Mbah Maimoen: Jangan Sampai Ada yang Tahu Kalau Saya Sakit!

“Mondok di mana, Kang?” 

“Di Sarang, Pak..”

“Oh, Santrinya Mbah Maimoen, ya..”

“Oh, Pak Kiai Maimoen yang sepuh itu, ya..”

Begitulah masyarakat mengenal sosok Mbah Maimoen sebagai ikon sekaligus tokoh sentral Pondok Sarang. Meskipun sebenarnya di Sarang banyak berdiri pondok pesantren, namun karena beliau adalah kiai paling sepuh, maka tidak heran jika masyarakat lebih mengenal Mbah Maimoen sebagai pengasuh Pondok Sarang.

Saya sendiri mengenal Mbah Maimoen jauh sebelum mondok di Sarang. Beberapa kali saya turut serta sowan Mbah Maimoen bersama Almarhum Bapak saya. Kebetulan Bapak adalah aktivis ngaji Ahadan Tafsir Jalalain yang diampu Mbah Maimoen. Selain itu, sowan rutinan adalah ketika Hari Raya Idul Fitri.

Ketika Sowan Mbah Maimoen

Bagi siapa saja yang pernah sowan langsung di ndalem Mbah Moen, pastilah merasakan kedekatan yang sama. Mbah Moen tidak pernah membedakan siapa yang sowan menghadap beliau. Semua tamu mendapat pelayanan yang sama. Beliau dengan sabar mendengarkan setiap permasalahan yang dihaturkan lalu beliau memberi nasehat dan solusi.

Adakalanya para tamu yang sedang sowan pun mendapat bonus banyak ilmu. Sering kali Mbah Moen menjelaskan beberapa faedah ilmu. Tamu menyimak dengan khidmat seraya memandang wajah teduh beliau.

Mbah Maimoen Manusia Super

Di usia Mbah Maimoen yang sudah sepuh, 90 tahun lebih, beliau masih aktif ngaji bersama santri. Melayani tamu yang terus berdatangan setiap harinya. Kemudian lanjut ngaji bersama santri. Dan begitu seterusnya.

“Mbah Maimoen itu manusia super. Usia sepuh tapi semangat ngajinya sedikitpun tak padam.” Begitulah komentar salah satu santri ngaji Ramadan kemarin.

Jamak kita ketahui, bahwa setiap bulan Ramadan tiba, seperti halnya tradisi pesantren di Nusantara, Mbah Maimoen juga masih aktif mbalagh (ngaji) kitab. Tidak tanggung-tanggung, hampir seharian penuh Mbah Moen membacakan kitab di hadapan ribuan santri dari berbagai pesantren.

Baca juga :  Tanggapan Gus Baha Soal Wacana Gelar Pahlawan Nasional untuk KH Maimoen Zubair

Selain fisik yang kuat membersamai santri, yang bikin saya kagum adalah lisan beliau yang masih fasih melafalkan huruf-huruf Arab dengan suara yang lantang dan jelas. Ketika membacakan kitab, Mbah Moen tidak memakai kaca mata sebagai alat bantu penglihatan. Sungguh anugerah yang luar biasa.

Jangan Sampai Mereka Tahu Kalau Aku Sakit

Suatu kesempatan ketika sowan Mbah Moen, saya beruntung mendapat kesempatan yang leluasa. Dengan posisi duduk setengah berbaring, leyeh-leyeh, Mbah Maiomen melayani tamu mulai setelah Maghrib sampai sekitar pukul sepuluh malam.

Aku iki bar tibo. Awakku isih loro kabeh. Tapi ojo nganti podo ngerti nak aku iki loro. Awak wis tuwo, lorone yo macem-macem. (Aku habis jatuh. Badanku masih sakit semua. Tapi jangan sampai mereka tahu kalau saya sedang sakit. Badan sudah tua, sakitnya ya  macam-macam)” Tutur Mbah Moen kepada beberapa tamu pada malam itu, setelah santri abdi ndalem mengulurkan obat untuk diminum beliau. Kemudian santri tersebut mengoleskan salep di tangan beliau yg masih memar.

Ya Allah. Sampai seperti itu usaha Mbah Moen untuk memuliakan tamu. Membahagiakan hati setiap orang yg sowan agar tidak mengecewakan dan mengkhawatirkan tamu, Mbah Moen berpenampilan sehat wal afiyat meskipun sebenarnya sedang menahan sakit. Sebaliknya, seringkali kita tidak peduli terhadap kondisi beliau.

Baca juga :  Penjelasan KH Maimoen Zubair tentang Keutamaan Bulan Rajab

Pelayan Ummat Telah Mangkat

Akhir bulan Juli kemarin, saya bertekad untuk sowan Mbah Moen. Ketika pulang dari pondok, saya menemukan kitab lawas milik Almarhum Bapak saya. Kitab tersebut berjudul Fuyudhoh Ar-Robbaniyyah Fi Intisabi Ila Thoriqah Naqsyabandiyyah karangan KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang.

Sayang, kitab tersebut tidak boleh dibaca (diamalkan) tanpa seijin Mbah Maimoen. Peringatan tersebut tertulis dengan bahasa Arab di sampul depan bagian dalam. Tekad sowan saya belum terlaksana setelah mendengar info dari abdi ndalem bahwa beliau tindakan haji. Maka saya berharap lebih untuk sowan kembali sekembalinya dari tanah suci, meminta ijin mengamalkan kitab tersebut, syukur-syukur Mbah Moen berkenan membaiat  saya. Ternyata Allah berkehendak lain, saya benar-benar tidak berkesempatan sowan kepada Mbah Maimoen. Setelah kabar duka itu datang.

Mendung duka menyelimuti setiap hati santri, hati para pecinta Mbah Maimoen setelah kabar wafatnya beliau beredar. Mbah Maimoen meninggal di RS. An-Noor Makkah, dini hari waktu setempat (6/8). Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Ma’la Makkah.  Tempat di mana Sayyidah Khodijah istri Nabi Muhammad dimakamkan. Sayyidah Khadijah yang selalu dirindukan Mbah Maimoen.

Do’a-do’a dilangitkan, kalimat thayyibah dizikirkan, air mata para pecinta tumpah mengalir sampai hati.

Baca juga :  Kisah Ketawaduan Mbah Maimoen kepada Ulama Maroko

Sebagai pecinta, kita pantas merasa kehilangan. Sebagai santri kita layak bersedih hati. Sosok panutan telah berpamitan. Lantas, mampukah kita melanjutkan teladan yang telah dicontohkan, mengamalkan ilmu yang telah dituturkan?

 

Sugeng kundur, Mbah Maimoen!

Tidak ada balasan yang layak, kecuali surga Allah. Amiin.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *