Masjid sebagai Pusat Pendidikan Moderasi Beragama

Moderasi beragama dapat menjadi model yang tepat dalam upaya pengembangan masjid yang ideal. Bahkan, model moderasi ini bisa menjadi ruh yang sangat penting sebagai landasan utama dalam upaya pengembangan tersebut.

Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan perilaku keagamaan jalan tengah yang mendorong umat beragama untuk bersikap adil dan berimbang dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ardl atau perawat bumi ini. Selain sebagai ide, moderasi beragama juga merupakan tuntunan praktik yang secara nyata dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid memiliki peran sentral dalam mewujudkan cita-cita Islam rahmatan lil-‘alamin, yang penuh kasih sayang bagi seluruh alam semesta. Masjid bukan hanya sebuah tempat untuk menjalankan ritual keagamaan semata, tapi juga memiliki peran yang jauh lebih besar.

Sejarah telah mencatat bagaimana masjid menjadi simbol dari kemajuan peradaban umat Islam. Masjid juga menjadi pusat dalam mendiseminasikan ide-ide toleransi, perdamaian, dan anti-kekerasan. Dengan dikeluarkannya beberapa peraturan tentang manajemen kegiatan di masjid menandakan urgensi masjid sebagai tempat pembinaan umat.

Namun demikian, terdapat kekhawatiran bahwa masjid justru menjadi tempat menyemai benih-benih perpecahan umat. Beberapa masjid bahkan tidak dimaksimalkan fungsinya sebagaimana mestinya. Misalnya, kurangnya literasi keagamaan yang terdapat dalam masjid tersebut, minimnya kajian tentang kebangsaan, toleransi, dan sebagainya. Bahkan, beberapa masjid terkadang dipolitisasi untuk kepentingan kelompok tertentu. Secara spesifik, beberapa tantangan yang ada di sekitar masjid masih sering ditemukan.

Baca juga :  Toleransi Beragama dalam Perspektif Berbagai Kelompok Keagamaan

Hal ini yang menjadi latar belakang bagi Tim Peneliti di Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Balitbang Diklat Kementerian Agama pada tahun 2020 yang telah berhasil mendapatkan temuan-temuan tentang peran masjid sebagai pusat pendidikan Moderasi Beragama.

Metode Penelitian

Penelitian ini diawali dengan kajian pustaka berupa pengumpulan dan pemilihan dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Selanjutnya, penggalian data ditempuh melalui wawancara mendalam dengan para narasumber melalui metode bola salju (snow ball).

Metode ini memungkinkan peneliti mendapatkan responden baru bermodalkan informasi dari narasumber yang telah diwawancarai. Pengamatan lapangan dari para peneliti, selama melakukan penelitian lapangan, juga diharapkan dapat membantu penelitian ini.

Adapun kota dan kabupaten yang diteliti yaitu, Kota Padang, Kodya Jakarta Timur, Depok, Sukabumi, Solo, Kota Medan, Kota Serang, Kota Tangerang Selatan, Kodya Jakarta Selatan, Kota Bogor, Kab Bogor, Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kab. Tegal, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Makassar.

Masjid yang diteliti berjumlah 40 masjid. Tipe masjid di sini dibedakan menjadi masjid milik atau setidaknya dekat dengan pemerintah dan masjid masyarakat (komplek perumahan dan perkampungan).

Penelitian ini tidak terlalu memperhatikan tipologi masjid berdasarkan status skala, seperti raya, agung, besar, jamik dan seterusnya. Pemilihan masjid berdasarkan ekspektasi ketersediaan data.

Hasil Penelitian

Secara spesifik, beberapa tantangan yang ada di sekitar masjid masih sering ditemukan. Tantangan tersebut di antaranya adalah literasi keagamaan yang disusun oleh takmir masjid cenderung minim membahas isu persatuan dan kebangsaan. Tema-tema kebangsaan seperti NKRI, Pancasila dan kebinekaan, toleransi, menghargai perbedaan, dan anti kekerasan, hanya menjadi tema-tema yang lepas, sesuai kreativitas penceramah.

Baca juga :  Benchmarking Preservasi Naskah Klasik di Berbagai Negara Berpenduduk Islam

Tantangan lainnya adalah pengisi ceramah di masjid umumnya didatangkan penceramah dari luar. Cara merekrut penceramah pun cenderung sama, yaitu membawanya ke dalam rapat pengurus dan membicarakannya dengan dewan penasihat masjid untuk meminta persetujuan. Mekanisme ini dikhawatirkan dapat meloloskan penceramah yang memiliki paham keagamaan yang kurang moderat.

Selanjutnya, buletin Jumat yang beredar dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu buletin yang bermuatan paham radikal dan non radikal. Penelitian ini dilakukan PPIM UIN Jakarta dengan bekerja sama dengan Political Literacy pada 2019. Buletin bermuatan paham radikal ini persebarannya ada yang berskala lokal bahkan nasional. Sementara itu, buletin bermuatan paham radikal berskala nasional hasil temuan riset sejauh ini yaitu Buletin Kaffah.

Namun, meskipun tantangan-tantangan di atas terlihat cukup mengkhawatirkan. Ada kabar baik yang juga patut disyukuri dari perkembangan masjid di Indonesia. Pada 2010, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) menemukan bahwa mayoritas pengurus masjid menerima konsep Islam rahmatan lil-’alamin, meski hanya sedikit yang mendiskusikannya di masjid. Ini tentunya menjadi angin segar dalam upaya menanamkan nilai-nilai moderasi di kalangan perangkat masjid, seperti takmir, imam, atau bahkan jamaah masjid pada umumnya.

Baca juga :  Potret Kerukunan Hidup Harmoni Umat Islam, Hindu, dan Budha di Pulau Lombok

Terakhir, hasil penelitian ini menemukan beberapa hal menarik. Beberapa masjid menunjukkan adanya fenomena dan isu keagamaan yang sangat berpotensi mengganggu berjalannya moderasi beragama. Isu yang menonjol di antaranya muncul diskursus ekstremisme keagamaan (radikalisme) melalui media massa, media sosial, organisasi, dan/atau lembaga keagamaan tertentu yang mempengaruhi paham dan sikap keagamaan masyarakat. Ada masjid yang kerap didatangi penceramah yang menyerang pemerintah dan kelompok lain.

Dengan temuan ini, makin menegaskan bahwa diperlukan sebuah cara taktis dalam upaya menyelesaikan masalah ini. Pendidikan moderasi beragama dapat menjadi salah satu solusi yang tepat. Namun, kontekstualisasinya di dalam masjid masih perlu dikaji terus. (au)

Baca hasil penelitian selengkapnya: Puslitbang Kemenag

Gambar Ilustrasi: Tribunnews

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *