Mau Menjadi Penulis? Ayo Nulis!

Judul Buku      : Cara Menuang Air Teko ke Dalam Gelas

Penulis             : Encep Abdullah

Penerbit           : Langit Arbitter

Cetakan            : I, Maret 2019

Tebal                 : xii + 126 halaman

ISBN                 : 978-602-53953-5-2

 

“Cara terbaik menjadi penulis adalah menulis”.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Encep Abdullah dalam buku motivasi tentang menulis ini, bahwa “cara terbaik menjadi penulis adalah menulis”. Terkait teori tentang menulis bisa dipelajari sambil jalan. Yang terpenting adalah terus berlatih menulis hingga akhirnya mampu menghasilkan karya tulis yang bagus dan bisa dinikmati oleh para pembaca dari berbagai kalangan.

Menulis adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. Siapa pun orangnya (mulai dari pejabat, guru, mahasiswa, petani, tukang ojek, bahkan ibu rumah tangga) bisa menjadi penulis. Selain itu, profesi penulis juga tak ada batasan usia. Artinya, selama kita masih diberi kesehatan dan umur panjang, kita masih bisa terus menulis.

Mengapa setiap orang perlu menulis? Karena setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda dan bisa dijadikan sebagai bahan tulisan yang dapat menginspirasi orang lain. Tentu sangat disayangkan bila pengalaman hidup yang kita alami hanya sekadar terlisankan saja. Mestinya juga dituliskan agar bisa menjadi renungan sekaligus pembelajaran hidup yang bermanfaat bagi para pembaca (halaman 18).

Baca juga :  Literasi Agama: Melahirkan Toleransi, Menekan Fanatisme

Bagaimana agar seseorang tertarik menekuni dunia kepenulisan?

Pertanyaan ini mungkin terbetik di benak sebagian orang. Caranya mudah, yakni dengan menyukai kegiatan membaca. Ketika seseorang memiliki hobi atau kegemaran membaca buku, majalah, dan berbagai media cetak, maka lambat laun ia akan merasa tertarik untuk menulis. Buku bacaan memang terbukti sangat ampuh untuk menumbuhkan minat menulis kepada para pembaca.

Seorang penulis sejati dapat ditandai dari seberapa tinggi minatnya terhadap buku-buku bacaan. Benar apa kata Encep Abdullah dalam buku ini, bahwa setiap penulis yang baik memiliki hasrat membaca yang tinggi. Membaca juga tak melulu hanya persoalan dengan buku.

Melihat segala tanda-tanda dalam hidup juga termasuk bagian dari membaca. Membaca adalah bagian dari renungan terhadap persoalan hidup. Dengan kata lain, membaca artinya memikirkan kehidupan, memikirkan kematian, dan memikirkan Tuhan.

Bagi sebagian orang, menulis dijadikan sebagai profesi yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Namun, hal terpenting yang harus dipahami bersama bahwa menulis itu tak melulu soal uang dan kreativitas. Melainkan ada hal inti yang lebih penting, yakni sebagai penumpahan segala emosi yang terjadi dalam hidup (halaman 51).

Menulis memang bukanlah perkara yang mudah. Tapi bukan berarti hal yang sulit bila kita selalu berusaha mencoba dan terus mencobanya. Penulis besar yang telah melahirkan karya-karya besar dan best seller saya yakin pasti pernah merasakan masa-masa sulit saat mulai menulis. Tapi mereka pantang menyerah hingga akhirnya karya-karyanya berhasil dimuat berbagai media dan terbit dalam bentuk buku.

Baca juga :  Berliterasi Sejak Dini

Ada sebuah kata-kata bijak yang bisa memotivasi kita agar jangan putus asa dalam menulis. Kata seorang filsuf, Lao Tse, seorang pelari yang telah menempuh jarak berkilo-kilo meter, tentu bermula dari langkahnya yang pertama. Seandainya pelari iti tidak melangkahkan kaki untuk yang pertama, jarak yang dituju tidak akan pernah sampai. Begitu juga dengan penulis, hal yang harus dilakukan adalah menulis dan merangkai kata atau kalimat pertama dengan menggabungkan huruf per huruf (halaman 107).

Buku tentang motivasi menulis yang disusun dengan gaya bahasa santai dan renyah ini layak diapresiasi dan dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan bagi siapa saja yang tengah menekuni dunia kepenulisan.

Cover Buku Cata Menuang Air Teko ke Dalam Gelas
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.