Maulid Nabi dan Kebangkitan Mental Umat Islam

Maulid Nabi dan Kebangkitan Mental Umat Islam

Sudah sangat masyhur di kalangan umat Islam bahwa bulan Rabiul Awal dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad. Konon hari lahir beliau apabila diurutkan bertepatan dengan tanggal 12 bulan tersebut.

Sofiyurrahman Al Mubarakfuri, dalam al-Rahiq al-Makhtum berpendapat bahwa Nabi lahir pada 9 Rabiul Awal. Meskipun cukup spekulatif, mengingat tahun kelahiran Nabi belum dibentuk kalender Hijriyah, tanggal 12 ini paling banyak diyakini, terutama oleh umat Islam Indonesia.

Menjelang persalinan, Ibunda Nabi Muhammad mendapat mimpi didatangi dua perempuan suci, Maryam dan Asiyah. Kedatangan mereka memberikan dorongan moral atas kelahiran manusia paling mulia sekaligus menyampaikan pesan Tuhan tentang nama Muhammad.

“Berilah ia nama Muhammad setelah kau melahirkannya”. Begitu kira-kira yang ditulis Jakfar al-Barzanji.

Pesan agung ini seolah memberikan pengajaran untuk umat bahwa Muhammad adalah sosok penting pilihan Tuhan yang kelak mengemban tugas besar, yakni menebar kasih sayang (Rahmat) dan membentuk moral masyarakat (akhlak) supaya menjadi manusia yang berarti. Konon sebelum ia lahir nama Muhammad belum pernah digunakan oleh siapa pun.

Misi Diutusnya Sang Nabi

Setidaknya ada dua misi yang diemban oleh Nabi Muhammad selain membawa ajaran agama. Kedua misi tersebut adalah menebar ajaran kasih sayang dan menyempurnakan akhlak. Misi pertama ditegaskan sendiri oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Ambiya ayat 107. Di sana Allah berfirman:

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِین

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Baca juga :  Menghadirkan 'Sosok' Rasulullah pada Momen Maulid Nabi

Dalam perspektif gramatikal Arab, kata “rahmah” dalam ayat di atas merupakan bentuk “Masdar” dari kata rahima-yarhamu-rahman wa rahmatan. Ia menempati posisi sebagai “hal” yang menggambarkan sebuah keadaan tertentu.

Konsekuensi makna yang muncul adalah “Nabi Muhammad bertugas memberi kasih sayang” sebagai wujud misi yang diemban dari Tuhan.

Masih dalam konteks gramatikal Arab, jika “masdar” menjadi “hal” maka makna yang muncul lebih kuat dari pada “isim fail” yang biasa menjadi “hal” dalam sebuah susunan kalimat. Maka kata kasih sayang yang dibawa oleh Nabi Muhammad tidak sekadar antarsesama manusia, akan tetapi kasih sayang yang nilainya paling tinggi yang turun dari Tuhan.

Bentuk kata seperti ini memiliki padanan dengan kata هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ  pada surat Al-Baqarah ayat 2. Dalam ayat tersebut petunjuk yang dibawa oleh Al Qur’an bukan sekadar petunjuk dari teks-teks biasa yang terkadang salah, tapi betul-betul petunjuk yang kuat yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Kasih Sayang Nabi

Dengan demikian kasih sayang yang disebarkan oleh Nabi Muhammad bukan kasih sayang biasa. Kita sering kali merasa dikasihi oleh orang-orang terdekat kita. Ayah yang selalu bercucuran keringat untuk mencari nafkah, dan ibu yang selalu memperhatikan kita misalnya.

Namun tidak jarang pula orang tua yang menyia-nyiakan anaknya. Itu menunjukkan kasih sayang (rahmat) manusia terbatas. Tidak seperti kasih sayang Allah melalui Nabi Muhammad.

Sebagai bentuk kasih sayangnya, Sang Nabi, menjelang ajal, masih saja mengkhawatirkan umatnya. Dengan nafas terengah-engah Sang Nabi berkata “Ummati… Ummati….” seolah tak rela meninggalkan umatnya begitu saja.

Baca juga :  Berdiri Saat Asyraqal
Membentuk Moral Umat Manusia

Misi kedua adalah membentuk moral umat manusia. Ini ditegaskan sendiri oleh Nabi Muhammad dalam hadits yang sangat populer.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk membentuk akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi)

Hadits ini memberi isyarat pada umat manusia bahwa nilai yang paling berharga dari manusia adalah moralnya. Kejujuran, kesungguhan, integritas, sopan santun, dan budi pekerti luhur menjadi pondasi peradaban dan kemajuan sebuah bangsa.

Degradasi moral sepeti saat ini mengajak untuk mengingat kembali misi agung Nabi Muhammad agar moral manusia kembali tertata. Sebab salah satu faktor kemunduran sebuah bangsa, menurut Syakib Arslan, adalah implementasi moral yang buruk.

Kedua misi tersebut saling berkaitan. Kasih sayang yang dibangun bermaksud menumbuhkan kehidupan yang saling peduli, menghormati dan menghargai. Tidak saling menghujat, merendahkan apalagi membenci atas nama apa pun. Hal itu dapat terwujud apabila moral umat Islam terbentuk dengan baik.

Momen Kebangkitan Mental

Salah satu kunci keberhasilan dakwah Nabi adalah pendekatan humanis dan manusiawi. Terbukti setelah kurang lebih 23 tahun, Islam dapat diterima di kalangan Arab dan menyebar ke seluruh dunia. Pendekatan humanis dengan menebar kasih sayang ini secara khusus disebut oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 159.

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”.

Baca juga :  Tradisi Maulid Nabi dalam Pandangan Alquran dan Hadis

Sebagaimana ayat tersebut, sikap yang diambil oleh Nabi Muhammad adalah lemah lembut, memaafkan, memintakan ampunan, dan melibatkan orang-orang yang pernah menjadi lawan dalam diskusi dalam satu urusan. Mental seperti ini yang seharusnya dimiliki oleh umat Islam Indonesia.

Sebab sebagaimana misi Nabi, Islam mengajarkan kasih sayang dan membentuk moral yang baik. Dengan demikian sikap angkuh dan sentimen terhadap orang lain atas nama apa pun, jauh dari nilai-nilai akhlak Nabi dan ajaran Islam. Dan momen maulid Nabi adalah momen untuk merefleksikan kasih sayang dan membentuk moral yang baik.

Referensi:

Al-Barzanji, Jakfar, Maulid al-Barzanji, Pakistan: Maktabah Al Madinah.

Arslan, Syakib, 2017, Limadza Taakhiro al-Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum, London: Al Hindawi.

Al-Mubarokfuri, Sofiyurrahman, 1976, Al-Rahiq al-Makhtum, India: Dar Ihya al-Turats.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *