Pendapat yang disebut terakhir itu tampaknya lebih tepat. Disebutnya kata pisang oleh para ulama salaf hanya untuk perumpamaan saja, bukan pengkhususan. Wallahu A`lam.

Pisang bersifat panas dan basah. Jenis pisang terbaik adalah pisang yang masak dan manis. Pisang membantu mengatasi gangguan di dada dan paru-paru, meredakan batuk dan mengobati luka ginjal serta kandung kencing, melancarkan buang air kecil.

Juga menambah produksi sperma, melembutkan otot perut dan membangkitkan gairah seksual. Pisang seharusnya dikonsumsi sebelum mengonsumsi makanan utama.

Sumber: Ath-Thibbu An-Nabawi/ Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah; penerjemah, Abu Firly-cet I – Yogyakarta: Diva Press, 2020

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *