Masa Depan Islam di Tangan Ibnu Rusyd

Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd adalah seorang filosof kenamaan yang lahir di Cordoba pada 520 H/1126 M dan meninggal di Maroko pada 595 H/1198 M, orang Barat menyebutnya sebagai Avverois.

Ia mempunyai garis keturunan fuqaha kenamaan di Spanyol, menerima pendidikan yang cukup lengkap dalam bidang teologi, hukum, pengobatan, matematika, astronomi, dan filsafat. Sebagai komentator Aristoteles yang paling ulung, ia mulai kariernya pada masa awal pemerintahan al-Muwahhidin (al-Mohad) dengan khalifah Abu Ya’qub Yusuf.

Puncak kariernya ketika menjadi Qadi dan dokter bagi sang khalifah pada 578/ 1182. Namun, berbagai pandangan fiosofisnya dipermasalahkan oleh para ahli hukum. Kemudian ia dicopot dari jabatannya dan karya-karyanya dibakar serta mendapat kecaman dari para agamawan dan masyarakat.

Walaupun demikian, ia tetaplah Ibn Rusyd yang tetap memegang prinsip keintelektual tidak akan goyah oleh kecaman dari siapa pun demi sebuah kebenaran.

Kemunculannya dalam panggung sejarah disebabkan oleh pilihannya untuk memisahkan diri dari sejarah filsafat Avicennianisme “ketimuran” yang dipilih oleh Ibn sina sendiri, dan selanjutnya sebagian diadopsi oleh al-Ghazali, dan sebagain lagi diadopsi oleh Suhrawardi al-Maqtul.

Ia menganggap bahwa tradisi yang dibawa oleh mereka yang bersifat sufisme bukan orisinalitas Islam melainkan ajaran itu adalah impor dari Persia bukan lagi ajaran Arab yang khas dan Arab sangat menjaga orisinaltias Islam.

Ibn Rusyd tidak hanya memutuskan diri dari semangat Avicennian dan gnostik. Istilah sufism itu bukan ajaran yang diperintahkan dalam Islam dan tidak terdapat di dalam hadis. Nabi sendiri tidak pernah menjadi mistikus melainkan beliau hidup secara normal.

Baca juga :  Ibnu Khaldun, Filsuf Muslim Pertama dalam Pemikiran Sosiologi

Adapun norma-norma yang menjadi dasar bagi Islam pada masa Nabi tidak sejalan dengan doktrin “kegelapan” atau esoterisme, tetapi sejalan dengan realisme secara rasional. Seperti yang kita ketahui wacana Alquran adalah wacana nalar, bukan wacana gnostitisme atau iluminasionisme.

Wacana yang dibangun oleh sebagian pemikir muslim pra Ibn Rusyd yang menyebabkan Islam mengalami kemunduran intelektual. Ini disebabkan adanya kolaborasi pemikiran dan khayalan antara dunia metafisik (al-gayb) dengan cara menganalogikannya pada dunia empirik (asy-syahid). Dengan demikian, mereka telah melakukan distorsi realitas, dan merusak aktivitas nalar sekaligus (Abed al-Jabiri, 2003).

Hal ini yang tidak disukai oleh Ibn Rusyd, seharusnya ajaran Islam dijaga orisinalitasnya bukan malah mencampuradukan sesuai keinginan tanpa memikirkan akibat masa yang akan datang.

Ibn Rusyd tidak hanya membatasi diri dari pada “pemutusan” semata. Ia juga menawarkan kemungkinan mengenai sebuah “semangat melanjutkan” (spirit to carry on). Pemutusan diri hanya dapat dilakukan dan terjadi dengan melanjutkan sebuah spirit baru yang memungkinkan untuk menghapus spirit lama. “Semangat baru” yang diusung Ibn Rusyd yakni sejauh yang terkait antara filsafat dan agama harus disemaikan kembali, agar dapat mengukuhkan kembali sebuah dialog antara tradisi kita dengan pemikiran universal kontemporer.

Baca juga :  Ibn Al-Banna Al-Marrokushi: Matematikawan Maroko di Era Keemasan Islam

Ibn Rusyd mengajarkan sebuah paham keagamaan yang tidak hadir kecuali dari data agama itu sendiri, dan paham kefilsafatan yang hanya didasarkan pada prinsip dan tujuan filsafat. Metode ini dapat digunakan untuk membangkitkan filsafat dan agama itu sendiri.

Untuk kesekian kalinya, kita meminjam proses ini dari Ibn Rusyd, untuk mengidentifikasi sebuah pengandaian hubungan kita denga tradisi, dan hubungan kita dengan pemikiran universal kontemporer yang hadir kepada kita, sebagaiimana yang dikemukakan filsafat Yunani kepada Ibn Rusyd.

“Semangat Baru” yang digaungkan oleh Ibn Rusyd ternyata diabaiakan oleh pemikir-pemikir muslim kenamaan Timur Islam, terkecuali Ibn Khaldun. Ternyata semangat ini justru tumbuh subur di kawasan Barat (Eropa) seperti Italia dan Prancis. Konsep ini menandai fajar rasionalisme dan humanisme pertama yang telah disebarkan kalangan Rennaisance Italia, namun memuncak pada rasionalisme matematis Rene Descartes yang umumnya dianggap sebagai bapak filsafat modern.

Banyak pemikir-pemikir Eropa yang menjadi mahaguru Avverois terdepan pada abad ke-14 seperti Marsilisu, Urbano of Bologna, paul of Venice, Mickhel Savanora, Gietano of Tien, Pietro Pompanazzi dan masih banyak lagi. Pompanazzi menjadi cendekiawan pertama yang menggemparkan publik karena penafsirannya atas Aristoteles dengan Ibn Rusyd dalam upaya mendukung Alexander of Aprodicias. Dengan begitu bisa dikatakan Pompanazzi sebagai garis terdepan Avverois pada abad ke-14.

Baca juga :  Sekularisasi pada Sains-Filsafat serta Ruang Sakral Agama

Seperti Ibn Rusyd, Pompanazzi mengasingkan agama sebagai munri domian praktis yang mengontrol massa dan memastikan stabilitas sosial. Baginya doktrin keagamaan mengandung suatu ukuran kebenaran tertentu sepanjang dapat menunjang tujuan pragmatis membujuk massa untuk berindak dalam persesuain dengan keputusan-keputusan yang berasal dari doktrin-doktrin itu dengan menggiring hidupnya pada kebaikan moral (Majid Fakhry, 2008).

Dengan menggunakan metode yang dicanangkan oleh Ibn Rusyd Eropa kini menguasai dunia dan lari begitu cepat meninggalkan para pesaingnya, sedangkan Timur Islam dengan ajaran sufism (gnostik) yang diajarkan oleh al-Ghazali dan teman-temannya mengalami kemunduran dan kegelapan bahkan sampai sekarang peradaban Timur Islam tidak bisa sejajar dengan Eropa bahkan melewatinya saja kesulitan.

Maka, bagi Timur Islam belajarlah dengan sejarah, belajarlah dengan Ibn Rusyd, kembalikan Ibn Rusyd dalam rumahnya agar Islam berada dalam panggung kejayaan lagi.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *