Manuskrip Tarekat dari Abad ke-XVIII Milik Sultan Banten Arif Zainul Asyikin

Berikut ini adalah halaman yang berisi catatan kepemilikan manuskrip kitab yang berisi sejarah hidup (biografi atau manaqib) Syaikh Ahmad al-Rifâ’î, salah satu wali sufi besar dunia Islam yang hidup di abad ke-XII M (w. 578 H/ 1182 M).

Catatan kepemilikan menunjukkan jika pemilik manuskrip kitab tersebut adalah Sultan Abû al-Nashr Muhammad ‘Ârif Zain al-‘Âsyiqîn dari Kesultanan Banten (Sultan Arif Zainul Asyikin).

Manuskrip kitab “Biografi Syaikh Ahmad al-Rifâ’î” ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) di Jakarta dengan nomor kode (?). Teks kitab pada aslinya tidak memiliki judul. Kitab tersebut sendiri merupakan salah satu dari sekelompok teks kitab yang terkumpul dalam bundel naskah bernomor tersebut.

Dalam Sejarah Banten, disebutkan jika Sultan Arif Zainul Asyikin adalah sultan Banten ke-XII yang memerintah dalam rentang tahun 1753–1773 M dan bergelar “Pangeran Gusti”. Sultan Arif Zainul Asyikin merupakan putra dari sultan Banten ke-X, yaitu Sultan Muhammad Syifâ Zain al-‘Ârifîn (memerintah dalam rentang tahun 1733–1750 M).

Tertulis di sana dalam bahasa Arab:

ملكه من الله تعالى الخليفة من بعد الخليفة السلطان بن السلطان أبو النصر محمد عارف زين العاشقين القادري الرفاعي تلميذ سيدي الشريف موسى بن سيدي الشريف عبد الله القادري الرفاعي الحماوي دام الله في ملكه وعافيته والله بجمعنا في الدنيا والآخرة آمين 3 يا رب العالمين

(Dimilikinya manuskrip ini dari Allah Ta’ala, seorang khalifah tarekat setelah khalifah tarekat sebelumnya, seorang sultan anak dari seorang sultan, Abu al-Nashr Muhammad Arif Zain al-Asyiqin al-Qadiri al-Rifa’i [seorang yang menganut tarekat Qadiriah Rifa’iah], murid dari tuanku Syarif Musa putra tuanku Syarif Abdullah al-Qadiri al-Rifa’i al-Hamawi [yang berasal dari Hama, Suriah]. Semoga Allah mengekalkannya dalam kekuasaannya dan kesehatannya. Semoga Allah juga menyatukan kita bersama di dunia dan di akhirat. Amin 3X ya rabbal ‘alamin)

Baca juga :  Tasawuf dan Tarekat Virtual

Keberadaan catatan kepemilikan di atas tentu sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut sekaligus memberikan kita selintas kunci data dan informasi yang penting. Di antara kunci tersebut adalah:

Pertama, Sultan Banten Muhammad Arif Zainul Asyiqin adalah seorang ulama sufi pengamal tarekat, bahkan menjadi khalifah tarekat.

Kedua, tarekat yang menjadi pilihan sang Sultan adalah tarekat Qadiriah Rifa’iah. Tarekat Qadiriah dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H/ 1166 M), sementara Rifa’iah dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad al-Rifa’I (w. 578 H/ 1182 M) yang masih terbilang sebagai murid dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dua-duanya berasal dari Irak.

Ketiga, sang Sultan merupakan murid dari seorang ulama Timur Tengah asal Hama, Suriah, yang ditengarai menjadi mursyid tarekat Qadiriah Rifa’iah, yaitu al-Syarif Musa b. Abdullah al-Hamawi. Gelar al-Syarif yang melekat di depan nama sang guru menegaskan jika beliau adalah keturunan dari Rasulullah saw.

Keempat, terkait dinamika perkembangan tarekat sufi dan pemikiran agama Islam di dalam lingkungan Kesultanan Banten. Hal ini menunjukkan jika di lingkungan Kesultanan Banten, ilmu-ilmu keislaman berkembang dengan luar biasa pesat, di antaranya adalah tradisi ilmu tasawuf dan juga praktik tarekat.

Baca juga :  Girikusumo, Pusat Penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa

Setidaknya, terdapat empat aliran utama tarekat yang berkembang di dalam lingkungan Kesultanan Banten tersebut, yaitu: Pertama, tarekat Khalwatiah yang dibawa oleh Syaikh Yusuf Makassar (w. 1699) dan dianut oleh murid sekaligus mertuanya, yaitu Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa, m. 1651–1683 M). Kedua, tarekat Qadiriah Rifa’iah yang dianut oleh Sultan Muhammad Arif Zainul Asyikin (m. 1753-1773). Keempat, tarekat Syaththariah yang dikembangkan oleh Syaikh Abdullah b. Abdul Qahhar al-Bantani, yang juga hidup di masa pemerintahan Sultan Muhammad Arif Zainul Asyikin. Keempat, tarekat Qadiriah Naqsyabandiah yang dikembangkan oleh Syaikh Abdul Karim Banten al-Makki, ulama Banten yang berkarir di Makkah pada abad ke-XIX dan menjadi khalifah Syaikh Ahmad Khatib Sambas (w. 1875), inisiator tarekat Qadiriah Naqsyabandiah.

Posisi Sultan Muhammad Arif Zainul Asyikin sebagai khalifah tarekat Qadiriah Rifa’iah juga disebutkan oleh Syaikh Abdullah b. Abdul Qahhar al-Bantani yang hidup sezaman dalam kitab karangannya, “Fath al-Mulûk li Yashil ilâ Malik al-Mulûk ‘alâ Qâ’idah Ahl al-Sulûk” (manuskrip kitab ini juga tersimpan di PNRI Jakarta). Syaikh Abdullah b. Abdul Qahhar menulis:

سلطان أبو النصر محمد عارف زين العاشقين السلطان بن السلطان المرحوم أبو الفتح شفاء زين العارفين خليفة الله تعالى في أرضه خليفة القادري والرفاعي وغيرهما قدس الله أسرارهم

(Sultan Abu al-Nashr Muhammad Arif Zainul Asyikin, seorang sultan anak seorang sultan, al-Marhum Abu al-Fath Syifa Zainul Arifin, seorang wakil Allah di muka bumi, seorang khalifah tarekat Qadiriah Rifa’iah dan selain keduanya. Semoga Allah mensucikan rahasia mereka semua)

Baca juga :  Sanad Dalail Khairat di Nusantara

* * *

Kembali ke perihal manuskrip “Biografi Syaikh Ahmad al-Rifâ’î” milik Sultan Abu al-Nashr Muhammad Arif Zainul Asyikin dari Banten yang kita perbincangkan ini.

Setelah dilakukan penelitian dan perbandingan antar teks (al-tanâsh), ternyata teks kitab manuskrip ini berasal dari kitab “al-Thabaqât al-Kubrâ” karangan Syaikh ‘Abd al-Wahhâb al-Sya’rânî, sufi besar asal Mesir yang hidup di abad ke-XVI (w. 973 H/ 1565 M).

Teks dalam manuskrip milik sang sultan Banten sama persis dengan teks pada kitab “al-Thabaqât al-Kubrâ” karya al-Sya’rânî. Dalam kitab “al-Thabaqât al-Kubrâ” karya al-Sya’rânî versi suntingan Dr. Ahmad ‘Abd al-Rahîm al-Sâ’ih dan Dr. Taufîq ‘Alî Wahbah yang kemudian dicetak oleh Maktabah al-Tsaqâfah al-Dîniyyah (Kairo, tahun 2005), biografi tersebut termuat dalam volume I, biografi (thabaqât) ke-262, halaman 250–257. Tertulis di halaman pertama manuskrip (dan di halaman 250 kitab “al-Thabaqât al-Kubrâ” karya al-Sya’rânî):

ومنهم الشيخ أحمد بن أبي الحسن الرفاعي رضي الله تعالى عنه. منسوب الى بني رفاعة قبيلة من العرب وسكن أم عبيدة بأرض البطائح الى أن مات بها رحمه الله تعالى. وكانت انتهت اليه الرياسة في علوم الطريق وشرح أحوال القوم وكشف مشكلات منازلاتهم وبه عرف الأمر بتربية المريدين بالبطائح

Wallahu A’lam

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *